
"Makin sukses ajah lo Gar."
Lena memuji semua pencapaian Tegar sampai detik ini, karena Tegar yang dulu masih terlihat begitu cupu tak mengerti apapun semua tentang bisnis.
"Ya alhamdulillah, semuanya berkat doa dan usaha yang tidak akan pernah menghianati hasil."
Tegar selalu berusaha rendah hati di hadapan temannya, dan sudah menjadi kebiasaan Tegar bersikap demikian.
"Lo sendiri sibuk apa? Gue udah lama gak denger kabar tentang lo Lena, kaya ilang dari peredaran tahu gak lo."
Tegar bertanya balik pada sahabat di masa kecilnya. Dulu Lena adalah teman seusia Tegar di sekolah dasar, rumah Lena dengan Tegar berdampingan, membuat keduanya terlihat semakin akrab.
Lena tidak pernah canggung untuk datang bermain ke rumah Tegar karena Lena tidak memiliki saudara, membuatnya selalu merasa kesepian ingin bermain di rumah Tegar. Kebetulan saat itu Gilang masih kecil, sehingga Lena semakin betah bermain main di rumah Tegar.
"Sibuk dengan bisnis tekstil milik papah, ini ajah kebetulan lagi nyari nyari suplier yang pas untuk pemasok bahan produksi tekstil untuk pabrik."
Tegar menyunggingkan senyumnya mendengar penjelasan Lena yang sengaja datang menemuinya.
"Lo udah merid belum?"
Tegar masih bertanya basa basi yang sewajarnya pada Lena.
"Hmmm Tuhan belum ngasih gue jodoh."
Lena menggerutu seakan hidupnya sangat mengenaskan di usia yang hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Tegar masih menyandang status perawan.
__ADS_1
Lena sejak kecil sudah menyimpan hati untuk Tegar dan suatu ketika pernah mamah Lena meminta untuk menjodohkan anaknya jika kelak mereka tumbuh dewasa, hanya saja niatan perjodohan itu ditolak oleh mamah dan papah Tegar.
Menurut kedua orangtua Tegar semua orang akan mengalami fase yang semakin berbeda, begitupun dengan pertumbuhan anaknya, bisa jadi saat masa kecil Tegar menyukai Lena dan belum tentu rasa suka itu akan selamanya hadir untuk jangka panjang. Seiring berjalannya waktu orang akan datang dan pergi untuk mengenal Tegar.
"Buruan nyari jodoh Len."
Lena tersipu malu akan kalimat yang diucapkan Tegar seperti menyudutkan dirinya.
"Emang lo udah merid? Nyuruh nyuruh orang suruh merid."
Lena membalikkan ucapan Tegar dengan sedikit memberikan kode kode untuk Tegar, maklum lah perempuan pasti salah tingkah di hadapan orang yang disukanya.
"Alhamdulillah udah, pengantin baru malah."
Lena tertegun atas apa yang diucapkan oleh Tegar, terlebih lagi Tegar berucap dengan senyum yang mengembang menyiratkan kebahagiaan yang tak terkira akan pernikahannya, padahal maksud Lena menemui Tegar berharap sedikit bisa menyentuh hati Tegar.
Dari dulu Lena selalu merasa kalau Tegar begitu mengagumi kecantikannya. Sayangnya level selera kecantikan versi Tegar yang sekarang sangatlah berbeda jika dibandingkan sekitar sepuluh tahun yang lalu.
Keinginan Tegar untuk memperbaiki dirinya memang sudah benar benar Tegar tekadkan, dan memilih sosok Adriana baginya adalah keputusan yang sangat tepat.
"Kok gak undang undang sih? Jahat banget lo."
Lena mengerucutkan bibirnya dengan manja di hadapan Tegar.
"Acara pernikahan gue sengaja gak mau banyak tamu undangan hadir, dan keinginan istri gue yang begitu simple gak banyak nuntut macem macem soal resepsi pernikahan. Baginya menikah itu bukan tentang pestanya, cukup tentang bahagianya setelah pernikahan. Ahhhhh gue jadi kangen bini gue Lena."
__ADS_1
Tegar menuturkan alasannya tidak mengundang Lena, namun bibirnya menyunggingkan senyum yang merekah ketika mengatakan 'Istri gue' seakan terbayang wajah ayu milik Rana yang selalu ia rindukan.
Paras cantik Adriana dan aroma tubuh Adriana yang membuat hasrat Tegar berdesir walau hanya mengingat bayangan istri tercintanya.
"Cantik banget kayanya istri lo, sampe sampe bikin lo kaya gini didera asmara."
Lena semakin ingin tahu kehidupan Tegar sekarang. Andai saja dia datang lebih awal, mungkin tekadnya ingin berusaha mengambil hati Tegar.
"Yes that's right."
"Cantiknya Rana itu luar dalem dan gue bersyukur banget dapet istri kaya dia, setelah usaha gue dengan susah payah untuk meminta Rana buka hati buat gue."
Semua penjelasan yang dilontarkan Tegar terasa menusuk hati Lena, terlebih lagi dengan gurat wajah yang menampilkan aura kebahagiaan Tegar terasa semakin menyakitkan hati Lena.
"Nanti gue kenalin Rana sama lo. Makanya lain kali main ke rumah, Gilang juga pasti seneng ketemu sama lo."
Hati Lena mencelos tak ingin menimpali apa yang dikatakan oleh Tegar. Bagi Lena semua pengakuan Tegar hanya akan membuatnya merasakan sakit dan kecewa.
"Iya nanti kapan kapan gue main deh, gue juga udah kangen sama Gilang, dan kangen masakan bi Ijah."
Setelah mengatakan itu Lena beranjak pergi dari ruangan Tegar dengan hati yang begitu kecewa setelah mendengar Tegar telah beristri. Padahal niat awal Lena berharap masih ada secercah harapan untuknya mendekati Tegar, namun sayangnya Tegar dengan bangga dan polos mengungkapkan kebahagiaan yang kini tengah ia rasakan bersama Rana.
••••
Klik like ya 😉
__ADS_1