
Tanpa terasa bulan demi bulan sudah Adriana lalui, perutnya semakin membesar di usia kandungannya yang menginjak sembilan bulan.
Adriana sudah tidak sabar menunggu kehadiran jagoan kecilnya. Saat USG dokter sudah memprediksikan kalau anaknya akan lahir dengan jenis kelamin laki-laki.
Betapa bahagianya perasaan Adriana yang telah lama mendambakan sosok bayi laki-laki yang menggemaskan.
Prediksi kelahiran Adriana diperkirakan sekitar dua minggu lagi. Tegar selalu setia mendampingi Adriana, mulai dari rutin cek ke dokter, sampai semua pekerjaan rumah sudah Tegar percayakan pada bi Ijah.
Wanita paruh baya itu dengan suka rela mau bolak-balik mengurus rumah Gilang dan juga rumah Tegar, lagipula Gilang jarang ada di rumah. Jadi, masih bisa bi Ijah handle untuk merangkap pekerjaannya.
"Sayang, besok sepertinya Mas akan pulang terlambat." ucap Tegar memberitahukan kesibukannya pada Adriana.
"Ada meeting ya Mas?" tebak Adriana.
Dari raut wajah Adriana nampak tidak ingin ditinggal lama lama oleh Tegar.
"Mas harus pergi ke Bandung untuk mengontrol hasil audit bulan lalu, Sayang."
"Oh gitu ya Mas." gerutu Adriana.
"Kabarnya di kantor cabang Bandung ada beberapa yang tidak beres perihal keuangan." Tegar mencoba menjelaskan detail masalah yang terjadi di perusahaannya.
Adriana hanya mampu menghela nafasnya dalam, merasa prihatin akan kondisi kantor milik Tegar, dan juga kondisi Tegar yang akan pulang larut.
"Istri Mas ngambek ya?" dapat Tegar rasakan kalau Adriana sedikit kecewa akan kepulangannya.
"Nggak Sayang, aku cuma prihatin sama kondisi kantor kamu Mas. Gara-gara terlalu fokus sama aku, jadi kurang kontrol perusahaan."
Tegar tersenyum mendengar jawaban Adriana yang selalu mengutamakan karier suaminya.
"Nggak Sayang, bukan karena itu. Sama sekali gak ada kaitannya dengan kamu." ucap Tegar dengan mendekap bahu istrinya yang sedang bersantai di sofa ruang TV.
"Syukurlah kalau bukan karena sibuk sama aku."
__ADS_1
"Oh iya Mas, mending bi Ijah suruh nginep di sini ajah ya, takutnya Mas pulang dari Bandung malam banget. Aku takut sendirian Mas." pinta Adriana dengan bergelayut manja di bahu Tegar.
"Iya Sayang, nanti Mas bilangin ke bi Ijah."
Tegar menyetujui permintaan Adriana, karena Tegar pun merasa khawatir meninggalkan Adriana sendirian.
"Aduh Mas, dedenya nendang nendang terus nih, hiperaktif banget." keluh Adriana yang merasakan perutnya berdenyut.
"Hahaha! Gak kebayang nanti aktifnya jagoan kita kalau sudah lahir." ucap Tegar dengan menempelkan telinganya di perut Adriana.
"Dede jangan nakal ya sama mamah."
Sikap Tegar nampak sangat lucu saat mengajak bayi dalam kandungan Adriana untuk berbicara.
"Papah juga jangan nakalin Mamah ya." ucap Adriana dengan nada genit pada suaminya.
Kemudian Adriana mengelus puncak kepala Tegar, mereka saling terkekeh menikmati momen kebahagiaan yang terasa kian sempurna.
•••
Beberapa pesan whatsapp selalu Tegar kirimkan untuk Adriana, karena Tegar tidak ingin terjadi apapun pada istrinya.
[Tegar]
Sayang, tunggu aku di rumah.
Awas, jangan terlalu capek ya.
Miss you Rana-ku 😘
Begitu isi pesan Tegar untuk Adriana, ia berusaha berpura-pura manis, padahal tujuannya hanya untuk memantau kondisi istrinya.
[Rana]
__ADS_1
Iya sayang..
fokus ajah sama urusanmu dulu
Love you 😘
Pesan balasan Adriana membuat Tegar tersenyum di ruang meeting, pria itu sedikit hilang fokus akan pembahasan audit.
"Pak Tegar."
Angel berusaha menyadarkan Tegar untuk kembali fokus, karena Angel mendapati bosnya sedang sibuk dengan ponsel.
"Ya Angel, kenapa?"
Benar saja, Tegar tidak fokus. Apalagi mengingat waktu yang sudah menunjukkan pukul tujuh malam, sementara dirinya masih berkutat dengan pekerjaan.
"Perihal punisment yang harus kita berikan pada karyawan yang divonis sebagai tersangka penggelapan dana perusahaan Pak." tutur Angel menjelaskan pembahasan meeting pada Tegar.
"Lakukan sesuai juklak punishment perusahaan saja. Maaf saya permisi."
Tegar langsung menutup laptop, lalu pergi meninggalkan ruang meeting.
Langkah Tegar langsung menuju area parkir kantor, ia mencari mobil miliknya. Hatinya sudah tak kuasa menahan rasa gelisah akan kondisi Adriana.
Sekitar satu jam perjalanan pulang, tiba-tiba Tegar mendapat pesan dari Adriana.
[Rana]
Mas, aku takut.
Aku dan bi Ijah dalam bahaya.
Melihat pesan text yang Adriana kirimkan membuat Tegar langsung tancap gas untuk melajukan mobilnya lebih kencang lagi. Namun, perasan cemas dan gelisah masih tetap menghantui pikiran Tegar.
__ADS_1
•••
Jangan lupa jejak jempol kalian ya 😉