Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Tak sebrengsek itu


__ADS_3

Adriana beranjak pergi menuju taman belakang rumah orang tua Tegar dengan raut wajah merah padam tak kuasa menahan sesak di hatinya menyaksikan keakraban antara Lena dengan Tegar. Bi Ijah yang melihat kondisi Rana dengan mata berkaca kaca segera mengikuti majikan wanitanya


"Non.. Non Rana nangis?"


Bi Ijah menyelidik kedua bola mata coklat sayu milik Rana dan benar saja dugaan bi Ijah kalau majikannya menangis tanpa suara apapun nafasnya terengah engah yang sulit Rana normalkan kembali


Tangan bi Ijah yang sudah mulai keriput membelai lembut pundak Rana mencoba memberikan sedikit ketenangan


"Bi apa sikap mas Tegar itu selalu sulit untuk memaafkan orang yang telah membuatnya kecewa?"


Adriana sudah tak kuasa menahan kegelisahannya sejak Tegar mendiamkan Rana bingung harus bercerita pada siapa baginya tidak ada tempat untuk bersandar dan bi Ijah sangat tepat untuk Rana meluapkan isi hatinya


"Non ada masalah apa dengan tuan besar?"


Bi Ijah mencoba menyelidik permasalahan yang terjadi diantara pasangan muda tersebut


"Mas Tegar sudah terlalu jauh akan sikap posesifnya bi, dia mengira aku masih mencintai mantan suamiku"


Adriana tertunduk di hadapan bi Ijah netranya tak kuasa menatap lawan bicara karena buliran bening sudah mengalir deras


"Non Rana sudah menjelaskannya?"


"Sudah bi namun tidak mudah bagi mas Tegar mengembalikan sikap hangatnya seperti dulu"


Bi Ijah menghela nafasnya dalam


"Non dalam rumah tangga cobaan itu wajar apalagi usia pernikahan non Rana dengan tuan besar yang baru seumur jagung, bi Ijah yakin hati tuan besar masih sepenuhnya untuk non Rana apalagi bi Ijah yang sudah tahu betul sifat tuan besar yang tidak akan mudah melepaskan apa yang telah dicarinya non.. percayalah sama bi Ijah.."


Rana mengernyitkan dahinya seakan tak percaya akan ucapan yang telah dituturkan oleh bi Ijah


"Kalau mas Tegar masih mencintaiku tidak akan mungkin sediam ini bi dan marah berlarut larut padaku, dan tidak ada hal yang lebih menyakitkan ketika kita didiamkan seperti tak dianggap ada walau jarak kita sangat dekat"

__ADS_1


Bi Ijah sangat mengerti betul kondisi Rana saat ini, diraihnya bahu Rana dalam pelukannya pelukan yang terasa nyaman seperti seorang ibu untuk putrinya yang telah lama tidak dirasakan oleh Adriana mengingat ibunya yang sudah tiada


"Non Rana.. bibi kasih tahu yah tentang tuan besar, dari kecil sampai dewasa seperti saat ini sikap buruk dari tuan besar adalah sikap marahnya yang berlarut larut. Dulu waktu kecil tuan besar kalau marah sering mengurung diri diam berhari hari bahkan bi Ijah yang tidak tahu apa apa juga ikut didiamkan"


Bi Ijah tersenyum merasa tergelitik hatinya jika mengingat masa kecil kedua jagoan anak majikannya


"Non Rana harus sabar jangan sampai masa ini menghancurkan bahtera rumah tangga non, bi Ijah senang sekali tuan besar mendapat wanita seperti non Rana.."


Bi Ijah mencoba memberikan semangat untuk Rana


"Jangan sampai rumah tangga non hancur lagi seperti dulu apa kata orang nantinya non.. bisa bisa orang akan mengira non Rana lah yang ga bisa menjaga rumah tangganya, maaf non kalau bibi bicara seperti ini dan yang terpenting non Rana harus jagain tuan besar super ketat karena bibi mencium bau bau pelakor di ruang tamu"


Kalimat terakhir yang bi Ijah sampaikan dengan cara berbisik bisik tepat di telinga Rana karena memang bi ijah tidak menyukai kehadiran Lena dan papahnya di rumah ini


"Bibi jangan suudzon dulu bi..."


