
Terdengar suara ketukan pintu yang membuat langkah Adriana berbalik menuju pintu utama.
"Masa iya sih mas Tegar balik lagi?"
Gumam Adriana yang merasa heran siapa yang datang.
Ceklek. . .
Pintu pun terbuka menampilkan sosok wanita paruh baya berdiri dengan paduan gamis dan hijab syar'i berwarna coklat. Wanita yang masih terlihat cantik walau usianya sudah tidak muda lagi.
"Ibu. . ."
Adriana segera menarik tangan kanan Marisa kemudian menciumnya.
"Masuk bu, ayo masuk."
Adriana mempersilahkan mantan mertuanya untuk masuk.
Perpisahan antara Adriana dengan Devin tidak mengurangi rasa hormatnya pada Marisa. Andai saja semua sifat baik Marisa turun pada putranya, mungkin Adriana masih bahagia bersama Devin. Sayangnya Devin tidak memiliki sifat sebaik Marisa dan Hans.
"Ibu sama siapa kesini?"
Adriana mencari cari sosok Hans yang harusnya ada di samping Marisa.
"Ibu sama pak Budi kesini, nyari nyari alamat kamu nak. Soalnya ibu datang ke hotel kata resepsionis kamu gak ada."
Pak Budi merupakan sosok supir pribadi Marisa yang selalu setia mengantar jemput majikan perempuannya.
Hans sengaja tidak ingin ikut menemani Marisa, menurut Hans dirinya sudah tidak punya muka lagi di hadapan Adriana. Biarlah istrinya saja yang masih berupaya menyatukan anaknya untuk kembali bersama mantan menantunya. Walau kesempatan itu sudah mendekati nol persen, tapi setidaknya Marisa sudah mencoba untuk memohon Adriana kembali.
__ADS_1
"Rana buatkan teh manis hangat dulu ya bu, teh manis yang tidak terlalu manis kesukaan ibu."
Adriana masih ingat betul selera gula mertuanya dulu. Membuat hati Marisa semakin menyesali perilaku putra semata wayangnya terhadap wanita yang begitu baik seperti Adriana.
"Kamu masih ingat saja nak."
"Tentu bu, ya udah Adriana ke belakang dulu ya."
Marisa mencoba melihat lihat suasana rumah baru Adriana dengan harapan masih ada sisa sisa barang yang Adriana bawa saat masih bersama Devin, seperti foto atau apapun itu. Sayangnya semuanya tidak Marisa temukan, Adriana ternyata benar benar ingin membuang jauh jauh tentang Devin.
Tidak lama Adriana datang kembali dengan membawa nampan yang berisi teh manis hangat dan cemilan kecil untuk Marisa.
"Terimakasih sayang."
Ujar Marisa seraya melebarkan senyumannya.
"Sama sama bu."
Adriana tidak mengerti apa yang akan disampaikan oleh mantan mertuanya.
"Bilang saja bu, dikabulkan atau tidak yang penting sudah tersampaikan oleh ibu."
Adriana mencoba memberikan kesempatan pada Marisa untuk menyampaikan maksud dan tujuannya yang sudah rela jauh jauh dari Jakarta.
"Ibu minta maaf sebelumnya kalau ibu memohon padamu, ibu tahu Devin sudah menggoreskan luka yang dalam untukmu. Hanya saja ibu masih menginginkan rumah tangga kalian masih bisa diselamatkan nak, kembalilah menjadi menantu ibu, menjadi anak perempuan ibu."
Mendengar permintaan Marisa membuat hati Adriana nyeri tak tertahankan merasakan perih di masa lalu. Nafas Adriana terasa sesak dan sulit untuk bicara. Raut wajahnya pun berubah merah padam.
Harus bagaimana Adriana menyampaikan penolakannya pada Marisa?
__ADS_1
Adriana sama sekali sudah tidak ingin kembali jatuh di kesalahan yang sama. Jangankan untuk kembali, mendengar nama Devin pun Adriana sudah enggan.
"Ibu. . . dengan kembali atau tidaknya Adriana dengan mas Devin tidak akan mengubah kedekatan kita bu. Adriana masih tetap menghargai ibu sebagai orang tua."
Di hadapan Marisa Adriana masih menyebut Devin dengan sebutan 'Mas' demi menghormati Marisa.
"Tapi nak, ibu masih ingin melihat Devin hidup lebih baik bersamamu. Hanya kamu yang bisa membawa Devin menjadi lebih baik."
Marisa masih memaksakan keinginannya pada Adriana.
"Aku sudah gagal bu. Aku gak bisa, buktinya mas Devin lah yang sudah menceraikanku."
Adriana pun tidak mau kalah, ia tetap mempertahankan tekadnya yang tidak ingin kembali bersama Devin.
"Sekarang Devin sudah menyesali semua perbuatannya di masa lalu, Tuhan sedang menghukumnya dengan kehilangan kamu dengan kandunganmu."
"Ibu, kesempatan yang aku berikan sudah terlalu banyak disia siakan oleh putra ibu sendiri. Adriana hanya manusia biasa bu, masih memiliki batas kesabaran. Adriana tidak sanggup menghadapi lelaki seperti mas Devin. Waktu tidak akan pernah bisa mengembalikan kesempatan yang hilang."
Seketika hati Marisa hancur mendengar pengakuan Adriana yang sudah dikecewakan oleh putranya.
"Maafkan Rana bu. Hati Rana sekarang sudah sepenuhnya untuk mas Tegar. Laki laki yang selalu ada untuk Rana di masa masa sulit Rana, mas Tegar lah yang sudah menjadi sosok malaikat bagi Rana, di saat Rana jatuh dan kecewa tak percaya akan cinta. Kegigihannya meyakinkan Rana kembali akan kehidupan Rana yang harus terus berlanjut. Rana tidak sanggup menyakiti hati laki laki sebaik mas Tegar bu, hati Rana sudah ada mas Tegar. Nama Devin sudah tidak ada lagi disana bu."
Marisa sangat terpukul akan pengakuan isi hati Adriana yang mengagungkan nama Tegar di hadapannya.
"Iya sayang ibu hargai pilihan hidupmu, karena Devin lah yang justru mengikis cinta kamu untuknya, hingga membuat cinta itu hilang berubah menjadi luka. Luka yang sulit disembuhkan dan hanya nak Tegar lah yang mampu mengobati luka yang sudah Devin torehkan di hatimu nak."
Marisa menangis tergugu, membuat Adriana tidak tega untuk segera memeluk Marisa.
"Rana yakin suatu saat ibu akan mendapatkan menantu yang jauh lebih baik dari Rana, selagi mas Devin mau memperbaiki dirinya. Bukankah jodoh adalah cerminan diri kita."
__ADS_1
••••
Like and comment ya 😘