
Tidak terasa, dua minggu jeda latihan ujian. Kali ini, ujian hari terakhir berlangsung setengah jam yang lalu. Semua siswa SMA 89 tertib mengikuti ujian tanpa kendala. Semua ujian berbasis menggunakan komputer. Hanya dua hari terakhir ini menggunakan kertas karena membutuhkan jawaban essai.
Selama itu pula, intensitas Miana dan Arga bertemu hanya di lakukan di sekolah. Selebihnya, mereka hanya berkomunikasi lewat chat dan vidio call.
"Arga, kemarin Bian nyamperin kamu ke rooftop. Bicarain apa, sih?"
"Udah ku bilang, nggak bicarain apa-apa." Arga mengulas senyum pada Miana.
"Kamu, mulai rahasia-rahasiaan," sungut Miana dan Arga tentu tertawa di buatnya. "Kenapa ketawa, sih!" Miana menepuk lengan Arga dan mencubitnya kesal.
"Ya ampun, lama nggak ketemu. Sekalinya ketemu jadi brutal begini." Bukannya menenangkan, Arga justru memantik kekesalan Miana kembali.
"Arga, aku serius," rengek Miana. Kali ini di lengkapi wajah memelas.
Miana kemarin di beritahu Angel. Jika Bian terlihat mengikuti Arga. Dan menurut penuturan Angel, Miana sudah bisa menebak jika tujuan Arga adalah rooftop sekolah. Benar adanya, saat Miana tergesa menyusul Arga ke rooftop, ia sudah mendapati Bian sedang berhadapan dengan Arga. Sayang sekali ia terlambat datang. Saat Arga dan Bian menyadari kehadiran Miana, mereka terlihat sudah selesai berbicara.
"Bian, Lo ngapain di sini?" tanya Miana saat Bian hendak berlalu dari rooftop.
Bian berhenti, wajahnya terlihat teduh dan menatap Miana seraya berdecak. "Gue baru tahu ternyata ada tempat senyaman ini. Ck, sayangnya kita udah mulai lulus. Tau begitu, saat kita masih pacaran dulu ... kita bisa berdua di tempat ini. Jadi, kamu nggak perlu takut sama adik kamu itu."
Miana menggeleng samar, menatap tak percaya pada Bian. "Bian, katakan dengan jujur! Bicara apa kamu sama Arga?"
Bian terkekeh, melirik pada Arga yang masih bergeming di pagar rooftop lalu kembali pada Miana. "Urusan cowok." Bian mengacak pucuk kepala Miana lalu tersenyum sembari pergi dari tempat itu.
Miana lekas mendekati Arga dan menelisiknya dari ujung sepatu hingga wajah rupawan di hadapannya.
"Aku baik-baik, aja, Sayang. Jangan kawatir gitu mukanya." Arga mencubit sebentar dagu Miana untuk mengurai wajah panik Miana.
"Kenapa Bian bisa tahu tempat ini?" tuduh Miana.
"Ini tempat umum, Sayang. Siapa saja bebas kesini," jawab Arga.
"Argaza, Bian sampai kesini itu pasti ada alasannya. Dan aku pengen tahu ada apa?" cecar Miana tak mau menyerah.
__ADS_1
Arga menghela nafas sejenak. "Dia hanya iri aja, dulu dia nggak ada banyak waktu sama kamu." Arga kini memegang bahu wanita bersurai panjang itu dan tak henti mengulas senyum meyakinkan. Ia semakin terkagum berlipat-lipat saat beberapa anak rambut lurus itu di terpa angin yang berhembus ringan.
Arga melambai di depan wajah Miana sehingga ia kembali dari lamunannya atas kejadian kemarin. Ia raih tangan gadis itu dan mengajaknya menapaki panjangnya koridor tanpa banyak pertanyaan lagi.
Kali ini Miana diam dalam pikirannya sendiri. Di paksa pun Arga tak akan mau mengaku. Mungkin memang hanya rasa kawatirnya yang berlebih. Sudahlah, yang penting tidak ada adu fisik di antara Arga dan juga Bian, begitu pikirnya.
Sedangkan Arga sendiri hanya mencuri pandang melihat wajah imut di sampingnya. Semakin hari ia mengenal Miana, semakin menggunung pula rasa kagum akan kebaikan hatinya. Teringat beberapa waktu yang lalu, saat ia mengantarnya pulang. Miana hampir menangis saat mendapati kedai martabak sudah tutup. Ia memohon pada Arga agar pulang lebih dulu, hanya karena ia baru akan pulang jika membawa martabak pesanan Miranti–mama Miana.
"Ga." Miana sedikit mengeratkan genggaman tangannya pada Arga karena di tatap sedekat itu membuat Miana berdebar.
"Hmm," jawab Arga semakin melebarkan senyumnya.
"Kenapa senyum-senyum?" tuding Miana.
Arga tertawa. "Seneng aja. Biasanya kamu akan protes kalau aku pegang tanganmu begini." Arga sedikit mengangkat tautan tangannya. Sehingga Miana melihatnya pula. Anehnya, Miana yang bisanya banyak protes, kali ini tidak sedikitpun ia tunjukkan raut resahnya. "Udah nggak mikirin perasaan si dia, dia dan dia, lagi?" sindirnya.
Miana mengedarkan pandangannya lalu menunduk dan tersenyum malu. Ia beralih fokus pada ujung sepatunya yang masih menapaki koridor. 'Damai banget ternyata jalan di dekat kamu, Ga. Hanya jantungku yang nggak baik-baik, aja sepertinya. Dari tadi deg-degan, terus,'
Tiba di tempat parkir, keduanya menuju pada motor masing-masing dan meninggalkan sekolah. Seminggu ini, Miana mendapatkan ijin untuk tidak bekerja. Selama itu pula, Arga tak menjemput Miana seperti sebelumnya. Mereka langsung pulang ke rumah masing-masing sesuai kesepakatan.
