Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Bersatu demi Rana


__ADS_3

Bi Ijah keluar dari ruang tamu menuju teras, ia berjalan menuju gerbang rumah, lalu dilihatnya sosok laki-laki paruh baya yang ditemani oleh putranya.


Rupanya Hans dan Devin yang datang, mereka berniat berkunjung ke rumah Tegar perihal permintaan maaf.


"Pak tolong, tolong majikan saya Pak." bi Ijah meminta pertolongan pada Hans dengan kedua bola mata berkaca-kaca.


Seketika itu juga Devin berlari memasuki rumah Tegar, lalu diikuti oleh Hans dan bi Ijah.


Devin berjalan mengendap-endapkan langkahnya saat mendekati pintu utama rumah Tegar, terlihat aksi brutal Lena di sana. Terlihat Lena tengah menempelkan ujung pisau di wajah Tegar.


"Tegar, hiduplah bersamaku. Tinggalkan wanita murahan itu!" ucap Lena sambil menunjuk ke arah Adriana.


Tegar sangat merasa terancam akan aksi Lena. Mata Tegar dan Devin beradu pandang, seolah mengisyaratkan bahwa Devin harus membantunya. Karena, posisi Devin lebih menguntungkan. Devin berdiri di belakang Lena tanpa Lena sadari.


"Lena kalau kamu mau hidup bersamaku, biarkan aku hidup sekarang, tanpa harus ada ancaman seperti ini. Biar nanti kita jalani hidup bersama." ucapan Tegar berusaha membodohi Lena.


"Apa kamu serius Tegar?" Lena ingin memastikan ucapan Tegar.


"Aku serius Lena." Tegar menatap mata Lena lekat, berusaha mengalihkan perhatian Lena dari Devin.


Lena yang merasa senang akan tatapan mesra Tegar, tidak menyadari kalau ada Devin di belakang tubuhnya.


Melihat kondisi Lena yang sedikit lengah, membuat Devin bergerak maju untuk menyerangnya, lalu menghalau laju Lena untuk berbuat lebih nekad lagi.


Devin langsung meraih tubuh Lena dari belakang, meringkusnya dalam pelukan kasar, lalu pisau belati milik Lena terjatuh.


"Adriana, pergi dari sini!" seru Devin, merasa cemas akan keselamatan mantan istrinya. Apalagi kini Adriana tengah hamil besar. Devin tak ingin menyaksikan Adriana mengalami keguguran untuk kedua kalinya.


"Ayah bawa Adriana!" perintah Devin meminta bantuan Hans. Urusan Lena biar dirinya dengan Tegar yang akan menyelesaikannya.


Mereka berdua berusaha meringkus Lena yang masih meronta dalam dekapan Devin.


Lena berusaha sekuat tenaga meraih pisau yang tergeletak di lantai, entah kekuatan dari mana? Lena mampu meraih pisau tersebut.


"Lena jangan nekad, pikirkan hidupmu jika kamu tega melakukan semua ini." ucapan Tegar kembali membujuk Lena. Sementara Lena masih mencari sosok Adriana, tekadnya sudah bulat ingin melukai wanita yang sangat Tegar cintai.


Lena langsung berlari memasuki area tengah rumah, namun tidak ia temukan Adriana. Tegar dan Devin sekuat tenaga menghalau laju Lena yang semakin berang seperti kesetanan.

__ADS_1


Jika Devin ataupun Tegar maju satu langkah saja, dapat dipastikan pisau tersebut akan melukai salah satu diantara mereka.


"Jangan lakukan itu Lena, please!" Tegar masih memohon, walau ia tahu itu hal yang konyol.


Langkah Lena menyusur ke lantai dua, di sanalah Hans dan Adriana beserta bi Ijah berada. Melihat sosok wanita yang Lena cari ada di sana, membuat senyuman sadis Lena tersungging dari bibirnya.


"Tamat hidupmu malam ini Rana!" ancam Lena.


Lena semakin mendekat ke arah Adriana, berusaha meraih lengan Adriana, namun beruntung Adriana masih dihalangi oleh Hans.


Devin dan Tegar yang ikut menyusul ke lantai dua, mengedipkan kedua mata mereka, seolah pertanda bahwa mereka berdua akan menyerang Lena bersamaan, lalu meringkus Lena kembali.


"Minggir tua bangka! Saya tidak ada urusan denganmu." pekik Lena merasa kesal pada Hans.


"Tidak semudah itu Nak, untuk bisa menyakiti anak perempuanku." ujar Hans di depan Lena.


Kasih sayang Hans untuk Adriana masih belum berubah, ia masih menganggap Adriana seperti putri sendiri.


