Takdir Cinta Miana

Takdir Cinta Miana
TCM 70


__ADS_3

Hari itu latihan ujian berlangsung lancar. Jika biasanya kegiatan *** sampai pukul 14.00, kali ini cukup sampai waktu tengah hari. Seperti ini akan berlangsung selama empat hari ke depan.


"Kita obati dulu di UKS, ya?" ujar Miana dan mendapat gelengan dari Arga.


"Setelah ini kamu mau kemana?" tanya Arga balik. Tidak mau membahas memar yang ada. Meskipun terasa begitu perih. Ia tidak mau memancing Bian kembali dengan keberadaannya di UKS bersama Miana.


Miana sejenak berfikir. "Mungkin gue mau lanjut kerja aja, biar nanti pulang sore. Dan malamnya bisa belajar," terang Miana dan membuat Arga berhenti. Begitu juga dengan Miana.


"Gue, lagi, kan. Kita, kan, udah sepakat panggil aku-kamu."


Kata-kata Agra terdengar seperti orang tengah merajuk. Membuat sudut bibir Miana tertarik. "Iyyaa, masih belum biasa soalnya."


"Di biasain, kan, bisa. Sedih, aku. Jadi nggak ada bedanya sama teman yang lain."


Tangan Miana naik menyentuh kening Arga. "Enggak, panas. Terlihat, sehat....!" Arga terkejut, menepis pelan tangan Miana. "Tapi, seperti orang lain," lanjut Miana pura-pura bergidik.


Arga memutar bola matanya. Dan berkacak pinggang sambil menyatukan giginya. Tentu hal itu membuat Miana tertawa. "Ini sisi lain, kamu sebenarnya." Miana mengambil langkah lebar sedikit berlari, sengaja menghindari Arga yang bersiap melayangkan protes.


Miana kembali melihat Arga yang sudah mengikutinya pelan dengan menahan senyumnya.


Arga mencubit satu pipi Miana, membuat pemilik pipi mengaduh pelan seraya mencebik. "Kamu bilang tadi mau kerja. Serius?" tanya Arga setelah menyamakan langkah.


"He'em," jawab Miana. Sambil memegangi pipinya. Sedikit merasakan lain saat tangan Arga mencubit pelan tadi.


"Maaf, ya." Kata Arga lagi seraya mengelus pipi Miana. Kembali sentuhan Arga membuat wajahnya merona.


"Di maafin."


"Tapi, nanti aku ulangi lagi."


"Ih. Gaboleh!"


"Kenapa?"


"Di marahin papa, nanti."


"Emang papa ada di sini?" Arga seolah sedang mencari-cari seseorang. Seolah sungguhan. Hanya lalu-lalang siswa-siswi yang akan menuju parkiran.


"Aku yang lapor, lah."


"Coba, lapor!"


"Nantangin, nih?" Miana melirik sinis.


"Enggak-enggak. Takut lamaran aku di tolak, nanti." Arga kembali menggoda Miana dan membuat Miana mengalihkan pandangannya. Malu.

__ADS_1


"Kamu mau masuk kerja!" Suara Arga kembali membuat keduanya berhenti lagi. "Ayolah, Miana. Kita udah mau ujian. Kamu mustinya ambil cuti. Cari uang nggak ada habisnya. Coba kamu lebih mementingkan persiapan ujian ini," saran Arga.


Di pikirannya, Miana mencoba menimbang segala sesuatu. Ia mengangguk setelah ia memutuskan langkah selanjutnya. "Iya, nanti aku diskusikan dengan team kafe."


"Kamu cukup dekat dengan Bagus?" selidik Arga. Mengingat beberapa kali ia melihat bagaimana Bagus dan Miana berinteraksi.


"Ya, dia seperti sosok kakak yang baik. Selalu kasih saran-saran. Apalagi saat teman-teman kafe jelas begitu iri dengan jam kerjaku yang terkesan di khususkan."


Arga mengangguk. Lalu mengajak Miana meneruskan langkah. "Ada waktu sebentar buat makan bareng?"


"Makan dimana? Aku sih, mau banget. Yang gratisan jangan di lewatkan." Miana tersenyum lebar.


"Dih, nggak ada jaim-jaimnya." Arga tentu malah senang karena kejujuran Miana.


"Kenapa harus jaim? Semua orang harus memanfaatkan peluang yang ada. Belum tentu kesempatan akan datang dua kali loh. Lumayan kan, irit pengeluaran."


"Jujur banget, sih." Arga melirik wajah sang kekasih yang tak berhenti menerbitkan senyum.


"Arga, kamu tahu, aku anak sulung papa. Aku harus banyak bantu papa. Aku nggak akan ngebiarin papa bekerja keras sendiri," cerita Miana sambil terus mengayun langkah sejajar dengan Arga. Ia harus memberi alasan yang kuat agar Arga tak membahas perihal pekerjaannya.


"Jangan karena kamu merasa lebih sehat dari sodara mu itu, kamu jadi punya tanggung jawab lebih, ya. Sudah jadi kewajiban orang tua menjamin kelayakan anak-anaknya."


"Nggak mungkin juga, papa ngandelin Sisil, Ga. Apalagi papa tahu, Sil itu, capek dikit, kambuh asmanya."


