
Satu bulan telah berlalu pasca pernikahan sirih Devin dengan Jesika. Sudah tiga hari Devin tidak pulang ke rumah, Devin hanya memberi tahukan alasannya via telpon pada Adriana bahwa ia akan mengikuti meeting tahunan yang rutin diadakan di penghujung tahun.
Meeting tersebut selalu diikuti oleh perusahaan lain yang bergerak di bidang property, seolah menjadi ajang kompetisi bagi beberapa perusahaan yang bergerak di bidang tersebut.
Setiap tahun Devin akan berangkat untuk mengikuti meeting tersebut, namun ada perasaan janggal yang menyelimuti hati Adriana.
Jika Devin ikut meeting tahunan harusnya Vian pun ikut seperti tahun-tahun sebelumnya. Bukankah perusahaan yang mereka kelola bergerak di bidang yang sama?
Batin Adriana semakin bertanya-tanya, ada apa sebenarnya dengan perubahan sikap Devin yang mengurangi intensitas komunikasinya? Bahkan sekarang Devin jarang pulang ke rumah, kalaupun pulang hanya sebentar. Begitupun dengan aktivitas ranjangnya, frekuensi Devin menginginkan Adriana sudah tak sesering dulu.
Bukannya Adriana yang ingin selalu dijamah oleh Devin, hanya saja perubahan itu yang membuat Adriana merasa kalau Devin semakin menjauh.
Adriana memutuskan untuk pergi ke lantai tujuh, lantai dimana ruangan bosnya berada. Adriana ingin menanyakan perihal meeting tersebut apakah benar adanya atau Devin yang mengada-ada.
Tok Tok. . .
"Masuk."
Sahut sang pemilik ruangan, Adriana pun bergegas membuka pintu.
"Eh Adriana. . Sini duduk."
Vian mempersilahkan karyawan cantiknya untuk duduk di kursi yang tepat berhadapan dengan meja kerjanya.
"Ada apa Dri?"
Vian penasaran dengan kedatangan Adriana. Padahal ia tidak meminta desainernya untuk mendatangi ruangannya.
"Emmm. . ."
Adriana sedikit gugup dengan mengaitkan jemarinya di atas paha.
"Santai Adriana, tidak usah sungkan. Ayo bilang ada apa?"
Sikap Vian memang begitu hangat pada semua karyawan Permata Gallery.
"Saya cuma mau tanya sama bapak. Apa benar minggu ini diadakan meeting tahunan seperti biasanya pak?"
Adriana memberanikan diri untuk bertanya.
"Oh... Kick off meeting akhir tahun maksudnya?"
__ADS_1
Adriana hanya menganggukkan kepalanya
"Belum Dri, makanya saya masih stay di kantor. Agendanya kan minggu depan."
Informasi yang Vian berikan cukup menusuk hati Adriana.
Kemana kamu mas?
Batin Adriana semakin penasaran akan alasan-alasan Devin beberapa waktu ini.
"Kenapa Adriana? Kok tiba-tiba nanyain itu?"
Vian penasaran akan perubahan sikap Adriana.
"Emmmm tidak apa-apa pak Vian."
Adriana tak ingin Vian mengetahui kondisi rumah tangganya yang sudah tak sehangat dulu.
"Pasti Devin kan?"
Vian mulai menyinggung kehidupan pribadi Adriana.
"Iya pak, mas Devin sudah gak pulang selama tiga hari in. Alasannya ada meeting."
Vian menghela nafasnya dalam, merasa kasihan pada Adriana. Wanita yang begitu hits di kantornya saat masih single, kini diperlakukan seperti ini oleh suaminya.
Hampir rata-rata karyawan laki-laki selalu mencoba mendekati Adriana, namun sayangnya wanita seperti Adriana adalah wanita yang memegang teguh prinsip. Adriana tidak akan memiliki relasi lebih dengan rekan kerjanya.
"Adriana bukannya saya mau lancang ataupun ikut campur dalam rumah tangga kamu. Sebagai atasan saya merasa iba akan perubahan sikap Devin yang mengabaikanmu akhir-akhir ini."
Vian mulai menyampaikan rasa ibanya pada Adriana.
"Saya sarankan saat Devin pulang nanti berlakulah seperti biasanya, lalu kamu ikuti kemana dia pergi."
Saran Vian kali ini sangat Adriana terima. Adriana akan mencoba melakukannya seorang diri untuk menyelidiki langsung kecurigaannya terhadap Devin.
"Baik pak Vian terimakasih buat waktu bapak."
Adriana lalu beranjak dari ruangan Vian.
"Sama-sama Adriana. Jangan sungkan sama saya."
__ADS_1
Adriana pun berlalu dari hadapan Vian untuk kembali ke ruangannya melanjutkan pekerjaan yang sempat terhenti.
•••
Sepasang suami istri sirih tengah menikmati kebersamaannya di sofa depan TV. Jesi bersandar dengan manja di bahu Devin, tangan kirinya memeluk perut Devin.
Sementara Rania sedang asyik duduk di lantai dengan mainan boneka barbie kesukaannya. Anak kecil itu seperti memberikan ruang untuk kedua orang tuanya bermesraan.
"Sayang sore ini aku akan pulang ke rumah, kasihan Adriana, aku sudah tidak pulang selama tiga hari ini."
Kata-kata yang diucapkan Devin membuat Jesi melepaskan pelukannya.
"Jahat kamu Dev."
Rajuk Jesi yang tak ingin ditinggalkan.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, kamu harus terima resikonya menjadi istri kedua."
Devin mencoba menyadarkan Jesi.
"Iya iya aku tahu. Ternyata gak enak banget ya jadi istri simpanan."
Pribadi Jesi memang begitu berani dalam berucap. Atittudenya sungguh berbeda dengan Adriana. Sejak dulu di masa pacaran selama lima tahun bersama Devin membuatnya merasa jadi wanita yang seenak jidat kalau bicara.
"Kok ngomongnya gitu sih Jes? Tolong ngertiin, apalagi Adriana sedang hamil sekarang. Aku harus memastikan keadaanya."
Devin masih menekan Jesi untuk mengerti.
"Ya udah iya, sana pulang."
Ujar Jesi sembari mengecup bibir Devin dengan gaya nakalnya. Senyuman pun melengkung dari sudut bibir Devin.
Devin kini menghampiri putri kesayangannya yang masih asyik bermain barbie.
"Rania sayang papa kerja dulu ya. Rania jaga mamah baik-baik dan jangan nakal."
Devin mengelus kepala Rania lalu menggendong dengan penuh kasih.
"Papa jangan lama-lama. Lania masih kangen papa."
Devin hanya terkekeh gemas akan putrinya, lalu menciumnya dan menyerahkan Rania dalam gendongan Jesi.
__ADS_1
••••