
Tegar, Devin, dan juga Hans kembali ke ruang persalinan. Mereka ingin mengetahui kondisi Rana dan bayinya, lalu dilihatnya Rana yang masih terlelap tidur, membuat Tegar tidak tega melihatnya.
Tegar mengelus puncak kepala Rana penuh sayang, sementata Devin dan Hans sedang asyik melihat Tegar junior yang diletakkan tidak jauh dari ranjang Rana. Kedua laki-laki berbeda generasi itu tersenyum damai saat melihat putra Tegar yang tidur lelap.
"Kalau saja dulu Adriana tidak keguguran, mungkin Ayah sudah menimang cucu darimu Vin." gumam Hans pelan, membuat Devin tersenyum getir di samping Hans. Pria itu tidak menjawab sepatah katapun.
Adriana mulai mengerjapkan matanya, mencoba untuk sadar dari tidur. Tegar yang melihat Rana mulai bangun berusaha membantu Rana yang ingin mencoba duduk bersandar di kepala ranjang.
"Mas, dede bayinya mana? Aku ingin gendong." rupanya Adriana sudah tidak sabar ingin membawa putranya ke dalam gendongan.
"Memangnya sayang sudah kuat?" tanya Tegar yang ingin memastikan kondisi Adriana.
"Aku sudah baikkan Mas, aku pengen banget gendong jagoan aku." Rana merengek pada suaminya, lalu Hans segera mengangkat putra Rana penuh hati-hati, mengingatkannya pada masa Devin baru lahir.
"Ini putramu Nak, lucu sekali mirip bapaknya." ujar Hans sambil memberikan putra kecil Rana yang masih terlelap tidur.
"Terimakasih Ayah, sudah membantu aku dan mas Tegar menyelamatkan kami dari ancaman Lena." tiba-tiba Rana teringat kejadian di rumahnya, saat Devin dan Hans membantu menyelamatkan nyawanya.
"Anggap saja itu cara kami menebus dosa kami Nak." tutur Hans dengan perasaan yang sangat tulus, lalu Adriana menatap Tegar dan juga Devin bergantian.
Menurut Adriana seperti ada yang aneh, namun cukup menggelitik hatinya. Bisa-bisanya mantan suami dan suaminya berkumpul dalam satu ruangan.
__ADS_1
Kini, giliran Devin yang bergerak maju untuk mendekatkan dirinya dengan Adriana. Tadinya Devin masih mematung di dekat tempat tidur bayi.
"Adriana maafkan semua dosaku di masa lalu. Kini aku tersiksa atas semua perbuatanku sendiri terhadap almarhum Kiran, almarhum Jesi, dan juga kamu. Aku mohon, maafkan aku Adriana."
Adriana terkejut saat mendengar Jesi sudah almarhum. Tegar yang melihat reaksi Adriana segera memegang bahu Adriana untuk memberikan sedikit kekuatan.
"Devin, apa serius Jesi meninggal?"
Adriana seperti tak percaya dengan kenyataan yang Devin tuturkan, kemudian Devin hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Innalilahi wainailayhi rojiun, Jesi sakit apa Vin?" tanya Adriana, ingin mengetahui penyebab kematian Jesi.
"Asma, dia sudah lama mengidap asma. Namun, gaya hidupnya yang tidak pernah berubah semakin memperparah kondisinya. Maka dari itu aku dan ayah mendatangi rumah kalian, tujuan kita hanya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya pada kalian. Karena, aku tidak ingin hidup tersiksa oleh rasa bersalah."
Devin turut bahagia melihat Rana bahagia. Cukup melihat Rana tersenyum bahagia, sudah menjadi bagian dari perasaan Devin. Walau senyum Adriana bukan bersama dirinya.
"Aku turut berduka cita Vin. Soal kesalahanmu di masa lalu, aku sudah memaafkannya. Lihatlah aku sekarang sangat bahagia bersama mas Tegar, begitupun denganmu Vin. Hiduplah menjadi Devin yang baru, yang jauh lebih baik. Insyaallah kelak kamu akan mendapatkan yang lebih baik pula."
Devin tersenyum mendengar penuturan Adriana yang sangat terbuka akan permintaan maafnya.
"Thanks Adriana. Bang Tegar, kalian memang pasangan yang luar biasa. Pernikahan itu mudah, yang tidak mudah adalah bagaimana kita tetap mempertahankan untuk tetap menjadi rasa bahagia seperti saat pertama."
__ADS_1
Mendengar ucapan Devin, Tegar hanya tersenyum ikhlas, ia mampu menerima permintaan maaf dari Devin.
Tidak ada rasa cemburu sama sekali dari Tegar untuk Devin. Karena, jauh dalam lubuk hatinya Tegar merasakan permintaan maaf yang begitu tulus dari Devin, itu terbias dari sirat mata Devin.
"Mulai sekarang kita masih tetap keluarga Vin, dari dulu lo udah gue anggap ade sendiri. Tapi, jangan coba coba rebut bidadari gue!" pekik Tegar di akhir kalimat.
Semuanya terkekeh saat mendengar kalimat terakhir Tegar.
Betapa indahnya ketika dendam menyatu dalam damai, ketika persaingan menjadi keikhlasan.
••• End •••
Ketika Tuhan mengambil apa yang kita cintai, bukan berarti Tuhan tidak menyayangi kita.
Hanya saja Tuhan sedang memaksa kita untuk membuka tangan kita untuk menerima yang lebih baik.
Walau harus dengan cara yang sulit kita terima.
♥♡ Miss Viona ♡♥
Terimakasih yang sebesar-besarnya buat semua reader. Kalian penyemangatku 😉
__ADS_1
Kalau ada yang kurang berkenan di novel pertamaku ini, author mohon maaf yang sebesar-besarnya ya... 😊