Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Kenali aku lebih jauh


__ADS_3

Setelah peristiwa pertemuan dengan keluarga kecil Devin, kini Tegar segera menuntun langkah Adriana menuju mobilnya. Tegar ingin segera pergi meninggalkan hotel yang menggelar pameran desain.


Tegar pun nampak begitu khawatir akan kondisi psikologi Adriana, seakan Tegar paham benar bagi sebagian orang yang mengalami masa perceraian pasti akan menyisakan kondisi dimana Adriana merasa takut dan terancam.


Sesampainya di mobil Tegar memberikan jeda waktu untuk Adriana menenangkan diri.


"Menangislah Rana kalau kamu mau menangis."


Adriana masih terdiam berusaha menahan tangisnya, sayangnya usahanya sia sia, buliran bening itu mengalir deras membuat kedua bola mata coklatnya terasa panas. Tegar segera meraih tisu di samping kiri kursi kemudinya, lalu menyodorkan pada Adriana.


Ingin sekali Tegar mendekap Adriana ke dalam pelukannya, namun laki laki ini masih sadar bahwa Adriana bukanlah tipe wanita yang akan menerima kontak fisik berlebihan jika bukan dengan muhrimnya. Yang bisa Tegar lakukan hanya sebatas mengelus pundak ringkih wanita pujaan hatinya.


"Tiap malam aku selalu dihantui perasaan takut, rasa gelisah dan mimpi buruk tentang perlakuan Devin padaku, tapi hari ini seolah mengembalikan lagi ingatanku yang dulu."


Dengan nada terbata Adriana meluapkan emosinya. Tegar tak kuasa melihat wajah ayu Adriana berderai air mata.


Kedua tangan Tegar meraih tangan Adriana untuk berusaha menguatkannya.


"Dengarkan aku Rana."


Bisik Tegar seakan mengisyaratkan Rana untuk menatapnya balik. Rana pun menegakkan kepalanya lalu menatap Tegar sesaat.

__ADS_1


"Kamu harus bangkit dari rasa takut, kamu harus melawan kenangan pahit bersama Devin. Masih ada aku disini yang akan selalu menjagamu, kamu tidak sendiri Rana."


Dengan tatapan yang begitu serius Tegar menuturkan kalimatnya dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.


"Terimakasih mas Tegar."


Hanya sebatas itu Adriana membalas kata-kata yang sudah Tegar ungkapkan padanya.


"Aku antar kamu ke apartemenku, malam ini kamu gak usah cari penginapan lain. Aku takut akan keselamatan kamu Rana."


Rana sudah tidak memiliki rumah di Jakarta lagi, rumahnya yang dulu sudah ia jual sebelum mengurus kepindahannya ke Bandung. Rana tak ingin menyisakan kenangan pahit apapun di Jakarta.


"Apa kita akan tidur satu apartemen maksudnya?"


"Hahaaa terlalu jauh pikiran kamu Rana. Aku gak sebrengsek itu."


Tegar justru tertawa melihat ekspresi wajah Adriana yang ketakutan.


"Rana tidur di apartemenku bukan berarti kita akan tidur satu atap. Apa tampangku ini terlalu brengsek di matamu Rana?"


Adriana sedikit terkekeh akan ucapan Tegar barusan.

__ADS_1


"Ya terus mas Tegar tidur dimana kalau apartemennya dipake sama aku?"


"Aku akan pulang ke rumah almarhum orang tuaku, disana hanya ada adik laki laki ku. Sudah lama juga aku gak ketemu sama dia."


"Memangnya mas Tegar berapa bersaudara?"


Tegar tersenyum mendengar pertanyaan Adriana yang pelan pelan ingin tahu sedikit tentang dirinya.


"Aku dua bersaudara, cowok semua. Adikku mungkin seumuran kamu deh. Nanti besok pagi aku kenalin ya."


Rana hanya tersenyum simpul mendengar ajakan Tegar.


"Aku ingin kamu bukan hanya mengenalku saja, tapi juga mengenal orang orang di sekitarku Rana. Aku serius ingin membawamu ke dalam hidupku."


Adriana kembali terenyuh akan niatan Tegar yang tidak main main terhadapnya.


Setelah merasakan suasana hati Adriana yang mulai membaik, Tegar segera melajukan mobilnya menuju apartemen.


Suasana hati Tegar berbeda dengan Adriana, pria itu begitu bahagia tak terkira malam ini, karena bisa menemani wanita pujaan hatinya.


••••

__ADS_1


Klik like ya 😘


__ADS_2