
Lena masih menatap tajam Adriana, rahang wajahnya mengeras. Apalagi Lena kini menatap perut buncit Adriana, membuat hatinya semakin hancur. Harus Lena akui bahwa dirinya sama sekali tidak memiliki harapan lagi untuk memiliki Tegar.
"Bahagia kamu di atas penderitaanku. Aku yang selalu menantikan cinta Tegar, tapi justru kamu yang mendapatkan Tegar." tandas Lena saat jaraknya begitu dekat dengan Adriana.
"Lena, bukankah cinta itu tak bisa dipaksakan?" ujar Adriana yang mencoba membuka logika Lena untuk bisa berpikir realistis. Sementara bi Ijah masih setia mengawasi percakapan dua wanita cantik yang berbincang di ruang tamu.
"Tidak Rana! Kalau saja kamu tidak hadir dalam kehidupan Tegar, pastinya Tegar akan menjadi milikku seutuhnya." Lena masih berusaha membenarkan asumsinya.
"Cinta itu tentang dua hati, Lena. Suara tepuk tangan tidak akan pernah terdengar jika kamu hanya menggunakan satu telapak tangan saja. Begitupun dengan bahtera rumah tangga. Aku harap kamu mengerti."
Adriana masih berani menatap wajah Lena, namun ia tidak ingin ikut terbawa emosi. Apalagi Adriana sekarang sedang mengandung, itu sangat tidak baik bagi kandungannya.
"Maksudmu cintaku ini bertepuk sebelah tangan?" Lena semakin geram akan ucapan Adriana.
"Memang seperti itu adanya Lena. Perasaan mas Tegar tidak lebih dari sebagai teman untukmu, hanya itu, sadarlah. Dunia ini maha luas Lena, masih banyak lelaki yang jauh lebih baik dari mas Tegar untukmu." Adriana masih berusaha tegas di depan Lena.
"Maksud kamu biar kamu bisa enak-enakan menikmati kebahagiaanmu kan? Meminta aku mencari laki-laki lain?" pekik Lena dengan menyentuh rahang Adriana kasar. Bi Ijah yang menyaksikan perbuatan Lena terhadap Adriana merasa panik, lalu bangkit dari sofa untuk mencoba menyingkirkan tangan Lena.
"Neng Lena jangan keterlaluan!" seru bi Ijah, namun tangan Lena terlalu kuat untuk bi Ijah tepiskan, mungkin akibat emosi yang sudah menguasai hati Lena.
"Lena percayalah, hidup bersama dengan orang yang tidak pernah merespon balik perasaan kita, tidak akan enak untuk kita jalani." sepertinya kata-kata Adriana semakin membuat tangan Lena kasar terhadap Adriana.
__ADS_1
Bi Ijah bersusah payah menyingkirkan tangan Lena, namun justru bi Ijah yang didorong dengan kasar, wanita paruh baya itu tersungkur di lantai.
Adriana mulai ketakutan menghadapi Lena, nafasnya memburu, degub jantungnya berpacu lebih cepat.
"Lena tolong lepaskan aku! Lena aku janji, setelah lahir bayi ini aku akan meminta mas Tegar menceraikanku, lalu menikahimu."
"Kamu pikir aku bodoh Rana! Kamu hanya membohongiku saja kan?" Lena semakin geram dan berteriak.
Kini tangan Lena memekik leher Adriana, membuat Adriana kesulitan bernafas.
Bi Ijah mulai bangkit, mencoba menarik tubuh Lena. Namun, usahanya kembali sia-sia. Wanita paruh baya itu kembali tersungkur di lantai.
Suara jeritan bi ijah yang terdengar oleh Tegar, membuat langkah Tegar semakin tergesa-gesa saat menuju ruang tamu.
"Hentikan Lena!" ancam Tegar setelah sampai di ruang tamu.
Tegar tak kuasa menyaksikan istrinya dalam posisi tercekik, dan kesulitan bernafas. Diraihnya tubuh Lena dengan kasar oleh Tegar.
Tegar tak kuasa menahan emosi, lalu ditamparnya wajah Lena dengan keras, bahkan tanda jemari Tegar terbias merah di pipi Lena. Padahal, Tegar itu sama sekali bukan tipe laki-laki ringan tangan. Namun, saat melihat tingkah Lena yang sudah menyakiti istrinya, membuat Tegar mau tidak mau melakukan itu terhadap Lena.
"Kurangajar kamu Lena! Aku pikir kamu tidak akan pernah senekad ini akan obsesimu."
__ADS_1
Tegar langsung meraih tubuh Adriana dalam dekapannya, begitupun dengan Adriana yang ketakutan, ia langsung memeluk erat tubuh suaminya. Setidaknya, Adriana merasa sedikit lega setelah kedatangan Tegar.
"Kamu tega Tegar melakukan semua ini padaku." keluh Lena dengan mengusap pipinya yang merah akibat tamparan Tegar.
"Jangan coba menyakiti wanitaku, kalau kamu masih ingin hidup normal Lena." Tegar mengancam Lena dengan nada yang begitu sarkas.
"Lalu persahabatan kita akan kamu lupakan begitu saja?" ucapan Lena masih menuntut Tegar.
"Sekarang aku tahu alasan kenapa papah dan mamahku tidak pernah menyetujui usulan perjodohan ayahmu, ternyata kelakuan kamu sangat rendah." seketika kata-kata yang Tegar ucapkan membuat Lena menangis tersedu.
"Baiklah Tegar, kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka wanita manapun tidak boleh memiliku seutuhnya!" ujar Lena yang mulai melirik ke arah Adriana.
Lena menggerakkan jari telunjuknya yang tertuju pada Adriana, lalu diambilnya sebuah belati tajam dari saku celana jeans yang Lena kenakan. Sontak membuat Tegar panik dan meminta Adriana untuk berada di belakang Tegar.
Tegar tidak ingin terjadi apapun pada wanita yang sangat ia cintai. Sementara bi Ijah berusaha keluar rumah untuk mencari bantuan, karena kedua majikannya kini dalam kondisi terancam.
•••
Happy reading guys 😉
Jangan lupa buat klik like di tiap episode ya
__ADS_1