
☘️☘️☘️
Senin menyapa kembali rutinitas SMA Tunas Bangsa, upacara sudah terlaksana sejam yang lalu. Ada yang berbeda dari senin pagi ini, kegiatan belajar mengajar terjeda karena persiapan seleksi untuk lomba OSN.
Miana dan Riska hanya duduk-duduk santai di kursi permanen tidak jauh dari lapangan basket outdoor, pinggir halaman inti sekolah.
Ada beberapa siswa yang sedang basket, meskipun menggunakan seragam OSIS, bukan kaos team layaknya tengah berolahraga. Mereka hanya mengisi waktu sembari pembelajaran di mulai lagi.
Riska memandang antusias pada Bayu yang sedang berada di lapangan basket bersama tiga teman lainnya. Ada Bian salah satunya.
Miana tentu memanfaatkan hal ini. Sesekali ia tersenyum karena Bian berhasil melempar bola masuk tepat pada ring basket.
Bayu, ia mengecup ujung telapak tangan lalu seolah sedang meniupnya untuk Riska. Gerakan ciuman jarak jauh. Sedangkan di seberang sana Riska tengah berjingkrak senang hingga menggoyang lengan Miana.
Hal itu tidak lepas dari pandangan Bian. Perasaan kecewa masih selalu tersemat pada Miana. Entah perasaan benci, kecewa atau sebenarnya cinta itu masih ada. Ketika ia menerima lemparan bola dari Roy, ia mendribel bola dengan penuh emosi. Apalagi saat Arkan berhasil menguasai bola dan melepaskan pada ring. Bian melompat sekuatnya menghalangi bola masuk. Alhasil, bola melambung keluar lapangan.
Entah bagaimana asalnya. Saat fokus Miana kembali pada Bian tiba-tiba bola melambung ke arahnya. Inginnya berlari menghindari bola. Namun, kaki terasa berat untuk melangkah. Miana memejamkan mata kuat-kuat, bersiap dengan hantaman bola yang mengarah padanya.
Suara memekik Riska dan beberapa siswi yang melintas halaman atau melintas pada koridor kelas dapat ia tangkap. Tapi, bukannya rasa sakit yang ia terima melainkan lengan kanannya di goyangkan kencang oleh Riska.
"Na!"
"Miana. Udah aman."
Secepat mungkin Miana membuka mata dan mendapati bola menggantung di atasnya. Berada di dua tangan Arga.
"Hhhuhh, untunglah," desis Miana.
Arga membawa bola itu ke lapangan basket dan langsung mendapat tatapan menyipit dari Bian. Keduanya berdiri berhadapan saling menatap tanpa suara. Terdapat jarak satu meter di antara mereka.
"Hati-hati, mainnya. Bisa pusing jika kena kepala orang." Arga melempar bola dan langsung di tangkap Bian.
"Setiap orang di sini sudah hampir dewasa. Ku rasa setiap orang juga bisa jaga diri sendiri. Lo, kira, gue sengaja lempar bola ke sana!" Bian terlihat tidak terima hingga ia mendekat pada Arga.
"Gue nggak bilang begitu. Atau jangan-jangan, lo memang sengaja!"
"Njirr. Lo nuduh gue!" Bian mendorong keras dada Arga, hingga Arga mundur selangkah. Akibat kerasnya tekanan dari Bian.
Arga menanggapi hal itu dengan santai. Terlebih ketiga teman di belakang Bian menahan pentolan gerombolan itu.
__ADS_1
"Udah, Bi. Nggak usah di perpanjang!" Bayu mendominasi mencekal lengan Bian.
"Udah-udah," ucap yang lain.
Arga hanya tersenyum lalu berbalik meninggalkan lapangan.
Beberapa siswa dan siswi yang kebetulan lewat sengaja terhenyak di tempat masing-masing. Mereka mengira Bian sudah berubah. Nyatanya sedikit saja tubuh dan kelakuannya terusik, ia masih sama, mudah tersulut emosi.
Miana dan Riska yang melihat dari agak jauh ketegangan tadi, bahkan refleks berdiri di tempatnya. Tidak berani mendekat.
Melihat Arga melewatinya dengan santai. Miana pun berinisiatif mengikuti Arga.
Merasa di ikuti, Arga mempercepat langkahnya. Hal itu membuat Miana juga melakukan hal yang sama.
Tanpa di duga, Arga berhenti tiba-tiba tepat di persimpangan kelas dan berbalik cepat. Membuat Miana tertahan menyeimbangkan gerak tubuhnya agar tidak membentur badan Arga. Tentu pergerakan Arga yang tiba-tiba membuat Miana salah tingkah dan langsung menggigit bibir bawahnya.
"Lo, ngikutin gue!" Arga menghardik Miana yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Ng- nggak. Bukan. Bukan ,maksud gue nggak ngikutin, lo. Kelas kita di sebelah sana, kan? Jadi kita satu tujuan aja." Miana cepat memberikan alasan yang masuk akal agar Arga tidak curiga dengan maksudnya.
Arga mengangkat sebelah alisnya, dan sedikit menyunggingkan senyum. "Kalau Lo mau bilang makasih, sebaiknya nggak usah. Karena gue tadi refleks aja. Jadi, nggak usah ge-er. Apalagi ngira gue perhatian ke, Lo."
"Gila. Nyesel gue mau bilang makasih. Menyebalkan!" Miana mengentak kaki meluapkan kebodohannya. Terlebih Arga menganggapnya tengah merasa percaya diri karena dia menolongnya.
