
☘️☘️☘️
"Arga. Pliss donk! Kasih tahu gue akun sosmed, Lo. Lumayan, kan. Nambah follower." Angel bergerak lincah mengikuti Arga sembari merapikan tatanan rambutnya.
"Nggak punya." Arga menjawab cepat dan tetap berjalan santai mengabaikan tatapan siswi-siswi yang berada di sisi koridor kelas.
"Nggak percaya, gue," tukas Angel tidak menyerah.
"Serah," jawab Arga.
"Ck. Susah bener sih deketin, Lo, Ga." Bertambah lebar dan cepat saja langkah Angel mengimbangi kaki jenjang Arga menapaki lantai keramik berwarna putih sepanjang koridor kelas.
"Ga. Lo itu dingin amat, sihh, sama cewek! Nggak ngehargain banget." Meskipun agak kesal tapi Angel tidak menyerah. Ia sudah begitu menyukai Arga, semenjak Arga memperkenalkan diri sebagai siswa baru, hampir dua bulan yang lalu.
Arga tidak menghiraukan Angel yang terus mengoceh sembari berjalan mengikutinya. Acuh dan merasa risih karena cewek tinggi bertubuh langsing dan selalu memakai bulu mata palsu itu terus mengekor dari pelataran parkir hingga ke ruang kelasnya.
Hingga hampir habis kesabarannya, Arga memutar badannya cepat dan menunjuk Angel agar berhenti di tempatnya. "Heh. Denger, ya. Hari ini ngue lagi nggak mau di ganggu, ngerti."
Angel menghentakkan kaki dan berjalan tidak rela menuju bangkunya. Semalam puluhan chat terkirim sia-sia pada Arga tanpa mendapat balasan, meskipun status masih online.
Tidak sekali ini saja Angel berusaha dekat dengan Arga. Namun, hingga saat ini, masih saja ia tidak mendapatkan respon baik. Tidak perduli seisi kelas menatapnya remeh. Angel tetap acuh seolah hal biasa. Cuitan teman-teman cewek yang lain pasti sedang membicarakannya. Namun, tidak ia hiraukan.
☘️
Bella, Ammy, Zaky, Arga, Miana dan Roy.
Enam siswa yang di sebutkan oleh pengumuman penting hasil seleksi untuk lomba OSN telah di putuskan pihak sekolah. Setelah melakukan test ketat berbagai mata pelajaran yang sudah menjadi ketentuan dari tingkat Nasional. Terpilihlah enam kandidat itu. Tentu membuat mereka selalu di gembleng dengan berbagai soal dan praktikum untuk menunjang persiapan lomba.
Masih seminggu lagi kegiatan itu, sehingga Miana harus pandai-pandai mengatur waktu antara belajar, bekerja dan istirahat. Tidak lupa ia memberitahukan pada papa perihal ini Tentu saja papa sangat senang. Namun, sedikit menyesal karena papa belum bisa pulang dalam waktu yang cukup lama.
"Jangan berkecil hati, Mia. Kamu anak hebat, anak kebanggaan papa. Papa, yakin, kamu bisa menjadi juara."
Begitu akhir kata dalam sambungan telepon dengan papa. Seperti mendapat suntikan semangat tiada kira bagi Miana, karena hal itu.
Mengatakan pada mama pun sudah ia lakukan. Namun, bukannya mendapat semangat, tapi kata yang keluar dari mulut mama sungguh di luar dugaan.
"Ya, bagus, deh. Dengan begitu, kamu jadi terkenal. Mendapat perhatian satu sekolah. Oh, yaaaaa, satu lagi. Jika masih hoki kamu. Dapat hadiah uang banyak, kan, ya? Uluh-uluh, kebanggaan keluarga, bener. Bisa menghasilkan uang sendiri. Begitu kan, maksud kamu?"
__ADS_1
"Ma, kok mama gitu ngomongnya?" sanggah Miana.