Rana masih mencoba menepiskan praduga bi ijah


Bi Ijah menyodorkan kotak tisu untuk Rana merasa kasihan melihat mata Rana yang memerah akibat aliran air mata yang begitu deras.


###


Hati Rana sudah merasa sedikit lebih baik setelah mendengar nasehat dari bi Ijah langkahnya menyusur kembali ke ruang tamu untuk menemui Tegar dan berusaha tidak terjadi apapun di hadapan mereka berempat namun sayangnya Rana hanya menemukan obrolan dua lelaki yang berbeda generasi sementara Gilang dan Lena berpindah ke halaman menikmati suasana taman berdua


"Nak Tegar kedatangan om kemari hanya demi putri semata wayang om, om rasa permintaan om ini memang sedikit gila tapi om juga tidak mau melihat anak om merasakan penderitaannya yang selama ini dia menyimpan hati untukmu nak"


Langkah Adriana tertahan telinganya ia pasang benar benar ingin mengetahui pembicaraan selanjutnya


"Om sudah gila! mau memaksakan kehendak om untuk menyatukan aku dan Lena"


"Memang sedikit gila Tegar tapi kalian masih belum punya anak setidaknya masih ada harapan untuk Lena bersatu denganmu"

__ADS_1


Tegar mulai tersulut emosinya mendengar tuntutan Raditya yang secara tidak langsung mengharapkan pernikahan Tegar berakhir lalu menikahi Lena


"Kalau saya menyukai Lena dari dulu buat apa saya menikah di usia yang sudah terlalu matang hanya untuk menunggu kehadiran sosok Rana di hidupku, tidak om jangan konyol!"


Tegar mulai berbicara dengan nada membentak seolah tak perduli bahwa Raditya adalah sosok orang tua


"Tapi Tegar om mohon di usia Lena yang sudah terlalu matang Lena siap menjadi madumu cukup berikan Lena keturunan setelah itu kamu boleh pergi meninggalkan Lena"


Lena sangat memimpikam memiliki seorang anak dari Tegar Prasetya tidak masalah jika cintanya tidak terbalaskan oleh Tegar


"Om pikir memberikan keturunan tidak berdasarkan cinta satu sama lain, aku bukan pria brengsek kebanyakan om tolong aku merasa direndahkan disini dengan masud dan tujuan datang kesini. Aku tahu aku dan Rana belum dikaruniai anak tapi itu tidak akan membuatku berpaling mencari wanita lain dan Lena sosok wanita cantik anak dari om Raditya yang banyak dihormati rasanya tidak pantas untuk dijadikan maduku"


Adriana mendengar dengan jelas dari obrolan mereka, tangannya membungkam mulutnya menahan sesak yang tak kuasa ingin dilampiaskan menjadi jeritan dan isak tangis


Adriana berbalik arah mencari pintu keluar lewat pintu belakang namun langkahnya tersandung dengan ambalan lantai yang menghubungkan ruang TV dengan ruang tamu


Brakkkkkkk


Terdengar suara Adriana terpeleset jatuh yang sontak membuat Tegar terkejut dilihatnya Rana yang sedang mencoba bangkit Tegar pun menghampiri istrinya dengan hati yang cemas, cemas akibat luka terpeleset dan cemas akan luka di hati Rana yang telah mendengar semua obrolannya bersama papah Lena


"Rana..."


Tegar meraih lengan Rana dengan sigap matanya menelusuri wajah sang istri yang sudah merah padam dan berkaca kaca dan jelas sudah Adriana sudah mendengar obrolannya


"Lepas mas.. aku ingin pulang"


Adriana berlari secepat mungkin meraih tas yang ia letakkan di nakas ruang TV lalu ia bergegas meninggalkan rumah orang tua Tegar dengan luka yang sama saat mendengar Devin menikah sirih dengan Jesi


Tegar berusaha mengejar Rana dan sampai di tepi jalan raya Adriana menyetop taxi ingin segera meninggalkan rumah tersebut.


###

__ADS_1


Maaf yah kalo ada yang kebawa baper😢😊


__ADS_2