Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Kabar bahagia


__ADS_3

Devin begitu panik mendengar suara terjatuh dari kamar mandi. Segera ia beranjak dari tempat tidur. Beruntung Devin saat itu sudah mengenakan pakaiannya.


Devin berlari menuju kamar mandi. Matanya terbelalak melihat tubuh mungil Adriana ambruk di lantai tak sadarkan diri. Mata Devin begitu cemas lalu ditepuknya pipi sang istri dengan harapan Adriana segera sadar dari pingsannya.


Adriana masih tetap dalam posisi terkulai tak sadarkan diri. Devin segera mengangkat tubuh Adriana lalu ia balutkan handuk putih untuk menutupi tubuh Adriana.


Sebelum Devin membawa Adriana ke rumah sakit, Devin sudah memakaikan baju piama motif panda kesayangan sang istri.


"Kamu harus kuat sayang."


Gumam Devin sembari menggendong tubuh istrinya membawa ke rumah sakit. Mata Devin masih terlihat panik saat membawa Adriana ke dalam gendongannya. Devin masih berharap tidak ada hal yang serius terjadi pada Adriana.


Adriana sudah ditangani oleh dokter. Selang infus sudah terpasang di tangan kirinya.


"Bapak Devin, saya sarankan pada istri bapak jangan terlalu banyak aktivitas, mengingat kondisi janin dalam kandungannya yang lemah."


Sesaat Devin terhentak mendengar penuturan yang dokter ucapkan barusan.


"Maksud dokter istri saya hamil?"


Tanya Devin penuh semangat, memcoba memastikan pernyataan dokter.


"Usia kandungan istri bapak sudah menginjak satu bulan. Mengingat kondisi janin yang lemah, ibu Adriana harus mengurangi aktivitasnya dulu."


Begitu bahagia hati Devin saat ini, sebentar lagi ia akan dikaruniai anak bersama istri kesayangannya. Namun hati Devin sedikit khawatir akan penuturan dokter mengingat kondisi janin yang lemah.


Adriana pelan-pelan mencoba membuka kedua bola matanya.


"Mas. . ."


Adriana memanggil Devin dengan suara sedikit serak, masih menahan nyeri di tubuhnya.


"Iya sayang. Mas disini."


Ujar Devin yang segera mendekatkan wajahnya ke samping Adriana, tangannya masih menggenggam erat jemari sang istri.


"Ini di rumah sakit?"


Adriana memastikan, matanya menelisik sekitar kamar rawat inap.

__ADS_1


"Iya sayang, kamu pingsan di kamar mandi."


Devin mencoba mengingatkan kejadian yang membuat istrinya terbaring di rumah sakit.


"Kamu hamil sayang. . ."


Dengan raut wajah yang antusias Devin memberitahukan pada istrinya, Devin tidak mengetahuinya kalau selama satu bulan ini Adriana sudah merahasiakan kehamilannya.


Kini tangan Devin mengelus-elus perut kecil Adriana. Sungguh betapa bahagianya Devin saat mengetahui istrinya tengah mengandung. Perasaan yang sangat jauh berbeda dibandingkan saat mengetahui pengakuan Jesi yang mengandung anaknya.


"Temani aku selama aku mengandung anak kita mas. Aku butuh kamu di sampingku."


Adriana meminta suaminya untuk tetap bersamanya selama masa kehamilan. Ingin sekali ia mengucapkan untuk tidak bersama wanita lain, namun ia urungkan karena tak ingin merusak suasana bahagia yang Devin rasakan saat ini.


"Pasti sayang. Sampai kapanpun aku akan bersamamu."


Janji Devin pada Adriana penuh kemantapan.


"Dokter bilang jangan terlalu banyak aktivitas. Kondisi kandungan kamu lemah, dan aku tidak mau kamu dan anak kita kenapa-napa."


Tutur Devin memberikan informasi dari dokter pada Adriana.


Celetukan Adriana kali ini sungguh membuat Devin terkekeh.


"Mas gak kuat kalo liat kamu pake dress hitam semalam."


Devin kembali menggoda istrinya.


"Dasar mesum! Pantes ajah kamu sengaja beliin buat aku."


Devin makin gemas akan rajukan istrinya, dicubitnya pipi sang istri dengan gemas.


"Hey hey. . . Apa-apaan anak perempuan ibu dicubit-cubit!"


Teriakan Marisa yang tiba-tiba datang membuat Devin terkesiap.


Marisa dan Hans datang untuk menengok keadaan menantu kesayangan mereka. Devin yang mengabarkan pada ayahnya tentang kondisi Adriana.


Devin segera bangkit dari duduknya bersalaman dengan ibu dan ayahnya yang sudah beberapa bulan tak bertemu karena kesibukan masing masing.

__ADS_1


"Gimana kondisi kamu sayang?"


Tanya Marisa setelah menghampiri menantunya yang sudah ia anggap anak sendiri.


Telah lama Marisa begitu menginginkan kehadiran anak perempuan setelah kelahiran putra semata wayangnya yaitu Devin.


"Dokter bilang Adriana hanya kelelahan, kondisi yang wajar yang sering dialami ibu hamil."


Kali ini Devin yang menjawab.


Jawaban Devin membuat Marisa dan Hans terbelalak dengan mata berbinar.


"Alhamdulillah. . . Sebentar lagi kita punya cucu."


Ujar Marisa pada Hans.


Terlihat wajah bahagia dari keduanya. Devin adalah anak satu-satunya, sering Marisa bilang pada putranya untuk memiliki banyak anak.


"Vin, selama hamil kalian tinggal di rumah ibu saja, biar ada ibu yang mendampingi Adriana."


Hans ikut bicara, namun dalam hati Adriana tidak menyetujuinya tapi Adriana tak mau membantah.


"Gak usah ayah, nanti Devin akan carikan asisten rumah tangga. Biar kita tinggal di rumah kita saja."


Devin yang mengerti reaksi Adriana segera ia menolak dengan halus ide ayahnya.


"Ya sudahlah kalau mau kamu seperti itu. Paling nanti ibumu yang akan sering nengok keadaan mantu kesayangannya."


Hans masih bisa menerima tolakan Devin.


"Tapi ibu jangan sering-sering nengok juga, nanti Devin gak bisa mesra-mesraan sama ini nih..."


Rajuk Devin sembari mencubit hidung mancung Adriana. Rajukan Devin membuat gelak tawa kedua orang tuanya.


Perasaan Hans dan Marisa begitu bahagia melihat pernikahan putranya yang akan lengkap dikaruniai anak.


Hans sangat bersyukur memilihkan Adriana untuk Devin dan semoga selamanya mereka akan tetap seperti ini.


••••

__ADS_1


__ADS_2