☘️
Sepanjang pembelajaran, Miana masih uring-uringan mengingat kata-kata Arga. Merasa tidak terima di anggap terlalu pede karena merasa dapat perhatian dari Arga. Matanya melihat pada papan white board yang berisi materi dari guru. Akan tetapi, tangannya sibuk membuat coretan acak pada buku.
Penjelasan dari guru seakan masuk ke telinga kiri dan keluar dari telinga kanan. Tidak meresap sedikit pun pada otaknya. Hal itu tidak luput dari perhatian Riska yang duduk tepat tidak jauh di samping Miana.
"Kenapa, sih? Uring-uringan terus sejak tadi," tanya Riska berdiri di samping Miana. Saat guru sudah menyudahi kegiatan mengajarnya.
"Enggak ada apa-apa,"
"Kalau nggak ada apa-apa, kenapa itu buku di coret-coret nggak jelas. Hm?"
Sontak Miana segera melihat buku catatannya penuh dengan coretan asal, hasil ulahnya sendiri.
Tidak percaya kekesalannya berujung menghancurkan catatannya sendiri. Makin bertambah saja kesialan hari ini. "Yaaahhhh, catatanku." Miana mengelus permukaan buku yang sudah rusak. 'Semua ini gara-gara, Arga,' batin Miana.
__ADS_1
☘️☘️☘️
Semenjak kejadian kemarin di lapangan basket hingga koridor kelas, Miana sengaja menghindari Arga. Baginya masih kesal di sebut kege-eran olehnya. Padahal mungkin saja kenyataan itu memang benar. Di toko, di rumah, Miana masih saja sangat kesal.
"Ihhh, kenapa, sih, rasanya nggak nyaman banget. Apalagi kalau, tuh merk bus umum, melirik santai. Kek ngeremehin gue banget." Miana memukul-mukul boneka boba kesayangannya meluapkan kesal. Berguling ke sana-sini pada kasurnya.
Sehabis kerja ia merebahkan badan sebentar pada kasur. Masih bermalas-malasan untuk membersihkan diri. Tidak ada PR, jadi Miana dapat bersantai mengingat jarum jam pendek masih menunjuk di angka sembilan.
"Mianaaaa!"
Teriakan mama terdengar memekik di luar kamar meneriakkan namanya. Miana segera berlari meraih gagang pintu kamar lalu bergegas menemui mama.
"Iya, Ma." Miana mendekati mama yang tengah duduk ruang keluarga.
"Kamu budeg, ya! Atau sengaja mengabaikan, Mama! Wedang jahe mama, mana!" Miranti membentak Miana mengeluarkan emosinya hingga terlihat urat halus di lehernya. Menandakan betapa marahnya ia karena anak sulungnya mengabaikan permintaan wedang jahenya.
Miana berjingkat, mengutuk diri. Bisa-bisanya ia melupakan wedang jahe permintaan mama sewaktu ia baru pulang kerja tadi. Ia melirik Sisil yang tengah memotong kuku di sofa, dengan kaki memenuhi panjang sofa. Santai sekali, seolah tidak tertarik pada keributan ia dan mama. Padahal harusnya, mama bisa saja menyuruh Sisil. Namun, hal itu mustahil terjadi. Anak kesayangan mama itu mana boleh kesusahan sedikit saja.
Ingin sekali Miana protes. Kenapa bila yang susah saja mama memanggilnya. Sedangkan jika untuk bersenang-senang Mama selalu mengajak Sisil.
Percuma, yang ada hanyalah rentetan kalimat tajam yang keluar dari mulut mama.
"Iya. Ma, maaf. Segera Mia buatin buat mama."
Miana segera berlari ke dapur mempersiapkan apa yang menjadi titah mama. Beginilah jiika Bi Num sedang pulang kampung. Apapun pekerjaan rumah tangga selalu menjadi tugas Miana. Jika seperti ini, Miana selalu merindu yang berlebih lebih pada sosok sabar seperti Bi Num. Terkadang Miana sangat berharap bahwa Bi Num saja yang menjadi orang tuanya. Memang bisa kita meminta dari siapa kita di lahirkan. Ada-ada saja!
Dengan cekatan Miana mengupas jahe, mencucinya hingga bersih dan siap membakar di panggangan hingga tercium aroma harum jahe. Menggeprek secukupnya agar sari-sari jahe dapat berbaur pada air panas. Tidak lupa gula aren yang di sisir tipis dan mengaduknya. Semua bahan, ia masukkan pada teko kecil. Menuangnya pada tiga cangkir sedang pada nampan.
"Sudah, Redy," gumam Miana.
Segera Miana kembali ke ruang keluarga dan menatanya pada meja. Mama dan Sisil masih asyik menonton sinetron unggulan di salah satu stasiun televisi swasta pada layar selebar 32 inci.
"Ini, Ma, Sil. Wedang jahenya."
"Ck. Udah persis aja kaya', Bi Num, kamu. Cocok sekali jadi anaknya."
Jleb. Mungkin buat mama itu seperti candaan saja. Tapi bagai Miana, hal itu sungguh membuat luka tidak berbekas pada pada sudut hatinya. Sebercandanya mama, tapi itu terasa amat menamparnya.
☘️☘️☘️
__ADS_1
Hai hai, jangan lupa like dan komentarnya ya BESTie 😍