Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 86


__ADS_3

☘️


Satu minggu pertama, magang selesai. Selama itu Miana selalu pulang dan pergi ke perusahaan bersama Bian. Saat malam tiba, Miana kembali ke asrama dan mengerjakan pelaporan. Terkadang Miana harus membantu tugas Bian pula di rumahnya.


Perumahan elit yang tak begitu luas menjadi rumah tinggal Bian selama ia menempuh pendidikan di sini. Sedangkan rumah utamanya hanya di huni oleh Raya, sang adik dan beberapa asisten rumah tangga.


Gemericik air dari susunan batu alam yang berada di sisi dinding menjadi suara yang mendominasi kedua anak manusia yang tengah fokus berkutat dengan layar lipat di hadapan.


Senja mulai nampak, tapi Bian dan Miana terlihat belum menyudahi tugas-tugasnya.


"Gimana sih, kok masih selisih!" Bian bergumam dan beberapa kali meremas pangkal rambutnya. Mungkin untuk mengurai rasa kesal karena hasilnya tak juga bisa balance.


"Gimana dong!" Bian menoel siku Miana dengan sikunya.


"Bentar, Bi. Udah mau clear, nih." Ucapan Miana membuat Bian meraup wajahnya frustasi. Ia sandarkan dagunya pada meja. Dengan sabar menunggu Miana yang tengah menyelesaikan tugasnya sendiri.


Beberapa menit berlalu, akhirnya Miana selesai. Ia tak lantas lega, karena ia masih di sibukkan dengan tugas Bian.


Bian sendiri sudah tak ada di tempatnya. Entah kemana perginya. Begitu kembali ia sudah datang membawa dua steorofom berisi nasi goreng beserta perlengkapnya.


"Makan dulu. Gue nggak mau lihat Lo jadi makin kurus gitu."


"Body ideal gini, di bilang kurus," dengus Miana seraya membuka penutupnya dan lekas melahapnya. "Thanks, Bi. Tau aja, gue lagi lapar banget."


"Inilah Aksabian, calon suami perfect." Bian memegang dagunya dan Miana lekas melempar nya dengan kerupuk.


Setelah selesai makan, Bian kembali memeriksa tugasnya. "Kok belum selesai," protes Bian pada Miana yang justru tengah terkikik.


Miana bisa saja menyelesaikan sendiri. Tapi bukan itu tujuannya. Ia ingin Bian mengetahui prosesnya. Apalagi saat meminta persetujuan magang selanjutnya pada Pak Pram beberapa waktu lalu, ia mendapat pesan langsung untuk memberi dukungan serta motivasi pada Bian.


'Saya berbicara layaknya orang tua pada anaknya. Bukan sebagai atasan sekarang. Tolong, bantu saya agar Bian mau memberikan cinta dan tanggung jawabnya pada perusahaan ini nantinya. Dimulai dari pendidikannya sekarang. Saya berharap banyak sama kamu Miana. Seperti halnya Bian saat kalian sekolah menengah dulu. Kali ini, tolong ajak Bian untuk bersungguh-sungguh dengan kuliahnya.''


☘️


Minggu ini Miana menyempatkan untuk pulang. Sesuai keinginan Surya. Bapak-anak itu tengah berbincang di samping rumah. Dua cup kopi masih mengepulkan asap dengan beberapa potong brownies melengkapi isi meja tersebut.


Miana memandangi jajaran tanaman pucuk merah sudah begitu terlihat bedanya. Kaktus-kakus tumbuh subur bahkan ada beberapa yang mulai menampakkan bunganya. Tentu karena ART panggilan yang di sewa mama setiap harinya yang mengurusnya.


"Sudah sore, saya permisi pulang, Pak Surya, Mbak Miana." Wanita berusia empat puluhan itu pamit pulang setelah menyelesaikan pekerjaannya. Pekerja yang di sewa mama sejak Miana melanjutkan kuliah.


Surya dan Miana kembali berbincang. Dengan Miana yang sangat antusias menceritakan pengalaman magang serta suka dukanya menjadi penghuni asrama.


"Kamu masih punya uang saku?"


"Masih, kok, Pa. Ada simpanan beberapa. Tapi Miana minta maaf, Pa. Sekarang nggak bisa bantu papa bayar cicilan."

__ADS_1


"Kamu bicara apa. Ini sudah tanggung jawab Papa. Kamu hanya perlu belajar. Dengan prestasi yang kamu dapat. Itu sudah cukup membantu Papa.


Papa masih begitu menghawatirkannya. Itu sudah lebih dari cukup.


Miranti pergi arisan dengan teman-teman. Sementara Surya memanfaatkan waktu bersama Miana. Sisil pun sama, pergi hang out dari pukul 09.00 pagi.


"Sudah lama papa nggak pergi keluar sama kamu. Kita kemana, nih? Mumpung mama nggak ada."


Tak membuang kesempatan Miana menyetujui tawaran Surya.


☘️


Toko buku menjadi tujuannya saat ini. Surya mencarikan referensi buku-buku penunjang yang di butuhkan Miana.


The 4-hour workweek, Zero to One dan Magic of thinking big ,menjadi pilihan Miana atas saran papa. Papa membayar dan lekas mengajak Miana mencari tempat makan.


Dari outlet buku-buku. Miana dan Surya naik ke lantai atas untuk mencari food court.


