
Kantor Permata Gallery masih ramai dengan karyawannya di berbagai divisi. Walau jam kerja telah selesai namun masih ada beberapa karyawan yang masih setia dengan meja kerja masing-masing, tak terkecuali dengan Adriana yang masih berkutat dengan komputer untuk menyelesaikan target yang telah diberikan perusahaan.
Adriana begitu menikmati bekerja di perusahaan Vian, menurutnya sosok Vian Adryansyah adalah bos yang sangat mumpuni dari segala aspek. Kebijakan yang ia buat serta kemampuan personality yang sangat bagus membuat semua karyawan tak sungkan akan gaya kepemimpinannya.
Permata Gallery Vian bangun tanpa campur tangan nama orang tuanya, hal yang jauh berbeda dengan Devin yang tinggal melanjutkan perusahaan Hans.
Pasca menikahi Adriana, Pratama Group sudah menjadi milik Devin di bawah kontrol Hans. Hal inilah yang membuat Jesika semakin ingin merebut Devin kembali. Keinginan Jesika juga didukung sepenuhnya oleh Frans yang masih gila akan harta yang dimiliki oleh Devin.
Keputusan Jesi yang mau dinikahi sirih oleh Devin sangat disetujui oleh Frans, bisa saja untuk tahap awal Jesika hanya akan dinikahi secara sirih, namun siapa tahu langkah selanjutnya yang akan Jesi lakukan.
Misi Jesi selanjutnya adalah membuat Devin seutuhnya menjadi miliknya, yang pasti mendepak Adriana sebagai istri sah Devin.
"Adriana, gue pamit pulang duluan ya."
Ujar Selly yang sudah menenteng tas tangan warna coklat sembari menyemprotkan parfum ke bagian tubuhnya sebelum pulang, dan itu sudah menjadi kebiasaan Selly.
Adriana segera menutup hidungnya, ia tak tahan akan bau parfum yang menyengat. Sejak masa kehamilannya Adriana begitu membenci parfum yang sering Selly pakai.
Adriana segera menghambur menuju toilet yang terletak di sudut lantai tiga. Suara muntah Adriana terdengar begitu keras, menghentakkan langkah Vian yang kebetulan sedang berjalan melewati lorong ruangan Adriana.
"Pasti Adriana mual lagi."
Gumam Vian seperti khawatir akan kondisi staff kebanggaannya. Tak lama Adriana keluar dari toilet dengan wajah pucat pasi, dahinya berkeringat dingin dan tubuhnya lemas dengan langkah yang gontai Adriana melangkah.
__ADS_1
Vian langsung meraih tubuh Adriana, lalu menuntunnya memasuki ruangan untuk duduk bersandar di kursi.
"Adriana, saya antar kamu ke dokter."
Adriana langsung mengangkat telapak tangan kanannya, pertanda menolak saran Vian.
"Apa kamu ada obat mual dari dokter?"
"Ada pak."
"kamu taro dimana? Biar saya bantu cari."
Vian dengan cepat mencari tas Adriana, kemudian Vian menyodorkan tas tersebut pada Adriana.
Segera Adriana meminum obat tersebut, lalu menyandarkan kepalanya di kursi.
" Tapi pak kerjaan saya masih banyak."
Adriana masih menawar ajakan Vian.
"Udah masih ada besok. Saya tidak mau kamu dan kandungan kamu kenapa-napa Adriana."
Vian segera mengemasi barang-barang Adriana, lalu bos besar Permata Gallery itu meminta Adriana melepaskan sepatu heelsnya dengan menyodorkan sandal jepit yang sudah Adriana sediakan di kolong meja.
__ADS_1
"Kasihan kaki kamu pegal, gak bagus buat ibu hamil menggunakan heels."
Entah kenapa Vian begitu perhatian terhadap Adriana. Andai yang memperlakukan semua ini adalah Devin, mungkin hati Adriana akan sangat senang.
"Bapak, saya pulang sendiri saja. Insyaallah saya kuat nyetir pak."
Adriana masih bersikukuh tak ingin diantar Vian, Adriana takut menimbulkan fitnah dalam rumah tangganya dan juga Vian.
"Gini aja deh, kamu telpon suami kamu suruh jemput, kalau dia cepat datang saya gak anterin kamu pulang."
Adriana pun meraih ponsel miliknya, lalu menekan kontak Devin sesuai intruksi Vian.
Adriana memcoba menelpon Devin, namun tak kunjung ada jawaban disana, sampai panggilan kelima Devin masih belum mengangkat telponnya. Tak seperti biasanya Devin begini, bahkan disela-sela kesibukannya Devin selalu mengirim pesan whatsapp pada Adriana, walau hanya sekedar mengingatkan Adriana untuk makan, tapi seharian ini tidak ada pesan satupun dari Devin.
"Udah ayo kita pulang, biar nanti mobil kamu ditinggal saja di kantor. Jadi suami gak becus jaga istri yang lagi hamil!"
Entah kenapa Vian merasa kesal akan perlakuan Devin yang mengabaikan istrinya. Vian segera meraih tas milik Adriana dan menuntun langkah Adriana yang masih lemas.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, memang sudah waktunya mereka pulang. Kebetulan rumah Vian satu arah dengan tempat tinggal Adriana.
Dengan berat hati Adriana pulang bersama Vian, membuat Adriana sedikit canggung akan perhatian yang diberikan oleh Vian. Tak seharusnya Vian berada dalam posisi seperti ini, menggantikan peran Devin yang harusnya setia menjaga Adriana.
••••
__ADS_1
Gimana komentar reader tentang sosok Vian Adryansyah?
😄