
☘️
Miana senyum-senyum sendiri, mengingat kebersamaannya dengan Arga tadi. Ia berguling-guling di pembaringan sembari melihat hasil vidio yang ia ambil diam-diam tadi.
Bukan hanya vidio. Miana juga berhasil mengumpulkan beberapa foto-foto yang ia simpan dalam galerinya. Ia meletakkan ponsel di dada. Bibir tak berhenti mengulas senyum. Terbayang saat ia tengah berada di food court bersama Arga.
Meskipun sempat ada kecanggungan. Miana mulai memupuk rasa itu dengan menanyakan kesehatan Sari, Oma Arga.
"Ada Bi Ida, yang setia di samping Oma." Itu kata Arga sembari menyuapkan pakcoy ke dalam mulutnya. "Saat ke minimarket kemarin, Oma juga nanyain Lo. Katanya, lama nggak lihat, Lo. Gue kasih tahu aja, Lo udah keluar dari sana."
"Sungguh?" tanya Miana antusias. Terharu, karena merasa masih di ingat oleh salah satu customer setia di sana.
"Hm," jawab Arga singkat. Ia fokus mengunyah cumi kuah pedas di depannya.
Sedangkan Miana diam-diam memerhatikan Arga makan dengan tenang. "Lo ternyata suka makanan berkuah ya," tuding Miana.
"Yaa, dari kecil, Oma selalu maksa gue buat seimbangin menu makan."
Dapat Miana simpulkan saat ini juga, Arga memesan pakcoy, cumi kuah. Tak tertinggal nasi satu porsi dengan minumnya cukup ice lemon. Sedikit tersenyum, Miana mulai merekam semua yang Arga sukai.
"Semacam menu seimbang, gitu, Ga?"
"Ya. Cuma gue nggak suka susu. Dan gue lebih milih kopi. Itupun harus di atur. Nggak boleh keseringan." Arga menyesap minumnya beberapa teguk lalu kembali fokus pada Miana. Ia juga melirik menu yang ada di depan Miana. "Buruan, di habisin. Keburu malam," titah Arga.
Saat itu juga nama Riska tampil berkedip-kedip di layar utama ponsel Miana. Tanda panggilan. Miana mengangkat lalu dengan segera ia menjauhkan ponsel dari telinganya. Saking kerasnya Riska menyambar Miana dengan sederet pertanyaan. Semacam interogasi. Miana meringis kala Arga menatapnya penuh selidik. Sedikit banyak, ia pasti bisa menangkap pembicaraannya dengan Riska.
Tak ingin berlama-lama, Miana mengatakan ia masih makan bersama Arga. Dan akan di antarkan sampai rumah. Berkali-kali Miana meyakinkan Riska bahwa ia akan baik-baik saja.
Saat Miana memutus sambungan telepon. Ia kembali mendapati pesan dari Bian. Fotonya yang tengah makan berdua bersama Arga telah sampai pada mantan pacarnya.
Miana menghela nafasnya sejenak. Lalu mengetikkan beberapa pesan balasan.
📷 Bian.
^^^[Pasti Roy yang kirim, ya!]^^^
[Lo lagi kencan sama Arga?]
^^^[Gue nggak ngedate, Bi. ^^^
^^^Cuma kebetulan aja ketemu Arga, ^^^
__ADS_1
^^^trus makan bareng.]^^^
[Jangan bilang, lo jadian sama dia!]
^^^[Belum.]^^^
Miana menepuk jidatnya. Saat akan menghapus pesannya. Namun, terlambat. Bian sudah membacanya. Entah mengapa ia masih memiliki segudang harapan untuk mendapatkan balasan perasaannya pada sosok di hadapannya. Dan bodohnya, ia telah mengungkapkannya pada Bian.
^^^[Kita semua, teman, Ga. ]^^^
Tidak ada balasan dari Bian, Miana segera mengetik kembali. Centang dua berwarna biru pada aplikasi hijau sudah sejak tadi. Menandakan pesannya telah di baca.
^^^[Dahlah, gue udah mau balik kok. Bye]^^^
Miana segera menyudahi kegiatannya. Karena sorot mata Arga terlihat begitu kesal. Ia letakkan ponselnya lalu kembali menghabiskan kakap bakar di depannya. Ia melirik pesanan Arga yang sudah habis. Ia menjadi tak enak hati karena tidak menghabiskan makanannya terlebih dahulu. Malah bersibuk dengan ponselnya.
Terburu Miana menghabiskan kakap bakar yang memanjakan lidahnya sampai tersedak. Dengan cepat Arga memutari meja dan memberikan minumnya untuk Miana. Merasa terdesak dan tak berpikir panjang. Ia menerimanya sambil terus mendengar protes Arga padanya. Seperti ibu yang mengomel pada anaknya.
Meskipun mulut berucap kesal, tangan Arga bahkan tergerak begitu saja mengelus punggung Miana agar berangsur membaik.
"Lo kenapa sih. Udah dewasa juga. Makan pelan-pelan kan bisa." Itulah kalimat yang beberapa kali Arga ulang.
Seluruh wajah Miana memerah. Rasa pedas dan perih sampai ke hidungnya. Bisa di pastikan karena sambal yang ia makan. Hal lain yang membuatnya demikian adalah perhatian dari Arga. Di balik sikap cueknya, ternyata Arga punya sisi lain yang begitu manis. Miana mengakuinya mantap.
