
☘️☘️☘️
Miana membantu menutup ralling door terakhir dan menyisakan satu yang belum tertutup sempurna. Hamdan muncul dari dalam bersama Puji.
"Kalian pulangnya hati-hati, ya," ujar Hamdan. Melihat Puji dan Miana bergantian.
"Beres, Mas." Miana tersenyum sembari mengancingkan pengait helm bogo berwarna coklat itu. Tengah bersiap di atas motornya.
Sementara Puji hanya mengangkat ibu jarinya seraya tersenyum.
Hamdan memerhatikan kedua temannya yang tengah bersiap untuk pulang. Sebagai rasa perduli, ia menunggu Miana dan Puji benar-benar berlalu dari toko. Sedangkan Hamdan sendiri berjaga toko bersama Ibnu, salah satu temannya yang kini menghuni lantai dua toko.
Miana melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik arloji yang udah menunjukkan pukul delapan malam. Ia teringat pesan Mama yang begitu menyentil sudut hatinya.
Mama; Kerja apa kamu. Masih sekolah banyak tingkah. Sengaja cari perhatian?
Mama : Awas aja, jika kamu kerja yang nggak bener!
Mama : Kamu ini, masih untung mama perduli kirim pesan sama kamu. Kalau orang tua tanya itu, di balas!
^^^Miana : (mengirimkan foto dirinya saat sedang bekerja) Ma, Mia benar-benar kerja. Bukan sedang mencari perhatian. Miana nggak bisa diam aja nunggu mama kasih uang jajan. Bahkan Mama tidak ada niatan buat mengembalikannya. Miana juga punya keperluan sama seperti Sisil, Ma.^^^
Miranti terpaku melihat foto yang Miana kirimkan. Melihat anaknya bekerja membuat perasaannya sedikit cemas. Bukan karena keselamatan atau memikirkan bagaimana Miana belajar. Tapi, karena takut sang suami akan memarahinya karena teledor menjaga dan mengawasi Miana. Namun, sejujurnya ia sedikit senang karena uang jajan Miana dapat ia gunakan untuk keperluan yang lain. "Ya, itung-itung bantu keuangan keluarga, tak apalah."
Begitu Miana sampai di rumah dan memarkirkan motor di carport, ia membuka pintu samping yang langsung terhubung dengan ruang keluarga. Miana mendapati mama masih duduk di sofa ruang keluarga.
"Assalamualaikum, Ma," ucap Miana.
"Waalaikumsalam,"
"Miana! Mama mau bicara! Duduk!" Miranti melirik sofa di sampingnya. Seolah menegaskan Miana untuk duduk di sampingnya.
__ADS_1
Miana menurut. Namun, dalam hati merasa takut.
"Papa tahu, jika kamu bekerja?" cecar Miranti.
Miana menggeleng pelan. "Enggak, Ma."
"Kamu sengaja mau cari perhatian papa biar jelekin mama,ya!"
Miana mengernyit heran, "Ma, bukan begitu maksud-,"
"Lalu apa?" pangkas Miranti menatap tajam pada Miana.
"Kamu kerja biar papa ngira mama nggak becus jaga kamu, gitu! Nggak di kasih uang jajan. Lalu akhirnya papa marahin mama, gitu, mau kamu!" Miranti sudah tersulut emosi hingga menunjuk-nunjuk wajah Miana.
"Bukan, Ma. Bagi Miana, seberapapun Mama kasih uang jajan ke Mia, akan Mia terima .Oh, ini. Mama perlu tahu, perihal pengeluaran lima belas juta itu adalah ulah Sisil, Ma. Bukan aku. Jikapun, debit card dari papa nggak mama balikin juga, Miana nggak mempermasalahkannya. Miana tahu keperluan mama dan keluarga, jikapun mama yang menggunakan itu, buat Miana nggak masalah. Miana hanya ingin mengisi waktu luang sepulang sekolah buat kerja part time, agar Miana sedikit meringankan papa, Ma. Cuma itu,"
"Oh, ya. Lalu kamu akan ngadu ke papa, gitu!"
"Miana nggak sejahat itu, Ma." Kini Miana sedikit meninggikan suaranya tanda menyangkal tuduhan mama.
"Baik. Anggap saja kali ini mama sangat berterima kasih sama kamu. Kamu mengerti keadaan keluarga." Mama memandang intens pada Miana. "Mama tahu. Kamu anak baik dan tidak menginginkan keributan di rumah ini. Jadi usahakan hal ini jangan sampai papa tahu. Kamu tahu? kenapa mama masih membawa kartu debit kamu? Tentu itu agar sedikit membantu kebutuhan kita. Jadi mama harap kamu bersikap dewasa menyikapi hal ini. Terus terang mama senang kamu mau bekerja. Jadi sedikit beban papa berkurang." Miranti yang awalnya kesal itu mendadak melunak karena kepolosan Miana. Menimang keputusan anaknya yang tentunya dapat menguntungkannya.