Siang hari Miana bersibuk merapikan kamar. Sebetulnya sudah sangat rapi, tapi kali ini Miana mulai mengemas beberapa buku yang akan ia simpan pada kardus. Hanya menyisakan beberapa puku penting pada rak bukunya. Setelah pengumuman kelulusan seminggu lagi, rak buku dan meja belajarnya pasti akan berganti dengan yang baru. Ia selalu berharap agar mendapatkan beasiswa unggulan agar dapat di terima kuliah di kampus negeri sesuai keinginannya. Mengingat bagaimana usaha papa menyekolahkan dua anaknya sekaligus. Maka, hanya dengan ia mengejar beasiswa itu agar meringankan beban sang papa.
Menjelang petang, Miana kembali berkutat dengan kesibukannya di dapur. Menyiapkan kakap bakar, riques sang papa melalui WhatsApp tadi.
Benar saja, tak lama Surya pulang. Sudah ada mama yang menyambutnya. Tak lupa rengekan Sisil terdengar sampai di telinga Miana dan membuatnya geleng-geleng kepala. "Papa baru aja sampai, Sil. Udah di todong berbagai keluh kesah kamu," gumam Miana.
Surya menyempatkan melongok di dapur, karena bau masakan Miana yang menggoda indra penciumannya. "Riques papa dapat ACC, nih?" tebak Surya.
"Selama, papa yang minta, pasti Miana kerjakan, Pa." Miana mengacungkan jari jempol pada Surya.
Dengan semangat Surya lekas membersihkan diri. Begitu selesai, satu keluarga itu kembali berkumpul di meja makan. Melihat kedua anaknya rukun serta istri yang tak banyak protes membuat Surya damai. Makan pun jadi lahap.
Selesai makan, Miana membersihkan piring kotor di bantu Miranti yang menerocos panjang lebar perihal kampus. Bukannya membantu, tapi keberadaanya disana justru menekan Miana agar membiayai kuliahnya sendiri.
__ADS_1
"Libur terus, kapan masuknya?" tanya Miranti.
"Besok, Miana udah masuk lagi, Ma."
"Oohhh. Gini, kamu kan, pinter tuh. Di bangga-banggain terus sama papa. Ya jangan sampai dong, minta biaya kuliah sama papa. Beda sama Sisil. Dia nggak biasa susah. Pasti ngerti, dong. Kamu harus apa jadi kakak yang baik."
"Iya, Ma. Miana sudah berusaha, kok. Semoga nilai Miana sesuai kriteria. Besok, Miana. Juga udah mulai kerja lagi."
"Nahh, itu, tahu. Jadi biar nggak lama-lama nyusahin papa. Dengerin, nih, cerita mama ya! Dari kamu kecil kamu itu paling nyusahin papa. Kamu rewel terus. Maunya gendong minta jajan banyak. Huhh, mama jadi inget gimana riwehnya ngurus dua bayi." Miranti meletakkan piring yang sudah bersih pada rak dan kembali melirik Miana yang masih bergelut dengan spon dan wadah kotor lainnya. "Jadi, kamu tahu, dong. Sebagai anak pintar kebanggaan papa. Kamu harus apa," lanjut Miranti sembari mengelap tangannya pada kain serbet kotak-kotak di sisi rak. "Aduh, jari mama retak kan, karena bantuin kamu. Udah ya, mama ke papa dulu."
"Iya, makanya biar Miana aja, Ma."
"Iya, dong. Harus kamu, mau siapa lagi selain kamu di rumah ini yang cocok mengerjakan pekerjaan rumah." Nyeri di sudut hati Miana kembali terasa. Tapi Miana, si pintar di kelas itu juga pintar menyembunyikan raut sedihnya di balik senyum manisnya. Meskipun kembali dan kembali lagi sindiran halus tapi menusuk itu menembus batin Miana. Jika sudah begitu, ia pasti akan merenungi kata-kata mama di dalam kamarnya. Sebegitu menyusahkannya dirinya? Sampai mama terus mengingatkan itu.
Papa datang ke kamar Miana. Saat Miana diam di tepi jendela. Hujan malam ini menambah udara malam kian dingin menusuk kulit lengannya yang terbuka sebagian. Piyama lengan pendek dengan bawahan panjang berwarna maruun itu membalut tubuh setinggi 160 centimeter begitu pas dengan warna yang begitu kontras.
"Mikirin, apa?" tanya papa sambil membelai surai panjang Miana yang di biarkan terurai bebas. "Hp kamu berkedip-kedip terus dari tadi, loh." Surya menunjuk ponsel Miana yang tergeletak di tengah tempat tidur.
Miana menggeleng samar. "Notif, aja itu, Pa" Miana meraih tangan papa kemudian memijitnya pelan. "Papa masih terus minum obatnya, kan?"
"Iya. Mama mengurus papa dengan baik." Surya tersenyum membuat Miana tersenyum masam dan mengangguk pelan.
"Kamu, juga. Kamu selalu kasih papa bekal makan sehat, yang pasti bikin jantung papa semakin sehat."
Kali ini Miana tersenyum lebar. Lega, saat papa masih begitu menjadi sosok hangat untuknya.
"Mau ambil universitas dimana?" tanya Surya.
"Belum fixed, Pa. Masih mikir-mikir, "
☘️
maap baru bisa up, riweh kondangan ini. tetangga banyak yang punya gawe,
__ADS_1