Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Lelaki terhebatku


__ADS_3

Satu minggu telah berlalu pernikahan Tegar dengan Adriana. Tegar lebih memilih menghabiskan waktunya di Bandung, di rumah Adriana, sembari menemani sang istri mengurus beberapa dokumen pemindahan kepemilikan hotel. Adriana sudah menjual Larasati`s View, rencananya ia akan membuka kembali hotelnya di Jakarta.


"Sayang, apa semuanya sudah beres? Pastikan gak ada barang yang tertinggal ya. Untuk urusan mobil kamu biar nanti mas suruh supir kantor ajah bawa mobil kamu ke Jakarta."


Tegar mengingatkan Adriana yang masih sibuk mengecek barang barang yang akan ia bawa untuk kepindahannya ke Jakarta. Rumah Adriana di Bandung akan ia kosongkan, tapi Tegar berpesan untuk tidak menjual rumah tersebut, karena Tegar sangat merasakan kenyamanan di rumah Adriana dengan suasana perkebunan yang tenang di sekitar rumah. Suasana yang sangat berbeda dengan hiruk pikuk kota Jakarta.


"Udah mas, ayo kita berangkat."


Tegar segera membawa koper milik Rana ke bagasi mobil, lalu Adriana sibuk mengunci semua pintu rumah. Rumah Adriana akan ditengok satu minggu atau dua minggu sekali, sesuai permintaan Tegar yang sangat merasa nyaman untuk melepaskan penat urusan kantor di rumah Rana.


"Bismillah, kita berangkat sayang."


Ucap Tegar sebelum melajukan mobilnya meninggalkan rumah Rana dengan perasaan bahagia. Senyuman pun selalu tersungging dari bibir tipis milik Tegar.


Adriana yang merasa kelelahan tertidur pulas selama perjalanan. Empat jam perjalanan membuat Tegar geleng geleng kepala dan tidak tega untuk membangunkannya.


Pelan pelan Adriana membuka matanya, menyadari pemandangan di sekitar perjalanan.


"Mas aku tidur pules banget ya?"


"Iya sayang."


Adriana merasa tidak enak hati pada suaminya, membiarkannya menyetir mobil dalam keheningan.


"Maafin Rana ya mas udah buat mas bete nyetir, gak ada yang nemenin ngobrol."

__ADS_1


Tegar hanya tersenyum simpul mendengar permintaan maaf istrinya, hatinya tidak tega saat melihat Rana tertidur pulas menahan rasa lelah, karena siang dan malam Adriana sibuk menjadi ibu rumah tangga. Melayani suaminya baik urusan lahir ataupun batin. Hampir tiap malam Tegar selalu meminta Rana untuk melayani hasratnya. Sepertinya Rana sudah seperti candu bagi Tegar.


Frekuensi hubungan intim mereka satu hari bisa mencapai tiga kali, sudah seperti minum obat saja. Tegar benar benar dimabukkan dengan pesona dan wangi tubuh Rana yang selalu menginginkannya lagi dan lagi. Wajar saja kalau Rana selalu merasakan kantuk di siang hari akibat ulah bayi besarnya.


"Gak papa sayang, mas kasihan lihat kamu kelelahan gara gara ngurusin mas."


"Aku ikhlas mas melakukan semuanya untukmu mas."


Ujar Adriana dengan tatapan yang masih fokus melihat jalanan di depan.


"Mas, ini kok bukan jalan menuju apartemennya mas?"


Adriana merasa aneh mau dibawa kemana oleh suaminya, karena ini bukan jalan menuju rumah peninggalan orang tua Tegar.


"Iya sayang bukan jalan menuju apartemen."


"Terus kita mau kemana mas?"


Adriana semakin penasaran.


"Tunggu ajah sayang, sebentar lagi kita sampai."


Sekitar lima belas menit kemudian mobil Tegar berhenti di rumah yang menampilkan hamparan taman yang cukup luas, rumah tersebut dipenuhi dengan tanaman bunga mawar putih dan aneka warna bunga tulip kesukaan Adriana. Bangunan rumah tingkat dua lantai dengan desain minimalis sesuai selera Rana.


"Ini rumah siapa mas?"

__ADS_1


Tegar hanya tersenyum, kemudian turun dari mobil membukakan pintu mobil untuk Adriana.


"Ini hadiah untuk pernikahan kita sayang..."


Tegar meraih bahu istrinya, lalu menatap rumah yang selama ini ia bangun tanpa sepengetahuan Rana.


"Maksud mas kita akan tinggal disini?"


Adriana memastikan kembali pernyataan Tegar.


"Tentu sayang, kamu suka?"


Wanita mana yang tak suka dihadiahi rumah mewah.


"Mas kok gak bilang sebelumnya ke aku?"


Adriana menuntut penjelasan dari suaminya.


"Sayang.. Maafkan aku, bukannya aku tidak mau bilang atau menyembunyikannya dari kamu, hanya saja mas takut semuanya tidak terwujud. Setelah kamu memutuskan untuk menerima lamaran mas, saat itu juga mas memikirkan dimana kita akan tinggal. Biar kelak saat kita punya anak, anak kita akan tumbuh di rumah ini."


Adriana merasa terharu atas apa yang telah dilakukan oleh Tegar untuknya secara diam diam.


"Makasih mas, kamu memang lelaki terhebatku yang tak pernah lelah memikirkan masa depan untuk kita."


Adriana mengeratkan pelukannya di pinggang kekar milik Tegar, lalu menatap rumah yang akan ia tempati bersama suami tercintanya.

__ADS_1


••••


Babang Tegar huhu. . .😊


__ADS_2