Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 63


__ADS_3

☘️


Materi dari Pak Bambang pagi tadi tentang reportase. Miana berencana memilih pasar tradisional, dan mall sebagai pembanding.


Tugas masih mendapat tenggang waktu sampai lusa. Jadi, hari ini ia harus mengambil shif lebih lama. Karena besok ia harus izin lagi pada Bagus, orang kepercayaan Dini.


Miana tengah mengelap meja pelanggan. Matanya menelisik pada orang yang baru masuk cafe. 'Seperti tidak asing ,'


Miana gegas meraih buku menu dan menyodorkan pada tiga orang yang baru saja mendaratkan tubuhnya pada bangku dengan empat kursi mengelilinginya.


Sambil mengingat-ingat, Miana melihat interaksi hangat keluarga itu. Sepasang suami -isteri dengan satu anak perempuan cantik.


"Sudah mba," Pelanggan berusia empat puluhan, cantik dan elegan itu menyebutkan daftar menu yang di pesan. Sedangkan Miana mencatat dengan teliti dan memastikan ulang pada pelanggannya.


Miana gegas memberikan daftar pesanan pada pihak dapur. Sedangkan ia kembali membereskan meja yang lain. Miana masih memikirkan siapa wanita familiar yang ia layani tadi.


Sesekali matanya melirik pada tiga anggota keluarga itu tengah menyantap makanan di hadapannya.


Sampai beberapa waktu kemudian, Miana kembali di panggil pada meja tadi. "Berikan bill nya Mbak! Saya juga mau bayar pakai card," ungkap wanita itu.


Miana memberikan bill dan menyelesaikan pembayaran. 'Sarah Wijaya' adalah nama yang tertera dalam kartu tersebut. Bisa di pastikan orang tersebut adalah mama kandung Arga. Pantas saja Miana merasa tidak asing dengan wajahnya.


"Terimakasih, Mba," ucapnya pada Miana.


Miana sedikit membungkukkan badannya." Terimakasih, silakan datang kembali," balas Miana dan mendapatkan senyum Sarah juga anak gadis di sampingnya.


Setelah tiga orang itu meninggalkan meja, Miana bersiap membersihkannya. Tiba-tiba, Miana menemukan satu unit ponsel di sana. Dapat Miana pastikan bahwa itu milik keluarga Sarah. Ia bergegas mengambil ponsel itu dan mengejar Sarah.


Matanya menyapu pandangan pada seisi pelataran parkir. Ia juga bergerak kesana-kemari Mencari keberadaan Sarah. Namun, tidak ia ketemukan.


Saat Miana akan berbalik ke dalam cafe. Tubuhnya membentur badan seseorang. Arga.


"Lo–?"


"Cari siapa?" tanya Arga memutus perkataan Miana. Sembari melihat sekeliling halaman depan kafe sampai pelataran parkir. "Gue lihat dari tadi, Lo celingukan cari sesuatu?" lanjut Arga, kini sudah menatap penuh pada Miana.


"Gue mau ngejar yang punya HP ini, Ga. Tapi, sampai sini gue nggak lihat orangnya."


"Lo yakin ,masih inget orangnya?" selidik Arga.


"Yakin, orang baru aja gue beresin mejanya. Begitu gue keluar, orangnya udah nggak ada," papar Miana. Kini Miana mengeryit saat melihat penampilan Arga yang begitu berbeda. Stelan kemeja sarta jas dan celana senada telah membalut tubuh tinggi di hadapannya. Kagum.


"Saran gue, nih. Kalau mereka masih butuh, tuh HP, pasti mereka akan balik lagi." Arga mengernyit melihat Miana menatapnya tanpa berkedip. Ia lalu menggoyangkan tangannya. Sampai Miana kembali pada dunia nyata. Tidak tahu apa yang ada dalam pemikiran gadis itu.


"Ah, itu. Silakan masuk, Ga." Miana mempersilahkan Arga agar masuk ke dalam kafe.


Arga menggulum senyum, saat Miana terlihat salah tingkah. "Gue di luar aja," tolak Arga.

__ADS_1


"Lo sedang ada janji? Kok rapi banget?"


Arga berjalan untuk menuju bangku kosong. Beruntung di ujung dekat pagar terdapat bangku kosong. Yang dapat melihat langsung lalu lalang kendaraan di bawah sana. Miana tentu mengikuti kemana Arga duduk.


"Mau pesan apa?"


Miana mengambil catatan dari dalam sakunya. Bersiap menuliskan pesanan Arga


"Coklat panas dan cake ketan hitam, ya," sebut Arga mengutarakan pesanannya.


