Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Pria di seberang sana


__ADS_3

Seperti malam malam biasanya sebelum tidur Adriana ingin bersantai di sofa balkon kamarnya untuk menikmati angin sejuk di malam hari. Tentunya Adriana menikmati santai bersama suaminya. Tegar nampak begitu santai mengenakan trening abu abu dengan paduan kaos hitam polos, namun tidak mengurangi sisi ketampanannya.


Tegar dengan manja tidur di atas sofa menggunakan paha mulus milik Adriana sebagai bantal. Kenyamanan yang tiada tara bagi Tegar, kenyamanan yang tak pernah Tegar dapatkan dari wanita manapun sebelum hadirnya Adriana di kehidupannya.


Adriana membelai rambut potongan barbershop milik Tegar dan sesekali mengelus dahi sang suami.


"Sayang, momen seperti ini yang selalu mas rindukan di sela sela aktivitas kantor."


Entah kenapa Tegar selalu ingin membahas perasaannya untuk Rana, menurutnya itu penting dalam hubungan, agar cinta semakin tumbuh diantara satu sama lain.


"Benarkah?"


Adriana merespon pengakuan Tegar dengan gurauan, seperti akting terkejut, dan terasa itu dibuat buat bagi Tegar.


"Nyaman banget kalau udah di posisi begini sayang."


Kembali Tegar meyakinkan suasana hatinya pada Adriana.


"Aku juga bahagia banget saat saat kita bersama, dan pasti akan lebih bahagia lagi kalau aku bisa mengandung darah daging kamu mas."


"Aamiin."


Tegar langsung meng amiin kan kalimat terakhir yang Adriana ucapkan, dengan tujuan segera memotong pembicaraan Adriana. Dalam hati Tegar tidak ingin membuat Adriana sedih perihal anak.


"Jangan terlalu memaksakan sayang. Pernikahan kita baru saja sekitar tiga bulan, justru harus kita nikmati momen momen seperti ini. Nanti kalau ada dede bayi malah gak bisa mesra mesraan kaya gini sayang."


Kali ini Adriana terkekeh akan ucapan Tegar tentang anak. Memang benar yang dikatakan suaminya jika kelak ia punya anak perhatiannya akan terbagi untuk anaknya kelak.


"Mas bisa ajah nih jawabnya."

__ADS_1


Adriana menarik hidung mancung milik Tegar dengan gemas, apalagi posisi Tegar yang masih berbaring di pangkuan Adriana membuatnya semakin mudah meraih batang hidung Tegar.


"Awww, awww, sakit."


Tegar menjerit dengan nada manja, lalu bangkit dari pangkuan Rana, dan membawa Rana dalam pelukannya dengan gemas.


Adriana tertawa penuh kemenangan telah membuat suaminya merengek kesakitan dengan hidung yang sedikit memerah.


"Nakal banget istri mas tuh ya."


Tegar berusaha mencubit pipi Rana, namun sayangnya wajah Rana sudah ia benamkan di dada bidang milik Tegar, sambil tertawa geli Rana merasakan ekspresi Tegar yang gemas akan dirinya.


"Sayang sepertinya besok mas gak bisa jemput kamu pulang."


Ucapan Tegar membuat mata Adriana melirik ke atas dimana kepala Tegar sedang menempel di puncak kepalanya.


"Kenapa sayang?"


"Mas besok akan berkunjung ke kantor cabang yang ada di Bogor, bareng Bryan berangkatnya Takutnya nanti nyampe sini malem, kasihan kalau istri mas nunggu di hotel sampe malem."


Tegar tidak ingin membuat istrinya menunggu.


"Ya udah besok Rana bawa mobil sendiri ajah mas."


Memang sudah lama Adriana merindukan menyetir mobil kesayangannya.


"Jangan sayang nanti berangkatnya mas anterin, tapi nanti pulangnya mas suruh supir kantor ajah jemput kamu."


Tegar tidak ingin melihat istrinya kesusahan.

__ADS_1


"Gak papa mas, aku bisa jaga diri, jangan ngerepotin orang lain. Lagian aku kangen nyetirin si putih mas. Bololeh ya ya please."


Adriana seperti anak kecil yang sedang memohon pada orang tuanya


"Ini dulu."


Tegar menunjuk pipi kanannya meminta satu kecupan dari Adriana dengan ekspresi wajah yang begitu genit di hadapan istrinya.


Cuppppp


Adriana langsung mencium pipi Tegar dengan malu malu, dan sukses membuat Tegar tersenyum senang akan tingkah Adriana.


•••


Mobil fortuner hitam sudah terparkir di seberang hotel milik Rana. Entah mengapa sudah menjadi kebiasaan Devin untuk singgah di seberang sana, sebelum melanjutkan perjalanannya ke kantor hanya demi melihat Rana.


Walau hati Devin kadang sakit harus menyaksikan Rana yang bergandeng mesra dengan Tegar, tapi tak mengapa, bagi Devin dengan melihat Adriana sudah lebih dari cukup.


Kali ini Devin beruntung mendapati Adriana membawa honda mobilio putih yang sangat Devin kenal, dan itu artinya Adriana datang sendirian tanpa Tegar.


Devin memandang Adriana berjalan memasuki hotel dari seberang sana, melihat Adriana begitu cantik mengenakan rok jeans sepan panjang dengan paduan kaos hitam polos serta hijab yang senada dengan warna bawahannya dengan menenteng tas tangan warna hitam yang semakin membuat penampilan Adriana santai, namun tetap stylish.


Senyum merekah dari sudut bibir Devin, menikmati pemandangan di seberang sana. Walau Adriana sudah memasuki hotel miliknya, entah kenapa Devin masih ingin berlama lama berada di seberang sana.


Tak lama kemudian Adriana kembali menuju mobil dan pergi meninggalkan hotel. Entah kemana ia akan pergi seorang diri dengan raut wajah begitu cemas dan langkah yang tergesa gesa.


"Adriana kamu mau kemana?"


Gumam Devin dibalik kemudi mobilnya. Devin segera menyalakan mesin mobil untuk mengikuti kemana Adriana pergi, karena Devin pun merasa cemas melihat raut wajah Adriana dari kejauhan seperti orang yang ketakutan.

__ADS_1


••••


Klik like ya 😉


__ADS_2