"Iya Ma." Apapun untuk membantu papa akan ia lakukan termasuk bekerja paruh waktu. Meski ia harus rela tidur larut karena setelah bekerja masih harus belajar.
"Ya, sudah. Sana pergi," usir Miranti sambil berlalu meninggalkan Miana.
Miana diam terpaku. "Mama benar. Aku memang harus membantu Papa dan menyimpan rapat pekerjaan ku." Miana bermonolog lalau matanya menangkap Bi Num yang berjalan tergopoh-gopoh.
"Bagaimana kerja hari ini, Mbak Mia?" tanya Bi Num. Terlihat sekali raut wajah khawatir dalam tatapan sayu wanita paruh baya itu.
Miana berdiri. Tersenyum menampilkan jajaran giginya yang rapi. Kedua tangannya bertumpu pada bahu BI Num yang lebih pendek darinya. "Semua lancar dan menyenangkan. Jadi berhenti menghawatirkan Mia, ya, Bi,"
__ADS_1
"Bener, pekerjaannya menyenangkan?" tanya Bibi memastikan.
Miana mengangguk cepat seraya mengajak Bi Num ke ruang makan. "Emmm, masih ada makanan nggak, Bi? tanya Miana. Ia bahkan udah memanjangkan lehernya melongok pada meja makan.
"Ada. Selalu ada buat Mbak Mia. Sayur sop, sambal bajak dan tahu goreng. Masih cukup buat Mbak Mia." Bi Num mengusap punggung kurus berbalut seragam toko yang masih di lapisi jaket parka itu.
"Aku makan, ya!" Miana beralih pada kursi lalu bersiap membuka piring. "Sisil sama Mama, udah makan, 'kan, Bi?"
"Sudah. Tinggal Mbak Mia aja yang belum. Kalau papa, nggak tahu," canda Bi Num. Karena memang papa tidak ada di rumah. Dan itu membuat Miana teringat sesuatu.
Miana lekas mengambil ponsel dan memfoto menu yang ada di meja. Dan mengirimkan pada papa.
Bi Num tersenyum melirik kontak chat yang akan menjadi tujuan Miana mengirim foto itu. Mengusap bahu Miana lalu berlalu.
"Bibi tinggal, ya,"
"Iya, Bi Num. Makasih, ya," ucap Miana.
^^^Mari makan, Pa. ✔️^^^
Miana memerhatikan pesannya yang masih centang satu. Satu menit, dua menit, Miana segera mengambil makan. Papa semakin jauh, berkabar pun jarang di balas. Ia hanya mencoba terus berfikir positif. Papa sibuk hanya untuknya dan untuk keluarga. Hanya doa keselamatan dan kesehatan pada papa yang selalu ada dalam list permintaan setiap ia mengadu pada pemilik kehidupan.
Beralih dari ponsel, Miana kembali pada hidangan di meja, melihat sayur sop buatan Bi Num membuatnya lapar. Karena ia masih ingin belajar dan mengerjakan tugas. Maka tidak masalah baginya makan malam kembali. Beruntung Miana tidak memiliki masalah dengan berat badannya. Walaupun makan banyak, tapi tidak berpengaruh pada tubuhnya. Karena memang Miana selalu mengkonsumsi sayur dan menghindari aneka gorengan.
Menyelesaikan makan dan berganti baju rumahan, Miana kini sudah berada di meja belajarnya. Menyelesaikan tugas rumah yang masih belum ia sentuh. Saat fokusnya kembali pada PR ia teringat Bian dan Sisil tadi saat di kantin, membuat sesak tapi juga lega. Sisil bahagia karena kini telah dekat dengan Bian. Dan soal foto di grup kelas dan juga story' beberapa teman kelas yang menegaskan bahwa Bian dan Sisil kini tengah dekat.
"Sudah waktunya aku merelakan Bian buat Sisil. Aku yakin dapat bahagia bila Sisil bahagia. Aku bisa saja memperbaiki keadaan dengan Bian. Aku bisa saja jujur soal foto itu tanpa menyanggahnya. Namun, aku tak ingin itu. Aku ingin Sisil kembali seperti dulu. Adik manis yang sayang aku."
☘️☘️☘️
Semoga pengorbanan kamu nggak sia-sia ya, Miana. Gugur satu tumbuh seribu. Gugur Bian muncul yang lain.
__ADS_1
Masih ada Rio, Roy, Arga, Arkan atau Mas Hamdan. 🤭🤣🤣🤣🤣
makasih yang udah kasih dukungan buat Miana. sementara kisah ringan dulu ya, kapan-kapan lanjut konflik berat, bisa satu minggu, dua Minggu atau satu bulan lagi. 🤭✌️✌️✌️✌️✌️