Arga mulai paham bagaimana Miana dalam keluarganya.


"Kali ini terserah kamu. Jalan aja dulu, aku ikuti kamu kemana."


"Oke," sahut Miana bersemangat.


Keduanya lantas meninggalkan sekolah dengan kendaraan masing-masing. Sesuai kesepakatan, Mianalah yang memilih tempat makan. Dan kedai seblak menjadi pilihannya.


Tidak ada protes dari Arga. Mereka masuk ke kedai, dengan tangan tertaut.


Saat memilih pesanan pun Arga terlihat menurut. Tanpa ada debat seperti biasanya. Membuat Miana menerka-nerka sesuatu.


"Kamu mau cerita sesuatu? tebak Miana. Beberapa kali ia mendapati Arga diam seperti memikirkan banyak hal.


"Kita makan dulu, ya. Aku nggak mau mood makan jadi hancur, saran Arga dan membuat Miana mengangguk.


Tidak lama pesanan datang. Seblak ceker menjadi pilihan Miana. Biasanya jika di kantin, Miana memesan ice lemon tea. Kali ini ia memesan ice lemon saja.


Lekas keduanya makan, tanpa banyak bicara. Hanya sesekali saja Miana menawarkan menu pendamping pada Arga. Seperti kerupuk misalnya.


"Kamu merasa nggak saat bekerja, seperti di awasi seseorang?" tanya Arga. Begitu seblak sudah habis dan menyisakan sepertiga gelas ice lemon.

__ADS_1


Miana mengangguk yakin, sedikit tersenyum mengingat Seli dan Oca selalu menjadi langganan kritikus khusus padanya. "Ada, Seli kan sepupu Mbak Dini. Jadi, dia tentu jadi pengawas khusus."


Arga menggeleng. "Bukan itu maksudku."


"Lantas?"


Arga diam sejenak. "Lupakan. Tetap bekerja seperti biasanya, ya! Dan tetap hati-hati. Aku nggak bisa jaga kamu dua puluh empat jam."


"Eh... kok?" Miana masih berusaha mencari tahu maksud Arga.


"Udah, jangan di pikirkan. Cukup pikirkan belajar, ujian, dan latihan soal-soal. Sisanya boleh mikirin aku."


Miana memutar bola matanya jengah. "Harus, ya, mikirin kamu?" goda Miana. "


"Nggaaak. Biarkan aku aja yang mikirin kamu." Arga beranikan diri meraih tangan Miana. "Ingat ya, meskipun memikirkan Arga bukan prioritas. Tapi suatu saat aku akan memastikan sendiri, bahwa setiap harinya Miana, tidak bisa terlepas dengan satu nama itu."


Miana menepuk tangan Arga. "Ih, maunya , ya."


☘️


Arga berhenti di post satpam setelah mengantar Miana ke rumah. Ia tidak mau Miana ingkar janji untuk tidak bekerja di hari ini.


"Maaf, Pak. Apa bapak tahu siapa orang yang sedang mengawasi Miana. Rumah nomor 14," tanya Arga pada satpam yang selalu stay di depan kompleks.


Terlihat, satpam itu berfikir dan menggeleng pelan. Tamu di kompleks cukup banyak. Ia tidak sedetail itu untuk mengamati satu-satu keadaan rumah penduduk.


Terpaksa, Arga harus mengehentikan rasa penasarannya. Ia segera pulang setelah tidak mendapat jawaban.


Sedangkan di tempat yang berbeda, Bian tengah memutar-mutar tarikan stang gas. Bunyi bising knalpot kendaraan roda dua itu begitu berisik menusuk pendengaran. Ia kembali meluapkan kesal lewat sirkuit. Ada Bayu dan Roy yang menjadi lawannya.


Melihat beberapa kali kebersamaan Miana dengan Arga membuat Bian tak bisa menyembunyikan kemarahannya. Dan hanya dengan beradu di sirkuit inilah menjadi tempat pelampiasannya.


Ketiga motor balap itu kini tengah memasuki medan. Semuanya mempertahankan kecepatan keseimbangan dan ketelitian.


Di sisi tempat lain, ada Arkan dan Riska yang duduk memantau cctv di depan layar. Baik Riska atau Arkan sesekali berkomentar jika kendaraan ketiga teman mereka begitu dekat. Atau sebaliknya. Riska refleks memekik saat salah satu dari ketiganya hampir jatuh pada jalanan.


"Gila aja. Hobi Bian nggak berubah. Meluapkan kemarahan dengan seperti ini." Riska mendorong bahu Arkan. "Dan kalian jadi sasaran tuh orang. Tanpa ada yang berani menolaknya. Lo selamat kali ini, karena habis sakit. Nah cowok gue tuh, yang jadi sasaran tiap harinya." Kesal Riska mengucapkan itu pada Arkan. Sayangnya yang di ajak bicara justru fokus pada layar cctv.


"Arkan. Lo nyebelin, ya! Kasih komentar, kek! Cuma di diemin," gerutu Riska menepuk kasar lengan Arkan.


"Sssh, gawat ... Akhh!"


"Kenapa!" Riska mengikuti mata Arkan yang terbelalak. "Oh, my God ..."


..._tbc_...

__ADS_1


Ada apa, ya?


__ADS_2