
Satu bulan telah berlalu setelah kejadian Tegar dan Rana bertengkar hebat akibat kemunculan Devin, kini Rana sangat menikmati bahtera rumah tangganya bersama Tegar walau Rana masih belum dikaruniai buah hati yang selalu ia impikan
Rana selalu berharap mampu memiliki anak laki laki yang tumbuh sehat menggemaskan dan tentunya setampan ayahnya kelak
"Sayang... mikirin apa sih?"
Tegar merasa aneh akan raut wajah Rana dengan pandangan kosong walau Tegar sedang menikmati paha mulus Rana sebagai bantalnya dengan posisi berbaring di sofa depan balkon kamarnya yang sudah menjadi momen mereka sebelum tidur
"Aku lagi mikir mas.."
Rana hanya mengelus puncak kepala Tegar di pangkuannya
"Mikirin apa sih sayang? udah jangan terlalu banyak yang dipikirin, projek renovasi hotel udah beres mau mikirin apa lagi?"
Dalam satu bulan ini semua projek desain Rana sudah sesuai dengan target, hotel yang baru Rana beli sekitar empat bulan lalu sudah semakin berkembang di tangan Rana bahkan Tegar pun selalu memuji pencapaian istrinya dan tak jarang Tegar selalu memberikan sumbangsih materi jika Rana merasa kekurangan modal bisnis hotelnya memang sungguh sosok suami idaman semua wanita. Tanpa Rana meminta bantuan Tegar sudah memberikan bantuan baik secara materi maupun secara teknis mengingat bisnis Tegar yang cukup luas di bidang property dan itu sangat membantu pencapaian Rana.
"Bukan mikirin karir mas.."
Gumam Rana tanpa menatap wajah suaminya
"Terus mikirin apa? jangan bilang mikirin aku ya"
Tegar memang hobi sekali menggoda istrinya
"Mmmm mikirin kita mas.."
Tegar merasa aneh akan istrinya
"Maksudnya?"
"Iya mikirin masa depan kita mas, aku pengen banget punya anak laki laki yang tampannya seperti kamu dan setegar kamu mas..."
Tegar mendongakkan kepalanya menatap wajah ayu sang istri, sudah dapat Tegar simpulkan bahwa Rana masih sangat mendamba kehadiran sang buah hati
"iya sayang... kita berdoa dan berusaha, tapi kalo nanti dapet anaknya perempuan gimana?"
Tegar mencoba mencairkan suasana
"Eummmm gak papa mas.. yang penting cantik kaya emaknya"
Adriana mencubit hidung mancung suaminya yang masih berada di pangkuannya
"Mas bentar deh, aku haus mau ambil minum dulu"
Mendengar ucapan Rana membuat Tegar mengangkat tubuhnya dari pangkuan Rana yang memang ucapan Rana seperti memberikan kode untuk Tegar agar bangkit dari pangkuannya
"Jangan lama lama ambil minumnya,,"
Tegar menggerutu seperti anak kecil yang tidak mau ditinggalkan sedikitpun oleh ibunya
"Bentar doang, manja banget sih"
__ADS_1
Terkadang Rana merasa risih akan sikap manja Tegar yang berlebihan. Rana mulai bangkit dari duduknya dan tiba tiba kepalanya terasa nyeri dan pusing membuat Rana oleng saat mencoba bangkit, pandangannya kabur tidak mampu merasakan titik fokus walau Rana sudah berusaha melebarkan matanya namun di sekitarnya terasa gelap.
"Sayang.. sayang.. kamu kenapa?"
Tegar segera meraih tubuh Rana yang oleng
"Mas... kepalaku sakit pusing.."
Rana merintih merasakan nyeri di kepalanya
Euuuuu Euuuuu
Perut Rana terasa mual terlebih lagi angin malam yang menerpa tubuhnya
"Mual yah sayang?"
Tegar mulai panik lalu digendongnya tubuh Rana oleh Tegar menuju toilet saat dilihatnya wajah Rana yang mulai pucat mengeluarkan keringat dingin
Sesampainya di toilet Tegar dengan setia mendampingi Rana dalam keadaan muntah dan memijat tengkuk leher Rana agar istrinya merasa lebih baik.
"Lemes banget mas..."