Baru saja Lena mengangkat pisau belati di tangan kananya, Tegar langsung mendekap Lena kuat-kuat dari belakang.


Sraaaaaaaattttttt


Darah segar mengalir dari lengan Devin, sekuat tenaga Devin berusaha merebut pisau tersebut dari Lena. Namun, Lena justru menggoreskan pisaunya di lengan Devin.


Pemandangan darah segar itu membuat Adriana terkejut, ia tak kuasa melihat mantan suaminya meringis kesakitan.


"Bi buruan ambil kotak P3K di bawah, ayo Bi!" Adriana meminta tolong pada bi Ijah. Sebenarnya bi Ijah takut untuk melangkah ke bawah, walau Lena sudah berhasil diamankan oleh Tegar.


"Siap Non."


Bi Ijah segera turun mencari kotak P3K, sementara Hans ikut meringkus Lena. Ia takut kalau Lena akan meronta kembali, lalu diambilnya seutas tali yang biasa digunakan sebagai pengikat gorden jendela rumah Tegar untuk ia gunakan mengikat kedua tangan Lena.


Devin masih meringis kesakitan, Adriana yang melihatnya merasa tidak tega. Tidak lama kemudian bi Ijah datang dengan membawa kotak P3K, dan langsung ia berikan pada Adriana.


Adriana mendekat ke arah Devin, memintanya duduk di sofa yang terletak di dekat pintu kamar utama. Sementara Tegar dan Hans membawa Lena ke lantai bawah untuk menyerahkan Lena ke pihak kepolisian terdekat.


"Ayo Devin, aku bantu obati lukamu." tawaran Adriana membuat Devin merasa canggung.

__ADS_1


Akhirnya, Devin mau menerima tawaran Adriana, tapi ekor mata Adriana melihat bi Ijah yang bersiap pergi meninggalkan mereka berdua saja.


"Bibi mau kemana?" tanya Adriana yang sedikit takut ditinggalkan bi Ijah.


"Bibi mau beres-beres di lantai bawah Non." sahut bi Ijah yang ingin segera merapihkan ruangan yang berserakan akibat aksi Lena.


"Jangan tinggalkan kita berdua saja Bi, aku tidak ingin timbul fitnah di mata mas Tegar. Karena, aku hanya ingin membantu mengobati luka Devin saja." tutur Adriana yang masih ingat batasan sebagai seorang istri.


"Iya Non, Bibi di sini." sahut bi Ijah menuruti permintaan Adriana, lalu ikut duduk di samping Adriana.


Adriana mulai mengobati sayatan di lengan Devin, wanita itu berusaha menyumbat darah yang mengalir di lengan mantan suaminya.


"Awww! Sakit Adriana." pekik Devin, merasakan perih saat cairan alkohol dioleskan pada lukanya.


"Tahan sebentar Vin." titah Adriana pelan.


Adriana mulai membalut luka Devin dengan kain kasa, tanpa Adriana sadari sirat mata Devin sedang menikmati wajah cantiknya. Devin merasa kagum, bahagia, sekaligus luka. Betapa bodohnya Devin di masa lalu, karena ia sudah menyiakan wanita sebaik Adriana.


"Sudah selesai, semoga darahnya berhenti mengalir." ucap Adriana setelah merapihkan kembali kotak P3K.


"Ayo kita ke bawah, suamimu pasti sudah menunggu kita Adriana." ajak Devin dengan perasaan sedikit takut kalau Tegar akan cemburu.


Saat mereka bertiga beranjak dari sofa, bi Ijah menemukan bercak darah di mata kaki Adriana.


"Non, darah Non." ucapan bi Ijah barusan langsung membuat Adriana mencari bercak darah yang dimaksud. Benar saja, darah segar itu mengalir dari kandungan Adriana.


"Bibi, anakku Bi." Adriana mulai panik sambil memegangi perutnya, lalu nyeri hebat di perut Adriana mulai ia rasakan.


Melihat itu semua membuat Devin tak berpikir panjang, ia langsung meraih tubuh Adriana ke dalam gendongannya menuju lantai bawah.


"Bang Tegar, ayo siapkan mobil! Istrimu sepertinya akan melahirkan." titah Devin pada Tegar.


Devin begitu panik, hingga tak peduli lagi akan perasaan Tegar. Kemudian Tegar langsung sigap membuka pintu mobil untuk Adriana, sementara Lena sudah berhasil diamankan oleh pihak kepolisian.


•••


Tinggalkan jejak kalian dengan klik like.

__ADS_1


__ADS_2