"Mama nggak seneng, Miana dapat ikut lomba OSN?" lanjut Miana.
"Lhoo, perkataan mama yang mana jika mama menunjukkan tidak senang? Jangan mengada-ada, ya, kamu!" Miranti mulai meradang. Sedikit tidak suka karena bukan Sisil yang mengikuti lomba, anak emas yang selalu di ratukan olehnya.
Miana memilih diam dan berlalu pergi dari hadapan mama. Tidak ingin bertambah lagi mendapatkan kata sindiran yang membuat dadanya menyimpan beban berat.
☘️
Entahlah, mungkin kebetulan saja. Pihak sekolah menempatkan Miana dan Arga pada satu mapel matematika. Padahal jika bertemu keduanya tidak lepas dari kata ribut seperti beberapa minggu yang lalu.
Pernah waktu itu Miana mendatangi khusus ke ruang guru yang bersangkutan dengan OSN, meminta untuk berganti mapel yang akan di gelutinya hingga hari H lomba. Namun, pihak sekolah sudah memikirkan dengan matang hingga tidak dapat di ganggu gugat.
"Sekolah sudah membagi mapel yang ada sesuai riwayat transkrip nilai kalian, Miana. Jadi maaf, ini sudah final. Oke. Jadi berusahalah dengan sebaiknya."
Miana hanya dapat mengangguk pasrah. Sebenarnya kenapa dengan dirinya yang ingin sekali menghindari Arga. Padahal ia tidak berbuat salah.
"Hm. Kenapa gue harus repot-repot, begini, sih. Menghindari Arga yang menyebalkan itu. Bukan gue banget."
Esoknya, Miana tidak belajar dalam kelas seperti biasanya. Semua kandidat peserta lomba, dididik di ruang perpustakaan. Tujuannya agar mereka yang menjadi wakil lomba mapel IPA, bisa langsung praktek di ruang laboratorium yang berdiri bersebalahan dengan ruang perpustakaan.
Begitu juga dengan Miana dan Arga, mereka juga tengah didampingi oleh satu guru favorit mapel Matematika. Mereka di hadapkan pada berlembar-lembar soal matematika untuk ia kerjakan.
Duduk secara terpisah hanya bersekat meja selebar satu meter, Miana dan Arga sungguh-sungguh berlatih mengasah pengerjaan soal-soal latihan.
Cukup lama mereka di sana. Sesekali mendongakkan wajah hanya untuk memperlihatkan jam dinding di sudut perpustakaan yang terus berputar.
Jika sedang berfikir, Miana selalu menggigit pangkal pensil. Hal itu sudah menjadi kebiasaan dari kecil. Jika dulu masih belajar di taman kanak-kanak pasti bekas gigitan itu begitu jelas.
Arga merasa ada yang kurang dari partner lomba yang tengah duduk di depannya. Tidak memperlihatkan sisi berisiknya, meskipun guru pembimbing sudah keluar ruangan. Arga melirik Miana melalui sudut matanya, terlihat diam meskipun gestur tubuh sesekali tegak seolah merasa tegang karena tengah bersungguh-sungguh pada soal latihan.
"Ehem." Arga sengaja berdehem untuk mencuri perhatian. Namun, mata tetap fokus pada lembaran soal.
Miana hanya menatap sekilas lalu kembali fokus lagi. Bersikap cuek saja menghindari ribut seperti biasa. Ia tidak mau jika kata-kata menyebalkan yang keluar dari mulut Arga.
Keadaan sedikit terurai saat guru pembimbing datang dan memeriksa hasil latihan soal mereka. Berbincang panjang lebar dan sedikit diskusi mengenai materi.
__ADS_1
"Baik, saya rasa sudah cukup. Kalian boleh kembali ke kelas ataupun pulang lebih awal dan dapat beristirahat di rumah. Besok kita belajar kembali di sini. Jangan banyak pikiran, fokus kalian hanya pada lomba ini. Bapak berharap banyak pada kalian."