Gumam Rana yang berusaha melangkah menuju kamarnya yang tentunya dituntun oleh Tegar
"kita ke dokter ajah sayang yah"
Rana menggelengkan kepalanya menolak ajakan Tegar
Tegar masih berusaha membujuk Rana apalagi nafas Rana kini mulai tersendat sendat, sebelum sampai di tempat tidur tubuh Rana ambruk untung saja Tegar sangat setia menuntunnya membuat Rana tak sadarkan diri dalam pelukan Tegar
"Sayang... bangun sayang... bangun..!"
Tegar panik bukan main melihat istrinya tidak sadarkan diri, hatinya merasakan nyeri tak terkira melihat wajah sang istri pucat pasi kemudian dibawanya tubuh Rana ke dalam mobil miliknya dan seketika itu juga Tegar membawa Rana ke rumah sakit terdekat
###
Sesampainya di rumah sakit Rana sudah ditangani oleh dokter, namun masih belum sadarkan diri
"Dokter tolong istri saya dok,,, sakit apa dok istri saya?"
Tegar tak kuasa menahan kegelisahannya
"Selamat yah bapak Tegar Prasetya,,"
Tegar tidak mengerti akan ucapan selamat yang diberikan oleh dokter wanita berkacamata yang usianya tidak jauh beda dengan Tegar
"Di dalam rahim ibu Adriana sedang tumbuh janin yang usianya baru sepuluh hari adapun istri bapak mengalami kondisi seperti ini dikarenakan kurangnya asupan nutrisi dan terlalu banyak aktivitas sedangkan pola makannya tidak terjaga membuat serangan mual terasa hebat menyerang ibu Adriana"
Entah harus bahagia atau sedih melihat kondisi Rana saat ini, yang Tegar rasakan kebahagiaan yang tak pernah terduga namun hatinya merasa pilu melihat kondisi Rana yang terbaring lemah di rumah sakit
"Kira kira istri saya kapan akan siuman dok?"
__ADS_1
"Tunggu saja pak Tegar, sekitar setengah jam lagi ibu Adriana akan sadar"
Pandangan mata Tegar hanya tertuju pada Rana dengan wajah yang masih pucat namun nafasnya sudah mulai berhembus teratur
"baik dok terimakasih"
"Sama sama pak Tegar dan sekali lagi selamat yah pak"
Dokter pun berlalu meninggalkan ruangan Rana setelah proses diagnosanya selesai meninggalkan Tegar yang masih termangu menatap sang istri, dibelainya kening Rana dengan lembut kemudian Tegar membisikkan surat al-fatihah dengan nada begitu lirih di telinga kanan Rana berharap Rana segera sadar
Sekitar setengah jam Tegar duduk menemani Rana di samping ranjangnya dengan posisi tertunduk di ranjang menahan lelah dan kantuk, tiba tiba mata Rana mengerjap dan terbuka pelan berusaha menyadari dimana dirinya berada
Rana melirik Tegar yang masih tertunduk merasakan lelah karena waktu pun sudah menunjukkan pukul sebelas malam
"Mas..."
Rana memanggil Tegar dengan menyentuh puncak kepala suaminya dengan tangan kanan yang terbebas dari jarum infus
"Sayang... alhamdulillah kamu sudah sadar"
Tegar menghela nafasnya lega melihat Rana yang sudah membuka matanya
"Maaf yah mas karena aku jadi kamu kelelahan begini"
Tegar segera meletakkan jari telunjuknya di bibir Rana
"Jangan bilang begitu sayang.. mas justru bahagia saat ini"
Rana tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh suaminya
"Maksud mas Tegar?"
Rana mengernyitkan dahinya meminta penjelasan pada Tegar
"Apa yang kita doakan Allah sudah mengabulkannya sayang.."
Rana masih tak mengerti ditatapnya kedua bola mata Tegar begitu dalam
"Kamu hamil sayang.. dokter bilang usia kandungan kamu baru sepuluh hari"
Rana seakan tak percaya mendengar penjelasan Tegar
"Masyaallah... Mas kita akan punya keturunan"
Rana menggenggam erat jemari Tegar
"Iya sayang.. kita akan punya buah cinta kita dan buah kesabaran kita"
Tegar segera bangkit memeluk Rana dan mencium puncak kepala Rana dengan perasaan begitu dalam terhadap istrinya kebahagiannya kini lengkap sudah.
###
__ADS_1
Yang suka vote yah.. 😍😘