
Suasana senja yang begitu indah tengah Adriana nikmati di halaman rumah, ditemani secangkir teh hangat yang sudah dibuatkan oleh mbok Yum. Setidaknya teh hangat sedikit melepaskan lelahnya sepulang kerja.
Mata Adriana memandang mawar putih di halaman, mawar itu semakin tumbuh bermekaran.
Pikiran Adriana kosong menerawang jauh, memikirkan akan nasib pernikahannya yang terasa semakin hambar.
Perubahan sikap Devin yang semakin terasa begitu menyesakkan dada Adriana. Tak ada lagi dekapan mesra Devin sepulang kerja, tak ada lagi chatting romantis dari Devin di sela-sela aktivitas Devin. Bahkan kata 'I love You' yang sering Devin kirimkan di pesan whatsapp sudah tak ada lagi.
Tuhan. . .
Apa ini cobaan rumah tangga kami?
Adriana semakin membatin.
Pikiran Adriana kini teringat akan beberapa cerita orang tua bahwa akan ada saja ujian yang datang pada seorang wanita hamil.
Apa mungkin perasaan Devin sudah memudar padanya?
Entahlah Adriana sudah tak mampu berpikir lagi. Rasanya terlalu lelah memikirkan Devin.
Tiba-tiba suara mobil yabg begitu Adriana kenal datang memasuki halaman rumah. Entah harus bahagia atau kecewa melihat Devin pulang.
Hati kecil Adriana sangat merindukan sang suami, namun logikanya berkata lain. Adriana sangat kecewa akan kebohongan yang sudah Devin buat, perihal meeting palsu beberapa hari kemarin.
Laki-laki tinggi berjambang tipis itu turun dari mobil, matanya langsung tertuju pada sang istri yang masih setia melamun di teras.
Adriana mengacuhkan kedatangan Devin, walau Vian sudah memberikan saran pada Adriana untuk tetap berlaku biasa saja menghadapi Devin, kenyataannya Adriana adalah seorang wanita yang tak pandai menyembunyikan perasaannya.
"Sayang, mas pulang kok gak disambut?"
Pertanyaan Devin membuyarkan lamunan Adriana.
"Eh iya mas maaf. Aku asyik melamun."
Adriana berusaha menepiskan kebohongan Devin, lalu meraih tangan Devin dan menciumnya.
Devin langsung memeluk Adriana, bukan pelukan kerinduan, itu hanya bentuk pelukan rasa bersalahnya akan kebohongan yang telah ia buat, meninggalkan istri dan kandungannya hanya untuk bersenang-senang dengan Jesi di apartemen. Adriana tidak pernah tahu kalau Devin memiliki apartemen.
"Mata kamu sembab gitu sih sayang?"
Sesaat Devin memperhatikan wajah ayu Adriana yang nampak seperti orang kurang tidur dan habis menangis.
"Gak ada mas selama tiga hari aku gak bisa tidur."
Rajukan Adriana seolah ingin mencairkan suasana hatinya sendiri.
"Maaf ya sayang mas terlalu sibuk. Besok kita ke dokter ya periksain kandungan kamu yang sudah menginjak tiga bulan."
Alhamdulillah Devin masih ingat akan usia kandungan istrinya.
__ADS_1
"Iya mas."
"Ya udah mas mandi dulu ya. Lengket banget badannya, bau asem pula."
Devin beranjak masuk meninggalkan Adriana yang masih ingin duduk melamun di teras.
•••
Pagi-pagi buta setelah shollat subuh Devin membaca pesan yang dikirimkan oleh Jesi.
:: Sayang cepet datang ke rumah sakit,
asma Rania kambuh lagi. ::
Devin begitu panik membaca isi pesan dari Jesi. Devin segera meraih kunci mobil dan menghapus pesan dari Jesi. Devin takut history chatt terbaca oleh Adriana.
"Mas mau kemana pagi-pagi buta begini?"
Tanya Adriana keheranan melihat di luar masih gelap, hanya sayup-sayup fajar yang mulai terbit.
"Ada temen kecelakaan, kasihan mas harus segera bantu."
Teman yanga mana? Setahu Adriana hanya Ricky sahabat yang masih dekat dengan Devin.
"Ricky?"
"Bukan sayang teman kuliah, kasihan dia disini gak ada keluarga lagi."
Devin semakin pandai berdusta, ia bergegas menuju garasi mobil untuk segera menemui Rania dan Jesi di rumah sakit.
Adriana pun bergegas memakai hijabnya mengikuti kemana Devin akan pergi.
"Mbok Yum aku titip rumah mbok."
Adriana pamit pada mbok Yum yang keheranan melihat sepasang suami istri melesat dengan mobil masing-masing.
•••
Devin berlari menuju ruang rawat Rania, ia sudah memasuki kamar Rania yang sudah terpasang nebul di mulutnya.
Penyakit asma yang diidap oleh Jesi ternyata menurun pada Rania, membuat Jesi menangis tergugu di samping ranjang putri kesayangannya.
Devin memeluk erat pundak Jesi, mencoba memberikan kekuatan pada Jesi.
"Aku takut kehilangan Rania Dev, aku takut."
Jesi menangis tergugu di pelukan Devin.
"Sabar sayang, anak kita pasti kuat."
__ADS_1
Bisik Devin lirih sembari mencium puncak kepala Jesi.
'Sayang. . .'
Deggg
Panggilan itu membuat hati Adriana begitu nyeri, merasakan nafas yang begitu sesak menyaksikan keluarga kecil yang dirundung kesedihan akan kondisi balitanya.
"Tega kamu mas."
Gumam Adriana di balik pintu kamar Rania yang sedikit terbuka, membuat obrolan diantara mereka terdengar.
Kaki Adriana terasa lemas tak mampu lagi menopang badannya untuk berdiri. Adriana terduduk di lantai, air matanya berderai seolah tak percaya bahwa suaminya telah berkhianat sejauh ini.
Kepercayaan yang Adriana berikan pada Devin kini telah Devin hancurkan.
Adriana menuju bagian resepsionis untuk memastikan bahwa hubungan mereka sudah sejauh mana.
"Selamat pagi Ibu, ada yang bisa kami bantu?"
Resepsionis rumah sakit menyapa Adriana dengan begitu sopan.
"Saya mau menengok pasien atas nama Rania."
"Rania siapa bu nama lengkapnya? "
Adriana tidak mengetahui nama lengkap Rania.
"Coba mba search nama ayah atau ibunya bisa mba?"
"Bisa, siapa namanya bu?"
"Jesika Fransiska"
Jawab Adriana dengan suara terbata.
"Ada, atas nama ibu Jesika Fransiska istri dari Bapak Devin Aditya Pratama."
Hancur sudah hati Adriana saat mengetahui kalau mereka diam-diam sudah menikah tanpa seizin Adriana.
Begitu bodohnya Adriana yang baru mengetahui akan rahasia Devin. Pantas saja akhir-akhir ini Devin mulai berubah.
Adriana segera berlari menuju area parkir rumah sakit, hatinya sudah tak tertahankan lagi ingin menumpahkan derai air matanya dibalik setir mobil.
Adriana menangis tergugu disana, tak kuasa menerima kenyataan bahwa Devin telah menikahi Jesika. Sungguh kenyataan yang sulit Adriana terima, rasanya Adriana seperti sedang berada dalam mimpi buruk yang mengharuskan dirinya segera bangun agar bisa lepas dari perasaan tidak enak seperti ini. Tapi kenyataannya ini bukan mimpi, Devin memang benar-benar sudah berkhianat di belakang Adriana.
••••
😢😢😢
__ADS_1