Keduanya memutuskan untuk pulang. Di mobil, suasana kembali hening. Hanya ada suara music yang mengiringi perjalanan mereka. Miana diam seperti sedang dalam pikiran masing-masing. Sedangkan Arga, ia tengah fokus pada jalanan. Sesekali melirik ke bangku sampingnya.
'Burung beo kalau diem ternyata manis banget,' batin Arga sambil menipiskan bibirnya.
"Ga, tugas dari Bu Alin udah Lo kumpulin?" tanya Miana memecah keheningan.
"Udah, gue nggak suka numpuk tugas. Begitu ada kesempatan, ya, langsung gue kerjain."
Miana mengangguk setuju. "Gue tadi dapat teguran dari Bu Alin. Pulang kerja capek banget. Masih harus kerjain kerjaan rumah. Sampai kelupaan sama tugas," terang Miana.
"Bi Num, kemana?"
Miana tertunduk lesu. Mengingat Bi Num yang sudah bahagia di kampung halamannya. "Bi Num, pulang kampung, Ga." Miana tak sepenuhnya berbohong. Memang Bi Num, tengah pulang kampung. Namun, lebih tepatnya karena Miranti lah yang mengusirnya.
Arga diam dan menoleh sekilas pada Miana. Pantas saja akhir-akhir ini, nilai Miana turun. Dan ia sudah mendapatkan jawabannya. Terbayang, bagaimana Miana membagi waktunya antara bekerja, sekolah dan pekerjaan rumahnya.
"Kenapa nggak cari pembantu baru, sih."
__ADS_1
"Nggak, tahu, Ga. Mungkin, papa takut nggak bisa bayar. Padahal, gaji papa udah lumayan. Walaupun nggak begitu besar. Harusnya cukup untuk keperluan lain-lain. Tapi papa selalu manjain mama. Jadi, yaa... Gue bisa apa."
Arga diam dan hanya menganggukkan kepalanya. Ia melirik pada spion, untuk menyeberang jalur lain. Lima menit kemudian mereka sampai di depan rumah Miana. "Kenapa Lo baru kasih tahu gue kalau kita tetanggaan?" tanya Arga. Menghentikan tangan Miana yang hendak meraih handle pintu mobil.
"Gue nggak kepikiran, Ga. Gue sibuk banget. Apalagi habis pindahan. Rumah juga masih berantakan."
"Kalau aja gue tahu papa mau ambil perumahan. Pasti gue minta satu blok sama Lo. Sayangnya, gue nggak tahu."
Arga tersenyum samar. Bahkan hampir tidak terlihat. 'Gue juga berharap begitu. Gue bisa ajak Lo joging jika libur. Kita bisa lakukan apapun layaknya tetangga. Asalkan sama Lo, pasti hidup gue nggak kan sepi.'
"Udah, ya, Ga. Gue turun sekarang. Udah malam Lo nggak usah mampir, ya." Miana menyimpan sedikit gundah hingga menyisipkan candaan kembali membuat Arga mendengus samar.
"Besok Lo, berangkat sama Sisil?"
Arga bingung ingin datang bersama siapa. Mengingat di sekolah, ia tak mempunyai teman dekat. Ia adalah type introvert yang suka menyendiri.
"Kemana?" Miana kembali bertanya.
"Ke ulang tahun, Bian."
Miana terlihat berfikir. Memang ia belum mengadakan janji apapun dengan Riska. Sampai segurat percaya diri setinggi langit melintas di pikirannya. "Lo mau ajak gue bareng kesana, Ga?" Miana tetap menampilkan senyum terbaiknya menggoda Arga.
Arga diam merasa masuk perangkap Miana. Tak membenarkan juga tak menyangkalnya.
"Besok kita kesana rame-rame, gimana?"tawar Miana.
"Sebenarnya gue nggak suka pesta-pesta. Males aja sih," ungkap Arga.
"Tenang, aja. Ada gue, Ga."
Arga mencebik meremehkan. "Lo aja masih suka di bully. Dan parahnya Lo diem aja tanpa mau lawan. Jadi orang, baik, ya baik aja. Jangan terlalu baik. Bisa di manfaatin orang."
Penuturan Arga membuat Miana melambung. Sedetail itu Arga memerhatikan dirinya. Tanpa sadar, Miana telah jatuh dan semakin jatuh dengan sisi lain Arga.
"Dah, ya, Ga. Nggak enak di lihat tetangga." Miana celingukan memerhatikan sekitar. Pagar tinggi tiap rumah milik tetangganya tidak mungkin melihat dan memperhatikan dirinya. Penduduk di sini juga tidak mungkin terlalu mengurusi kehidupan orang lain. Hanya saja Miana tidak merasa nyaman. Saat satpam perumahan sedang berpatroli berjaga.
"O ya. Nggak usah mampir, ya. Rumah masih berantakan."
"Dih, ngarep banget gue samperin."
Miana tertawa. Ia keluar dari mobil dan menunduk agar dapat melihat jelas pada Arga. "Makasih buat hari ini. Buat traktirannya. Kalau gue udah kaya, nanti gue traktir balik deh," imbuh Miana sembari membubuhkan candaan.
__ADS_1
"Gue yang makasih."
☘️