Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Menantu idaman


__ADS_3

Sesuai permintaan Tegar pada Rana bahwa dirinya akan mengajak Rana menemui sahabat kecilnya yang berkunjung dengan papahnya di rumah orang tua Tegar. Di dalam mobil mereka berdua larut dalam keheningan tanpa sepatah kata pun ingin sekali Rana memecahkan suasana tersebut namun sepertinya usahanya akan sia sia tapi setidaknya hatinya sedikit merasa senang akan berkunjung ke rumah orang tua Tegar karena di sana ada bi Ijah dan Gilang setidaknya akan menghibur hatinya dan yang paling penting Rana akan meminta penjelasan tentang kepribadian Tegar pada bi Ijah karena bukan tidak mungkin bi Ijah tahu semua tentang Tegar mengingat bi Ijah yang sudah mengasuh dua jagoan majikannya sejak kecil.


Tidak lama dari perjalanan rumah mobil Tegar sudah terparkir di halaman dan sudah ada mobil honda HRV warna hitam terparkir disana dan dipastikan sahabatnya Tegar sudah datang, Rana hanya mampu menuruti saja keinginan Tegar begitupun dengan lengannya yang sudah digandeng oleh Tegar ada perasaan senang dan juga sedih senangnya Tegar sudah sedikit melunak hatinya sedihnya itu hanya sandiwara di depan umum seakan menyampaikan bahwa rumah tangganya baik baik saja tapi tidak mengapa karena itu lebih baik dari pada membuat semua orang tahu bahwa hubungan mereka tak sebaik biasanya


"Assalamualaikum..."


Tegar mengetuk pintu seraya mengucap salam melihat ruang tamu sudah ada tiga orang yang duduk disana, sahabat Tegar dan papahnya sedang menikmati momen teh hangat bersama Gilang yang memang kelakuan Gilang pandai bergurau dengan berbagai ocehannya


"Walaikumsalam... Pria sukses sudah datang"


Sahut laki laki paruh baya yang entah namanya siapa Adriana tidak tahu namun fokusnya hanya pada satu wanita yang dipastikan itu adalah sahabat semasa kecil Tegar, Harus Rana akui bahwa wanita itu sangat cantik kecantikannya melebihi Jesi bahkan walau dengan pakaian santai mengenakan celana jeans dan kaos ketat warna putih tulang dengan rambut curly tergerai cukup membuat Rana sedikit rendah diri di hadapan wanita tersebut namun tautan tangan Tegar yang masih memberinya sedikit kekuatan


Tegar dan laki laki paruh baya itu berjabat tangan dan saling berpelukan dengan gaya pria yang lama tak bertemu


"Om Radit nyampe jam berapa kesini?"


Tegar mencoba basa basi dengan laki laki paruh baya tersebut


"Belum lama nak Tegar"


Jawabnya singkat sembari menatap ke arah Rana yang masih dengan pandangan tertunduk


"Ini istrimu nak Tegar?"


Adriana mengangkat wajahnya memberikan senyum yang ia paksakan lalu menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya


"Adriana"


Ucap Rana mencoba memperkenalkan diri

__ADS_1


"Iya om ini istri Tegar namanya Adriana tapi aku sering manggilnya Rana. Lena kenalin ini Rana istri gue cakep kan?"


Tegar berusaha memecahkan suasana karena Gilang tidak ikut menimpali dengan ocehan ocehan nyelenehnya bahkan Gilang justru merasakan ada aura permusuhan dari sirat mata Rana terhadap Lena


Lena dan Rana pun berjabat tangan menyebutkan nama masing masing lalu mereka duduk berlima di sofa ruang tamu


"Adriana bentar yah gue mau panggilin bi Ijah suruh buatin minuman buat lo sama abang gue"


Entah kenapa lidah Gilang masih lemes dengan bahasa 'lo gue' sama kakak iparnya walau Tegar berkali kali meminta pada Gilang untuk memanggil Rana dengan embel embel 'Mba'


"Lo disini ajah biar gue yang samperin bi Ijah di belakang, temenin abang Tegar ajah disini"


Adriana menimpali bahasa Gilang yang begitu santai tujuannya ia tidak ingin merasa asing di keluarga ini di hadapan Lena yang mungkin Lena akan besar kepala karena lebih lama mengenal keluarga Tegar


"Baik bener kakak ipar kesayangan gue ini"


Gilang terkekeh dengan ucapannya sendiri dan Adriana pun berjalan menuju dapur untuk membuatkan teh manis hangat untuk Tegar yang tidak terlalu banyak gula.


Bi Ijah menyapa istri dari majikannya


"Iyah bi baru ajah sampai"


Jawab Rana sambil mencari gula dan teh


"Bibi juga kaget tumben tumbennya neng Lena sama papahnya datang kesini"


Nada bicara bi Ijah sedikit merendahkan volume suaranya


"Kenapa bi?"

__ADS_1


Adriana merasa heran dengan pernyataan bi Ijah karena memang bi Ijah mengetahui cerita masa kecil mereka yang menginginkan Tegar untuk menjadi menantu Raditya


"Dulu pak Raditya tetangga kita non sebelum mereka pindah dan hubungan tuan besar dengan neng Lena cukup dekat semasa kecil dan itu membuat pak Raditya memohon pada tuan dan nyonya saat masih hidup dulu untuk menjodohkan mereka, sayangnya keinginan Pak Raditya langsung ditolak oleh almarhum tuan Prasetya (papah Tegar)"


Adriana mendengarkan dengan seksama penjelasan bi Ijah dan ternyata kecurigaannya benar


"Ga kebayang kalau nyonya dan tuan masih hidup pasti akan bangga punya menantu sebaik non Rana, cantik baik berhijab pula"


Adriana tersipu akan pujian bi Ijah


"Ahhh bi Ijah bisa ajah bikin aku geer"


"Ihhh beneran non.. tuan sama nyonya selalu berharap kelak mantu idamannya sosok yang berhijab non"


Pipi Rana semakin merah merona


"Sayang yah bi papah dan mamah udah nggak ada bahkan aku juga ga pernah tahu..."


Batin Adriana mencelos mengingatkan akan kebaikan mertuanya dulu mungkin saja kalau orang tua Tegar masih ada ia bisa menceritakan keluh kesah rumah tangganya saat ini


"Ya udah bi teh nya udah jadi aku ke depan dulu nanti kita sambung lagi ngobrolnya di taman belakang, aku juga masih kangen sama bi Ijah"


Bi Ijah tersenyum mendengar kata kangen setidaknya wanita yang bersanding dengan tuan besarnya adalah wanita yang mampu menghargai keberadaannya yang hanya sebagai asisten rumah tangga.


Adriana melangkah menuju ruang tamu dengan dua cangkir teh manis untuk Tegar dan dirinya menikmati kebersamaan yang sesungguhnya tidak ingin Adriana berada disana


Belum sampai meletakkan nampan di meja langkah Adriana tertegun melihat keakraban di ruang tamu bahkan Lena tidak sekali dua kali mencubit perut suaminya dan itu adalah salah satu kebiasaan Rana saat bersama Tegar dalam suasana mesranya yang akhir akhir ini telah hilang.


Rana hanya mampu menelan ludahnya menyaksikan kedekatan itu diletakkannya kedua cangkir teh manis tersebut namun Rana segera beranjak pergi lagi tak kuasa jika kehadirannya disana hanya akan membuatnya seperti orang asing di tengah tengah keakraban mereka.

__ADS_1


###


Maaf kalau perasaan para reader kaya diaduk aduk 😅😘


__ADS_2