
Adriana begitu sibuk dengan layar laptop untuk mengecek semua anggaran hotel dan inovasi baru yang akan ia buat agar hotelnya masih tetap dalam kondisi yang stabil, bahkan harus lebih berkembang dibandingkan saat di bawah kendali Devin.
Sebelumnya Hans sudah mempercayakan semuanya pada Devin, sebelum Hans mengetahui bahwa Devin sudah berselingkuh dengan Jesi.
"Pusing gue lama-lama."
Adriana sedikit mengeluh sambil menekan pelan kedua pelipisnya, akhirnya Adriana memutuskan untuk menunda pekerjaannya sejenak.
Adriana pergi dari ruang kerjanya menuju area taman hotel. Matanya terasa begitu kering setelah berkutat dengan monitor, mungkin saja udara segar di taman akan sedikit membantu mengembalikan semangatnya.
Sebelum langkah kakinya menuju taman Adriana sempat memesan minuman dingin rasa coklat keju untuk menemaninya duduk bersantai disana.
Pandangan Adriana masih fokus pada lingkungan sekitar hotel, ambisinya jika kelak hotelnya semakin maju ia akan merubah desain hotel yang sesuai dengan karakter Adriana dan sekaligus menghapus kenangan tentang Devin.
Walaupun hotel yang Hans berikan padanya adalah hasil desain Adriana, namun tetap saja yang diaplikasikan dalam desain bangunan hotel tersebut masih mempertahankan selera Devin, membuat Adriana ingin menghapus semua tentang Devin dalam hal apapun.
Mata Adriana kini menatap dengan pandangan kosong, sesekali ia menyesap es yang sudah ia pesan.
"Rana. . ."
Panggilan yang terasa begitu akrab di telinga Adriana, namun dari suaranya terasa begitu asing. Entah siapa yang memanggilnya? Setahu Adriana yang memanggil Rana hanya Cika sahabatnya.
Adriana semakin peanasaran, matanya segera mencari sumber suara. Ternyata seorang laki-laki tampan beralis tebal dengan mata coklat yang sudah memanggilnya, tapi Adriana sama sekali tidak mengenal laki-laki tersebut.
Masih ingat saat Adriana memainkan piano di caffe milik Cika? Ada seorang laki-laki yang menatapnya dengan antusias di sudut taman caffe milik Cika.
"Maaf pak, bapak siapa ya?"
__ADS_1
Tanya Adriana keheranan. Laki-laki itu justru duduk di samping Adriana.
"Fans kamu."
Jawaban yang sangat membuat Adriana terkekeh. Batinnya mengatakan kalau laki-laki ini sedikit gila.
"Serius pak, anda ini siapa? Tahu nama saya dari mana?"
Laki-laki itu hanya tersenyum saat mendengar rentetan pertanyaan Adriana.
"Pertama saya melihatmu saat menyanyikan lagu mellow di sebuah caffe di Jakarta."
Tiba-tiba Adriana ingat akan caffe milik Cika. Terakhir kali Adriana menyanyikan lagu di caffe Cika, saat ia memergoki Devin yang tengah bermesraan dengan Jesi.
"Nama kamu Rana kan? Waktu itu pemilik caffe memanggilmu dengan nama itu."
Tutur pria itu lagi.
Adriana masih penasaran, bahkan ia belum tahu siapa nama pria tersebut.
"Bukannya saya sudah bilang kalau saya ini fans kamu."
Rasanya sangat menggelitik perut Adriana setiap pria itu mengatakan dirinya sebagai fans.
"Suara dan bakat kamu bermain piano cukup bagus, jadi saya masih ingat terus nama kamu."
"Bapak berlebihan."
__ADS_1
Ujar Adriana berusaha merendahkan diri.
"Apa saya terlalu tua Rana? Dari tadi saya dipanggil bapak terus."
Entah kenapa pria itu suka sekali menggoda Adriana. Sementara Adriana hanya tetap diam dengan senyuman canggung.
"Tegar Prasetya."
Pria itu menyodorkan tangan kanannya, mengenalkan namanya pada Adriana. Sayangnya Adriana tidak menyambut tangan pria bernama Tegar. Adriana hanya menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada.
"Adriana."
Ucap Adriana lembut.
"Aneh ya kenapa waktu di caffe temanmu memanggil nama Rana."
Tegar mencoba mencari informasi lebih dalam lagi tentang Adriana. Selama ini Tegar selalu berharap bertemu dengan Adriana kembali setelah pandangan pertamanya di caffe milik Cika.
"Alasan sahabat saya sih dia bilang biar lebih mudah manggilnya dengan panggilan Rana."
Jawab Adriana polos.
"Oh. . begitu. Baiklah tidak keberatan kan kalau saya ikutan panggil nama kamu sama seperti sahabatmu?"
Adriana hanya menanggapi pria itu dengan senyuman yang canggung. Pria yang terlalu percaya diri menurut Adriana, tapi hati kecil Adriana tidak menafikan kalau sosok Tegar Prasetya memiliki paras tampan yang cukup membuat hatinya merasa sedikit berdebar.
Adriana segera menepiskan debaran yang menyelimuti hatinya. Saat ini ia masih tak ingin merasakan cinta yang hanya akan membuatnya perih dan menyakitkan. Bagi Adriana jatuh cinta hanya akan berujung menyakitkan.
__ADS_1
••••
Yang suka novel ini vote ya 😉