Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Say I Love You


__ADS_3

Setelah Adriana mengetahui bahwa dirinya akan sulit untuk memiliki keturunan cukup membuat Adriana dirundung rasa kesedihan.


Sejak Adriana keluar dari ruangan Chandra, Adriana hanya diam merenungi nasibnya, menyesali semua peristiwa di masa lalu yang tak ingin ia bahas dengan suaminya. Adriana tahu semakin Rana sering membahas masa lalunya, Rana takut itu akan semakin menyakiti hati Tegar.


"Mas kalau kita nanti tidak dikaruniai anak, apa mas masih akan tetap bersamaku?"


Adriana mencoba mengeluarkan perasaannya di momen pillow talk sebelum tidur.


Tegar segera meletakkan jari telunjuknya di bibir sang istri, mengisyaratkan untuk tidak melanjutkan kalimatnya.


"Gak boleh ngomong kaya gitu sayang."


Tegar tidak ingin istrinya meragukan cintanya, kalaupun memang Rana tidak mampu memberikan keturunan untuknya, Tegar sudah bahagia bisa bersama dengan wanita pujaan hatinya, itu sudah lebih dari cukup.


"Tapi mas..."


"Cinta itu bukan terukur dari hadirnya seorang anak saja Rana, bisa bersanding dengan seseorang yang selalu mas dambakan itu sudah lebih dari cukup bagi mas. Lagi pula dokter Chandra tidak mengatakan kamu mandul, hanya saja butuh proses dan waktu yang harus membuat kita lebih bersabar dengan usaha yang extra."


Tegar selalu mencoba untuk menepiskan kesedihan yang tengah dirasakan istrinya.


"Mas yakin dengan apa yang mas ucapkan barusan?"


Adriana seakan tidak mempercayai apa yang telah diucapkan suaminya. Sesaat Adriana berpikir itu hanya bentuk ucapan untuk menenangkan suasana hatinya saja.


"Hey, sejak kapan mas tidak konsisten akan ucapannya sendiri?"


Tegar justru bertanya balik pada Adriana, seakan menyuruh Adriana untuk mengingat kembali semua hal yang telah dilaluinya. Memang harus diakui oleh Adriana bahwa setiap perkataan Tegar memang tidak pernah ia ingkari selama Rana mengenal Tegar.

__ADS_1


"Iya mas.l, aku tahu kamu laki laki yang tidak pernah ingkar akan kata katamu sendiri, maafkan aku mas."


Adriana merasa menyesal akan kata kata yang telah diucapkannya, seolah meragukan cinta suaminya sendiri.


"Mas sampe lupa sayang."


Tiba tiba Tegar mengingatkan sesuatu pada Rana dengan memeluknya erat memasukkan kepala Adriana ke dalam lengan kekarnya, dan itu sungguh membuat Rana merasa nyaman berada di samping Tegar.


"Lupa apa sih mas?"


Adriana sama sekali merasa tidak ada yang lupa akan apapun.


"Hari ini terlalu sibuk sayang sampe sampe mas lupa bilang... I Love You."


Kebiasaan yang tidak pernah Tegar lupakan untuk 'say I love you' pada Adriana.


Adriana membalas ucapan romantis suaminya dengan mencium pipi milik Tegar, lalu wajah Rana disembunyikannya lagi di bahu sang suami seperti menahan rasa malu dibalik bahu Tegar. Wanita itu semakim membuat Tegar gemas akan tingkahnya.


Tiba tiba dering ponsel berbunyi dari ponsel Adriana. Entah siapa yang menelponnya malam malam.


"Siapa sih sayang malem malem ganggu suasana kita ajah?"


Tegar sedikit kesal, lalu diraihnya handphone milik Rana yang menampilkan nomor asing yang belum Rana simpan. Tegar pun semakin mengernyitkan dahinya seperti bertanya siapa pada Rana.


"Hallo siapa disana?"


Tegar menjawab telpon tersebut dengan kesal, ironisnya nomor yang sama saat Rana mendapatkan pesan misterius di whatsapp miliknya.

__ADS_1


Tidak ada jawaban dibalik handphone Rana dan itu semakin membuat Tegar kesal serta khawatir pada sang istri. Dilacaknya semua history panggilan dan semua aplikasi media sosial milik Rana, sampai akhirnya Tegar menemukan pesan yang dikirimkan oleh nomor tersebut.


"Ini siapa sayang? Kamu kok gak bilang sama mas dapet pesan begini."


Tegar sedikit kesal akan sikap Rana yang sudah tidak berusaha jujur padanya.


"Aku nggak tahu mas itu siapa, tapi sungguh aku nggak bales chattnya."


Rana mulai ketakutan saat melihat raut wajah suaminya yang mulai geram.


"Harusnya kamu bilang sayang. Aku ini suamimu, kalau ada apa apa bilang sama mas."


Rana hanya tertunduk mengakui kesalahannya yang sudah menyembunyikan pesan yang ia terima dari nomor asing tersebut.


"Iya mas maafin aku, aku pikir orang itu tidak akan menggangguku lagi, dan aku mohon sama kamu mas jangan marah sama aku. Aku hanya tidak ingin membebankan pikiran kamu mas."


Adriana semakin takut menatap wajah suaminya.


"Rana tolong jangan berpikir seperti itu, aku ini suamimu. Aku harus melindungimu dan aku tidak mau terjadi apapun sama kamu Rana."


Tegar segera memblokir nomor tersebut dari handphone Adriana, terbesit dalam hatinya menduga bahwa itu Devin, akan tetapi Tegar tidak ingin menduga tanpa bukti.


Tegar akan memastikan siapa yang sudah berani mengusik istri tercintanya.


••••


Klik like ya 😘

__ADS_1


__ADS_2