Kebersamaan ini sangat langka. Khususnya untuk Miana. Jika bersama Miranti akan begitu mustahil. Maka, dalam diam Miana berhayal membayangkan jika ia tengah berada di antara Mama Sekar dan Papa.


"Kamu melamun," tegur Surya begitu melihat anak sulungnya menatapnya kosong. Sementara Miana tampak menggeleng di balik senyum yang di paksakan.


"Kamu ngelamunin, apa? Maaf ya! Selama ini, papa masih begitu banyak kekurangan memberikan apa yang seharusnya kamu dapat." Surya menunduk, terlihat sesal yang sangat jelas di sana. Seolah tahu apa yang sedang di pikirkan Miana.


"Pa..."


"Miana boleh tahu wajah mama, Pa!"


Sesaat Surya terdiam. Ia kembali menatap penuh wajah Miana yang berkaca-kaca.


"Pernah, Miana meminta foto mama pada Bi Num. Tapi, Bi Num bilang tak ada foto yang tersisa."


"Mama, mirip kamu, Miana."


Surya mulai menerawang. Menceritakan sosok ceriwis istri pertamanya yang tak lain adalah mama kandung Miana. Tak lupa, Surya sedikit menceritakan cinta segi empat yang pernah ia lalui di masa kuliah dulu.


"Jadi, mama jadi rebutan papa sama sahabat papa?" tanya Miana setelah Papa menjeda ceritanya.


"Dharma," lirih Surya saat melihat seorang yang ia kenali. Miana menoleh cepat pada arah pandang sang papa.


Seseorang di seberang sana, menjadi fokus perhatian Papa sampai papa berdiri. Namun, seorang di sana tak menyadarinya.


Miana yang mengenal siapa Dharma lekas mengejar seorang pria yang mendekati paruh baya itu.


"Pak Dharma," panggi Miana dan berhasil mengetikkan lelaki itu. Begitu lelaki itu berbalik dan mendapati Miana, ia lekas tersenyum lembut.

__ADS_1


"Miana, apa kabar?"


"Miana baik, Pak." Miana meraih uluran tangan Dharma setelah lelaki itu menyuruh temannya berlalu lebih dulu.


"Lama nggak ke rumah. Mentang-mentang Arga nggak ada di sana, jadi sekarang kamu juga nggak pernah main lagi. Ada Oma lho yang kadang nyeritain kamu."


Miana tersenyum mengingat Oma Sari. saat ia berkunjung ke sana, Oma selalu mengalihkan perhatiannya dengan mengajaknya mencoba resep baru. "Beberapa kali, Miana main ke rumah, Pak. Hanya saja Pak Dharma pasti sedang ke kantor." Miana nampak menyembunyikan raut sedih yang terbesit di sana. "Bagaimana kabar Arga, Pak?"


Dharma terlihat terkejut. "Kamu bercanda? Kamu tanya seperti itu seolah kamu tak pernah berkomunikasi sama Arga."


Miana menggeleng."Memang kenyataan seperti itu, Pak. Saya tak tahu, kenapa Arga menghindari saya."


Dharma terlihat tak mengerti. Saat ia akan bertanya lebih lanjut. Ia sudah di kagetkan dengan kehadiran seorang di belakang Miana.


"Surya,"


☘️


Beberapa hari sepulang kuliah, Miana hanya duduk bertemankan benda lipat di depannya. Sebulan ia telah menyelesaikan tugas magang pertamanya, ia kembali pada rutinitas di kampus. Nika pun sudah kembali dari luar kota. Teman sekamarnya itu sudah terlelap sejak tadi. Sedangkan Miana masih berkutat pada pekerjaan online yang baru saja ia ambil. Tak menolak kesempatan yang ada, ia menerima tawaran Bu Hefi.


Bian jelas mendukungnya. Kemampuan Miana sudah terlihat sejak ia mengenal Miana sejak MOS saat di sekolah. Kecakapan dalam bertutur kata serta pengetahuan yang mulai meluas itu sudah seperti seorang Direktur menyajikan bahan presentasi.


[Mantan, udah tidurkah?]


Satu pesan dari Bian membuat Miana sedikit malas untuk membalasnya. Sampai benda pipih itu kembali berdering tanda panggilan, barulah Miana menunjukkan atensinya.


"Kenapa?" sambar Miana begitu ia mengusap layar ke atas, tanda menerima telepon.


"Di tanya, bukannya jawab. Malah balik tanya."


"Langsung, ke intinya aja ,Bi."


"Oh, oke oke. Gue kirim file, Lo tinggal koreksi.. Gimana?"


"Ya, udah. Buruan kirim!"


"Yang ikhlas dong, Man–"


"Sebut, mantan lagi. Gue nggak mau bantuin lagi, Bi!" Miana meluai menunjukkan taringnya kesal.


"Oke,.oke."


Miana menutup telepon sepihak. Ia menarik sudut bibirnya. Bian sudah menunjukkan sisi lainnya. Tak sia-sia ia terus membujuk Bian beberapa minggu ini. Jika dulu Bian terlalu abai pada tugas kuliahnya. Sekarang, ia sudah menunjukkan kemampuannya.


"Gue yakin, Lo itu mampu, Bi. Bahkan Lo cukup pintar bila meneliti sebuah kasus atau kendala perusahaan."

__ADS_1


☘️


__ADS_2