
Sejak Adriana mengandung, hari hari yang dilaluinya bersama Tegar seperti ada kebahagiaan yang Tuhan tambahkan untuk kehidupan mereka.
Tegar sebagai suami tidak ingin melewati masa dimana ia harus berperan penuh sebagai suami, walau terkadang masa ngidam Adriana cukup merepotkan Tegar.
Namun, Tegar tidak sedikitpun mengeluh. Ia justru merasa senang akan kelakuan manja Adriana, padahal Adriana suka meminta yang aneh aneh.
Hari hari Tegar selalu ingin cepat pulang di saat jam kantor, mengingat Adriana yang berada di rumah sendirian. Tegar tidak tega meninggalkan Adriana lama lama.
Sementara untuk urusan hotel Adriana sudah tidak beraktivitas seperti sebelum hamil, wanita itu sudah tidak terlalu fokus pada management hotel.
Pengalaman pahit Adriana yang pernah keguguran, membuat Adriana hanya ingin fokus menjaga kandungannya. Sehingga, kunjungan hotel hanya Adriana lakukan tiga kali dalam satu minggu.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, terdengar suara mesin mobil milik Tegar di halaman rumah. Adriana sedikit heran akan kepulangan suaminya, menurutnya Tegar terlalu cepat pulang.
Adriana bangkit dari sofa ruang TV, ia melangkahkan kakinya menuju pintu utama, lalu dibukanya pintu tersebut.
Ceklek. . .
Benar saja, suaminya sudah pulang. Terlihat Tegar yang turun dari mobil dengan senyum merekah dari bibir tipis Tegar.
"Kok Mas sudah pulang sih?" ucap Adriana yang langsung menghampiri Tegar.
"Kerjaan Mas lagi senggang Sayang, jadi ngapain lama lama di kantor? Mending cepet pulang nemenin istri di rumah."
Tegar meraih tubuh Adriana ke dalam dekapannya, lalu diciumnya kening Adriana oleh Tegar.
"Anak Papah, pasti kangen Papah ya?" Tegar mulai mengajak bicara kandungan Adriana, sambil mengelus perut Adriana.
"Nggak tuh, lagian Papah belum mandi." sahut Adriana berusaha menjawab ucapan Tegar.
"Mas mandi dulu, dede bayinya mau jalan jalan sore nih." Adriana merajuk di hadapan Tegar, keinginannya selalu mengatasnamakan kandungannya.
__ADS_1
"Mau jalan jalan kemana?" tanya Tegar dengan meraih bahu Adriana.
"Aku pengen ke caffe milik Cika, tempat pertama Mas lihat aku." Tegar terkejut saat mendengar permintaan Adriana barusan.
"Hmmm, Mas udah lupa tuh." goda Tegar.
"Bukan pertama kita ketemu Mas, tapi pertama Mas nemuin aku. Secara aku sih gak tahu kalau ada pemuja rahasia waktu itu." Adriana langsung memotong ucapan Tegar dengan mencubit perut Tegar.
"Iya, iya." ucap Tegar yang mau saja menuruti permintaan Adriana.
"Aku pengen banget ke caffenya Cika Mas, udah lama gak ke sana."
"Ya udah Mas mandi dulu ya, terus kita berangkat ke sana."
Tegar mencium pelipis Adriana, langkahnya langsung menuju kamar mandi, meninggalkan Adriana sendirian di ruang TV.
•••
"OMG Rana.. kemana ajah lo?"
Cika menyambut kedatangan Rana dengan pelukan yang saling merindukan satu sama lain
"Sibuk gue Cik"
Jawaban Rana begitu simple
"Eh tunggu dulu"
Cika melepaskan pelukannya dari Rana setelah dilihatnya lelaki yang bersama Rana bukan Devin karena setahu Cika suami Rana adalah Devin apalagi Rana yang tidak pernah bercerita kehidupan pribadinya terhadap Cika sejak perpisahannya bersama Devin
"Jangan bilang lo cerai sama Devin dan lo nikah sama Tegar Prasetya pengusaha sukses ganteng tajir soleh pula"
__ADS_1
Tegar hanya tersenyum mendengar ocehan Cika yang memang Cika cukup mengenal nama Tegar dengan berbagai prestasi bisnisnya ditambah lagi Tegar yang sering berkunjung ke caffe miliknya yang mempertemukannya dengan Adriana
"Nanti gue ceritain sama lo Cik, sekarang gue pengen ngadem di taman belakang"
"Oke oke tapi lo berhutang cerita sama gue pokoknya"
Cika masih penasaran dengan apa yang terjadi pada sahabatnya yang membuat Tegar menggantikan posisi Devin
"Ya udah lo nikmatin suasana caffe dulu nanti gue temuin lo lagi soalnya lagi sedikit repot nih ada salah satu karyawan gue yang ga masuk"
Cika pamit dari hadapan Rana meninggalkan Rana dengan Tegar agar lebih leluasa menikmati suasana caffe miliknya
"Seperti mimpi.."
Ucap Tegar setelah duduk di kursi caffe yang menghadap stage yang masih sepi tanpa pemain musik
"Apanya mas yang seperti mimpi?"
Adriana tidak mengerti akan ucapan Tegar
"Dulu mas duduk disini sendirian sampai kedua mata mas menemukan sosok wanita yang sering berkunjung kesini dengan kesibukan pekerjaannya fokus dengan laptopnya di sudut meja dan kini wanita itu sedang mengandung darah daging mas sendiri"
Jodoh memang sulit ditebak dan itulah yang Tegar rasakan, batinnya seakan tak percaya dengan kenyataan takdir yang ada padahal saat Tegar menemukan Rana status Rana masih sah sebagai istri Devin
"Iya yah mas.. takdir memang sulit kita baca"
"Iya sayang..."
Tegar mencium pelipis Rana sesaat dan sama sekali tidak membuat Tegar merasa malu melakukan hal itu di depan umum, kemesraan mereka membuat iri pengunjung lain yang melihatnya begitupun dengan sosok wanita yang matanya menatap tajam pada pasangan Tegar dan Rana, sirat kebencian dan dendam sangat jelas terlihat dari sorot matanya.
###
__ADS_1