"Oke. Tunggu, ya,"


"Permisi," sapa seseorang dari belakang Miana. "Mbak, yang tadi ,kan? Lihat Hp anak saya tidak ya, Mbak?" Ungkapnya saat Miana sudah berbalik menghadap seorang yang memanggilnya tadi.


"Ah, iya, Nyonya Sarah." Miana menyodorkan satu Hp yang sejak tadi ia pegang. " Baru saja saya mencari keberadaan anda."


Mendengar suara dan sebutan yang tak asing di telinga. Arga mendongak dan mendapati sang mama tengah berbincang dengan Miana Matanya membulat begitu pun dengan wanita yang telah mengandungnya sembilan bulan itu


"Arga," ucap wanita itu. Ia mendekati Arga dan Arga pun berdiri masih dengan keterkejutannya.


"Akhirnya mama ketemu kamu. Kita bicara di sini ya." Sarah sudah duduk pada kursi tepat di depan Arga. Mau tidak mau, Arga pun duduk. Tak ingin ribut i tempat umum.


Diam-diam, Miana berlalu untuk mengambilkan pesanan Arga. Sedangkan Arga kembali memasang wajah datar dan enggan melihat pada Sarah. Sarah terus berupaya membujuk Arga agar mau berdamai dan memperbaiki hubungannya.


"Mama ingin seperti mama yang lain, Arga. Tetap baik meskipun kita sudah tidak tinggal serumah lagi. Mama ingin sekali menemani kamu, seperti mama menemani anak mama yang lain." Ucapan Sarah berterus terang.


"Arga, kasih mama kesempatan, ya, buat perbaiki ini semua. Meskipun kita tidak akan kembali pada keadaan yang sama."


"Kemana Anda, saat saya membutuhkan kehadiran anda? Enam belas tahun yang lalu, Nyonya Sarah?"


"Mohon maaf, pesanan anda, Kak." Miana meletakan pesanan Arga pada meja. "Anda mau pesan juga, Bu Sarah?" tawar Miana pada Sarah dan mendapatkan gelengan.


"Miana, Lo bisa carikan saya meja pribadi?" tuntut Arga dan membuat Miana bingung.


Miana melihat wajah Arga yang menegang. Lalu berganti melihat wajah resah Sarah. "Ada apa dengan mereka?" tanyanya dalam hati .


"Mm, maaf, Arga. Ruangan yang kamu maksud sudah penuh." Miana mengingat ruangan khusus yang di sediakan kafe. Bisa di bilang VIP room yang biasa digunakan untuk meeting penting, sehingga membutuhkan ruangan tertutup juga terpisah dari yang lainnya.


'Anak ini terlihat akrab dengan Arga. Pasti mereka saling mengenal?


"Ah, kamu. Tolong, bisa bantu saya?" pinta Sarah dan membuat Miana bingung. "Tolong carikan ruangan yang anak saya maksud," Sedangkan Miana terlihat bingung dan terus melirik pada Arga.


"Maaf, Bu. Sudah penuh," terang Miana.


Arga berdecak melihat Sarah yang tidak peka. Arga berniat menghindari Sarah dengan mencari ruangan khusus. Namun, niatnya telah disalah artikan.


"Emm, kalau begitu, boleh saya minta mbaknya buat menemani kita di sini?" pinta Sarah.

__ADS_1


Mana ada pelayan mendapat pekerjaan tambahan dengan menemani pelanggannya? Miana tidak paham dengan rencana Sarah.


"Mbak, Arga ini anak saya. Saya telah berpisah lama dengan Arga. Saya ingin memperbaiki hubungan saya dengannya, apa itu adalah usaha yang salah? Saya sudah mengakui kesalahan saya, oleh karenanya saya ingin meminta maaf. Kalau salah, katakan bagaimana cara membuat hubungan saya kembali baik?"


Melihat Miana kebingungan. Sarah meminta Miana untuk duduk.


Miana sedikit gelisah. Iya sedikit tersenyum yang coba ia paksakan. Untuk mengurangi kecanggungan. Mendapati dirinya duduk diantara ibu-anak yang sedang tidak baik-baik saja, adalah pekerjaan yang begitu sulit. Miana bahkan lebih memilih untuk mencuci seratus piring kotor saja. Daripada mendapati keadaan mencekam di hadapannya.


