Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Tetaplah menjadi Rana ku


__ADS_3

Adriana dan Tegar memasuki rumah baru mereka, lalu melihat lihat sekeliling rumah. Langkah Adriana menuju ruang TV untuk melihat sofa yang begitu empuk dan lembut dan membuat Adriana tertarik untuk duduk bersandar merasakan kelembutan sofa tersebut.


"Hmmmm lembut banget mas, bikin ngantuk."


Adriana menempelkan wajahnya di sandaran sofa, lalu Tegar ikut menyusul duduk di samping Rana.


"Mau nyoba di atas sofa gak?"


Tegar berbisik nakal pada istrinya seolah ingin mencoba aktivitas mesumnya di ruang TV, dan bisikan itu membuat Adriana seketik menarik tubuhnya menjauh dari Tegar.


"Mesum!"


Adriana senang sekali mengatai suaminya dengan sebutan mesum, padahal wajar saja jika Tegar selalu menginginkan Adriana lagi dan lagi, karena ini benar benar pengalaman pertama Tegar melakukan hubungan intim. Walaupun Tegar saat masa kuliah terkenal nakal tapi tidak membuatnya bersikap nakal pada wanita.


Tegar meraih tangan Adriana, lalu membawanya ke dalam dekapan yang terasa menghangatkan dan mendamaikan.


"Terimakasih sayang sudah mau menerimaku menjadi imam dalam hidupmu."


Ucap Tegar dengan tatapan mata nyalang menatap langit langit rumah.


"Iya mas, aku juga gak pernah nyangka kita akan bisa bersama sebahagia ini."


Adriana mendongakkan wajahnya dalam dekapan lengan kekar milik Tegar, dan menatap wajah tampan Tegar.


Melihat reaksi Adriana yang seperti itu kemudian Tegar mengecup puncak kepala Rana dengan perasaan mendalam.


"Andai kamu tahu Rana perasaan mas, saat lamaran mas kamu gantung terus."


Tegar ingin sedikit bercerita masa masa dimana ia baru melihat Rana dan tergila gila akan Rana.


"Emang gimana rasanya mas?"


Adriana begitu antusias ingin mendengarkan cerita suaminya.


"Terbesit rasa ketakutan yang tak kunjung hilang, apa lagi saat Devin masih datang memohon cinta kamu."

__ADS_1


Ingin sekali Tegar bercerita atas apa yang telah ia lihat di ruangan Rana, ketika dirinya mendatangi Larasati`s View.


"Sebelum mas pergi meeting ke Jepang, mas melihat Devin datang memohon padamu untuk kembali. Saat itu mas melihat dibalik pintu ruangan kamu Rana, dan saat itu pula mas berusaha melupakan kamu, tapi kenyataan dan kehendak Tuhan yang sudah menakdirkan kita untuk bersama."


Tegar kini menggenggam erat jemari Adriana.


"Harus mas akui, terkadang rasa takut akan Devin itu masih muncul di hati kecil mas, tapi semuanya segera mas tepiskan, karena mas yakin setelah melalui semua ini cinta kamu seutuhnya hanya untukku Rana. Hanya untuk seorang Tegar Prasetya."


Adriana mengembangkan senyumannya dan membelai rambut bermodel babershop milik Tegar dengan penuh perasaan sayang. Apa yang diungkapkan Tegar sungguh membuat hati Adriana tersentuh.


"Aku jadi ingin tahu pertama kali mas lihat aku dimana?"


Sampai sekarang pun Tegar masih belum menceritakan pertemuan pertamanya dengan Rana.


"Hmmm istri mas kepo banget ya."


Tegar mulai menggoda Adriana, dan tidak tahan ingin mencubit istri mungilnya.


"Iya, iya, mas ceritain deh."


Tegar mengingatkan masa masa Adriana dulu saat menjadi desianer di perusahaan Vian.


"Kamu tuh orangnya gak peduli dengan lingkungan sekitar kamu, kamu terlalu fokus sama tujuan hidupmu Rana, sampai sampai ada mas yang asyik liatin, kamu gak peduli."


Tegar begitu gemas jika mengingat masa itu, masa dimana Rana masih terlihat cuek dan asing padanya.


"Terus, terus, terus."


Adriana semakin ingin tahu cerita Tegar.


"Apa lagi kalau kebetulan kamu nyanyi di panggungnya Cika, beuhhhh hati mas tuh udah meleleh banget sayang."


Adriana tersipu akan pengakuan Tegar kali ini, lalu mencubit perut suaminya untuk menahan rasa malu.


"Gombal"

__ADS_1


Ujar Adriana.


"Kalau mas gombal gak akan mungkin membawamu sampai sejauh ini dalam kehidupanku sayang. Dan buktinya kamu sekarang sedang memeluk pria gombal ini."


Memang benar adanya, bukti cinta Tegar untuk Rana tak pernah semu. Semuanya Tegar lakukan demi wanita pujaan hatinya.


"Sayang, ayo ikut aku kesini."


Tegar menarik lengan Adriana membawanya ke suatu ruangan, lalu mata Adriana Tegar tutup dengan kedua tangannya.


"Ada apa sih mas?"


Rana semakin penasaran. Setelah beberapa langkah dari ruang TV, kedua tangan Tegar ia lepaskan perlahan.


"Sekarang buka mata kamu sayang."


Tegar mengizinkan Rana untuk membuka matanya. Saat Adriana membuka mata, ia melihat satu set meja piano dalam ruangan tersebut, meja piano yang terlihat begitu mewah, dengan desain ruangan yang sudah disulap menjadi studio musik.


"Mas ini beneran buat aku?"


Adriana seakan tak percaya, bahkan mantan suaminya yang dulu tidak pernah tahu akan hobi Adriana.


"Iya sayang, buat kamu."


Adriana segera melangkah cepat menuju kursi yang berhadapan dengan piano. Adriana sudah tak sabar ingin mencobanya, mata Adriana sangat antusias untuk mencoba anak papan piano. Satu persatu dengan kepala yang ia angguk anggukan perlahan mengikuti nada yang ia tekan, lalu Adriana beranjak dari kursinya dan segera memeluk Tegar dengan erat. Kelakuan Adriana pada Tegar terlihat seperti anak kecil akibat kegirangan dihadiahkan piano oleh suaminya.


"Makasih banget sayang."


Adriana mengecup pipi Tegar dengan kaki jinjit, mengingat postur tubuh Tegar yang cukup tinggi membuatnya sedikit kesulitan.


"Jadilah dirimu sendiri Rana. Jangan jadikan pernikahan ini alasan untuk menghentikan hobi dan mimpimu, karena kebahagiaan kamu adalah bahagiaku. Tetaplah menjadi Rana yang seperti ini, menjadi Rana yang senyum dan bahagianya hanya untukku, dan hanya bermanja padaku. Tetaplah menjadi Rana ku."


••••


Klik like ya 😉

__ADS_1


__ADS_2