
Sekitar jam delapan pagi Tegar sudah kembali ke apartemen miliknya untuk menjemput Adriana disana, tentunya dengan mood yang bagus. Senyuman kecil tak pernah hilang dari bibir Tegar, begitu bahagianya hati Tegar yang mampu merasakan jatuh cinta lagi.
"Assalamualaikum."
Tegar mengucapkan salam di depan pintu dapur setelah ia mencari cari keberadaan Adriana di semua ruangan.
"Walaikumsalam."
Sahut Adriana yang sibuk menata menu sarapan di meja dapur.
"Rana masak?"
Tanya Tegar keheranan melihat Adriana yang pagi pagi sudah mau repot menyiapkan sarapan.
"Aku laper mas, lihat isi kulkas mas Tegar cuman ada telor doang, jadi terpaksa aku cuma masak nasi sama bikin telor dadar."
Bahagianya hati Tegar saat ini, seakan merasa benar benar sudah menjadi sepasang suami istri dengan Adriana.
"Gak papa kan mas?"
Adriana merasa canggung melihat ekspresi wajah Tegar yang hanya menyunggingkan sekilas senyuman.
"Gak papa Rana, aku seneng malah. Jadi bikin gak sabar pengen halalin kamu tahu gak."
Ucapan Tegar barusan membuat Adriana tersipu malu. Adriana segera pergi meninggalkan Tegar yang masih berdiri di pintu dapur dengan membawa piring piring sarapannya menuju meja makan.
"Mas Tegar gak diajakin sarapan nih?"
__ADS_1
Tegar masih dengan seringai nakalnya menggoda Adriana.
"Ya elah tuan rumah masa mesti ditawarin segala sih. Ayo makan, tapi kalo gak pas sama lidahnya mas Tegar aku minta maaf ya."
Adriana terkekeh sendiri akan ucapannya. Tegar pun melangkahkan kakinya menuju meja makan menyusul Adriana.
Walau hanya menu sarapannya nasi putih dengan telor dadar tidak mengurangi rasa bahagia yang Tegar rasakan. Kebahagiaan yang tak terkira saat saat bersama Adriana.
Tuhan...
Mudahkan jalannya untuk kami bersatu.
Hati Tegar meminta pada yang maha kuasa saat ia menatap Adriana penuh dengan perasaan yang mendalam, lalu keduanya menikmati sarapan masing masing.
•••
Setelah selesai sarapan sesuai rencana semalam Tegar akan mengenalkan Adriana dengan adiknya sebelum mengantarkan Adriana kembali ke Bandung.
Dress sexy serta bentuk tubuh yang aduhai, rambut panjang hitam sebahu melenggang dengan begitu mesra bersama seorang pria yang cukup gagah berparas bule.
Tegar sangat mengenali wanita yang dilihatnya barusan. Lengan wanita itu terkait dengan pria di sampingnya, dengan tawa kecil yang begitu manja dan tubuh wanita yang bergelayut manja pada pria tersebut.
Adriana pun menemukan sosok wanita cantik bak model tersebut. Mulut Adriana menganga seakan tak percaya. Adriana refleks ingin meneriakkan nama wanita itu.
"Jes. . ."
Dengan sekuat tenaga Tegar menutup mulut Adriana dan menarik wanita pujaan hatinya untuk bersembunyi di balik dada bidangnya.
__ADS_1
Tegar dan Adriana melihat Jesi yang berjalan begitu mesra dengan seorang pria, namun yang membuat mereka terkejut pria itu bukanlah Devin.
Tegar dengan sengaja membiarkan Jesi tidak mengetahui keberadaan mereka, bahkan jangan sampai Jesi tahu. Hal ini pasti akan membuat keadaan lebih rumit. Masalah Jesi biarlah menjadi urusan rumah tangganya sendiri antara Jesi dan Devin.
"Rana... apa yang kamu lihat barusan di apartemenku jangan beri tahu kan Devin. Biarlah menjadi urusan rumah tangga mereka."
Tegar memulai pembicaraannya lebih dulu di balik kemudi dalam perjalanan menuju rumah orang tuanya.
"Nggak akan mas. Aku sudah memutuskan untuk menghilangkan kontak apapun tentang Devin sejak Devin mengucapkan talaknya untukku."
Tegar merasa sedikit lega mendengar ucapan Adriana, jujur dalam hati Tegar masih takut kalau Adriana masih mencintai Devin.
"Syukurlah. Biarkan rumah tangga mereka yang menjalani, yang perlu kamu pikirkan hanyalah tentang masa depanmu Rana."
Adriana selalu bersikap pesimis jika ada seseorang yang mengajaknya bicara tentang masa depan.
"Hmmm masa depan? Entahlah."
Netra Adriana menerawang menatap jalanan dibalik jendela mobil di sampingnya.
"Kamu masih muda Rana, setidaknya pikirkan hidupmu untuk menata hidup yang lebih baik. Jangan berlama lama larut dalam kesedihan."
Adriana masih terdiam akan nasehat yang Tegar ucapkan, matanya masih menatap kosong jalanan di balik kaca mobil.
"Entahlah, aku hanya perempuan bekas. Jangankan untuk bermimpi, mendambanya pun aku tak mampu."
Tutur Adriana masih dengan tatapan kosong, semburat kesedihan pun terbias dari wajah Adriana.
__ADS_1
••••
Like and comment ya 😄