Dengan hati yang bergemuruh. Miana mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Sarah. Arga pernah menyinggung masalahnya dengan sang ibu. Jadi, Miana sedikit mengetahui sebab keduanya terlihat kaku. "Menurut saya. Tindakan anda tidak ada yang salah. Entah apapun masalahnya, sebagai anak, harusnya dapat memberi maaf bahkan sebelum orang tua yang meminta maaf. Karena, kita tidak tahu apa yang dialami saat berjarak. Saya sendiri juga jauh dari ibu saya, Bu. Jadi saya tahu perasaan anda."


"Terus terang, saya dulu adalah ibu yang jahat. Ibu yang mementingkan ego sendiri. Ingin di perhatikan oleh orang yang saya cinta. Tapi rasa sakit mendapati rasa yang tak terbalas membuat saya buta dan tak memikirkan perasaan Arga." Sarah berganti menatap Arga. "Kamu pantas marah pada mama, Arga. Namun, tolong beri mama sedikit pengobat rindu mama selama enam belas tahun ini. Mama selalu merindukan kamu, Nak. Ingin sekali mama memelukmu saat kamu sudah mulai bersekolah. Namun, mama tak punya keberanian. Mama hanya diam-diam melihatmu dari jauh. Sampai saat kamu menghilang begitu saja. Dan mama kehilangan jejak kamu. Hati mama ikut pergi entah kemana. Kosong. Sampai beberapa tahun, mama punya pelipur lara yang baru. Yaitu adik kamu. Kamu punya saudara, Arga."


Arga diam dan meresapi setiap kata yang keluar dari mulut Miana dan juga Sarah. Kata terakhir dari Miana membuatnya kembali lemah. Bertambah sesak kala rentetan ungkapan hati sang mama dengan air mata berderai di sertai isakkan yang menyayat hati.


Perlahan, hati sekeras karang itu mulai terkikis dan berbaur dengan lautan yang luas. Ia tengah berusaha membuka maaf meskipun belum seluas lautan. Ia menyadari, ia hanyalah seorang anak. Dari seonggok daging yang tak akan bisa tumbuh jika tidak ada sosok berjasa bernama ibu.


"Arga, coba dengarkan kata orang lain. Sebagian mereka tidak memandang mama salah. Ayolah Arga, coba lembutkan hati kamu buat mama," pinta Sarah memohon.


Sungguh Arga begitu susah untuk sekedar mem ba sahi kerongkongannya. Perlahan Arga memberanikan diri untuk melihat Sarah yang berulang kali menyeka air matanya.


"Mama," lirihnya. Namun cukup jelas bagi Sarah. Bukan berhenti menangis, tapi hal itu justru langsung membuat aliran air matanya kian deras membanjiri wajahnya.


hal yang tidak Sarah sangka dapat berbaikan dengan Arga. Setelah berulang kali ia membujuk Arga. Dan tidak mendapatkan hasil. Kali ini tanpa sengaja ia dapat berbicara langsung dengan Arga.


Arga beranjak dari duduknya dan memeluk sang mama. Keduanya hanyut dalam suasana haru. Pelukan semakin erat dari keduanya. Untaian kata maaf saling bersahutan dari mulut Arga dan Sarah.


Sementara Seli mencari keberadaan Miana. Dan begitu Seli mendapati Miana, ia menemukan Miana sedang membuat masalah pada kedua pelanggarannya.


"Miana," bentak Seli.


Hal itu, membuat Arga dan Sarah segera melerai pelukannya. Sementara Miana berjingkat karena begitu kerasnya suara Seli meneriakinya.


"Sedang apa kamu!" Seli menarik lengan Miana hingga ia berdiri. "Maafkan kelancangan pegawai kami, Kak, Bu." Seli mengatupkan kedua tangannya pada Arga dan Sarah.


Melihat itu, Arga dan Sarah siap memasang badan untuk Miana.


"Maaf ya, mbak. Jangan kasar begitu." Sarah menarik Miana sampai berdiri di sampingnya. "Dia ada di sini karena saya yang memintanya. Jadi, sebelum mbak melayangkan teguran. Lebih baik, mbak tanyakan dulu alasannya."


Wajah Seli merah padam, menahan malu. Ia memandang sekeliling kafe, memang tidak begitu banyak pengunjung yang memilih ruang outdoor. Namun, rasa malunya terlebih sikap gegabahnya cepat tersulut karena bujukan Oca yang beberapa waktu lalu mengadu padanya.


"Ma–maafkan saya, Bu," Seli mengatupkan kedua tangannya di depan pada Sarah. Ia tidak bodoh mengenali siapa Sarah. Publik figur yang kerap melintasi layar televisi swasta.


"Bukan pada, saya. Tapi dengan gadis ini." Sarah memperingatkan.


☘️


Boleh, minta vote 'nya 🙏

__ADS_1


__ADS_2