"Baik, Pak," sahut mereka kompak.
Guru itu keluar ruangan di ikuti Miana dan Arga.
Backpack berwarna coklat sudah rapi di punggung Miana. Ia bergegas menuju parkiran sekolah untuk mengambil motor. Ia tidak akan pulang, melainkan langsung ke Toko. Ia sedikit terkejut karena Arga juga tengah berada di parkiran yang sama dengannya.
Setahu Miana, Arga terbiasa menggunakan mobil. Namun, ternyata kali ini berbeda. Arga tengah bersiap menggunakan jaket denim sobek-sobek dan bersiap mengenakan helm full face berdiri di samping motor sport berwarna hitam.
Tidak mau berlama-lama memerhatikan Arga, Miana lekas menarik tuas gas, keluar sekolah.
Sudut bibir Arga tersenyum lebar, tengah mendapati Miana tidak berkedip melihatnya. Beruntung kaca pada helmnya berwarba gelap, jadi tidak dapat terdeteksi dari luar. Ia pun gegas meninggalkan pelataran parkir.
Sedikit penasaran dengan tujuan Miana, ia mencari-cari kemana arah Miana meninggalkan sekolah. Cukup mudah ia menemukan Miana. Kecepatan yang tidak begitu cepat itu dapat terjangkau sepersekian detik.
Sepuluh menit berlalu, Arga terkejut, karena ini adalah arah menuju perumahannya. Rupanya terjawab sudah, Miana berbelok ke toko tempatnya bekerja. Ia sengaja mengurangi kecepatan dan berhenti di sisi jalan. Hanya untuk memastikan Miana masuk ke dalam toko.
Untuk apa? Arga mengetuk pelan kaca helmnya, mengutuk diri. Tidak habis fikir untuk apa ia menguntit Miana. "Huhhh. Kurang kerjaan banget."
Arga menggeleng pelan lalu kembali meneruskan perjalanan ke rumahnya. Tidak kurang dari lima ratus meter dari tempat Miana bekerja.
☘️
Arga terdiam di seberang jalan. Memerhatikan Miana tengah bersiap pulang di halaman minimarket. Ada satu teman perempuan yang tengah bersiap juga dengan motor masing-masing.
Tidak lama dua orang laki-laki muncul dari dalam toko dan melambaikan tangan pada dua orang yang diyakini adalah Miana salah satunya.
Angka pada jam digital yang melingkar pada pergelangan tangan kirinya tertera pukul 20.00 WIB. Arga Berfikir, kapan waktu Miana belajar. Padahal tinggal sehari lagi mereka menjadi perwakilan Sekolah SMAN 89. "Ternyata, iya-iya saja menuruti saran pembimbing. Tapi nggak ada buktinya," gumam Arga.
Perlahan, Arga mengikuti dalam jarak cukup aman agar tidak diketahui Miana. Membelah jalanan ibukota yang cukup ramai. Miana mengendarai motornya dengan kecepatan cukup. Membuat Arah cukup tenang. Tunggu. Kenapa lagi-lagi ia menguntit Miana? "Akhhh. Ada apa sih, dengan gue! Bisa-bisanya ngikutin dia lagi," rutuknya pada diri sendiri.
Namun, naluri tetap ia ikuti menapaki hampir sepuluh kilometer jalanan. Miana berbelok pada satu bangunan yang tidak begitu besar terdiri dua lantai. Terdapat tiga balkon di lantai atas yang menghadap ke arah jalan. "Di sini, rumahnya," gumam Arga.
Hingga dering telepon pada saku jaketnya bergetar. Menerima panggilan singkat lalu bergegas pulang. Sepanjang perjalanan Arga memerhatikan beberapa jalanan yang tidak pernah sepi itu cukup membuatnya lega. "Cukup berani juga, ya, dia."
☘️☘️☘️
__ADS_1
Ciee, ada yang nggak sadar rupanya 🤭🥱🥱🥱🥱