
Setelah kematian Rania membuat suasana rumah Devin semakin sepi. Hubungan antara Devin dan Jesi tak sebaik seperti biasanya, perasaan Devin untuk Jesi mulai berubah setelah ia tahu bahwa Rania bukanlah anak kandungnya.
Yang terus menerus menjadi pertanyaan dalam hati Devin adalah siapa ayah kandung Rania?
Kenapa Jesi setega itu akan terhadap Devin. Kalau Rania bukanlah anak kandung Devin, sudah dipastikan Jesi berselingkuh dengan pria lain sejak masa pacaran di bangku kuliah. Hati Devin semakin bertanya tanya, tapi pada siapa ia akan mencari informasi di masa lalunya.
Otak Devin berpikir keras memikirkan penghianatan yang Jesi lakukan. Ingin sekali Devin menceraikan Jesi dan kembali bersama Adriana, namun tidak semudah itu Devin menceraikan Jesi tanpa alasan, karena kebenaran akan ayah kandung Rania belum terungkap. Begitupun dengan Adriana, belum tentu Adriana akan menerimanya lagi untuk kembali menjadi suaminya. Belum lagi Tegar yang selalu berusaha mendapatkan hati Adriana.
Terbesit perasaan malu saat Devin melihat Tegar yang semakin dekat dengan Adriana. Benak Devin mengatakan bahwa sudah bisa dipastikan Tegar telah menceritakan masa lalunya bersama Kiran pada Adriana.
"Aggggggghrrrrrrrr!"
Devin semakin merasa kacau memikirkan jalan hidupnya. Orang tua yang selalu ada sudah tak menganggapnya lagi sebagai anak sejak pernikahannya bersama Jesi. Sedangkan kini rumah tangga Devin dengan Jesi semakin hambar, tak jarang Devin selalu menyebutkan nama Adriana disetiap aktivitas ranjangnya bersama Jesi, dan itu membuat Jesi semakin murka.
Rumah tangga yang mereka jalin kini hanya ada pertengkaran di setiap harinya, membuat keduanya muak satu sama lain.
"Rickygue harus temuin Ricky"
Tiba tiba Devin ingat perkataan Ricky saat ia akan dijodohkan dengan Adriana, kala itu Devin masih belum mau menerima perjodohan itu dan masih memikirkan kehamilan Jesi.
Ricky sempat bertanya pada Devin untuk meamastikan bahwa kandungan Jesi adalah anaknya atau bukan? Sayangnya Devin tak menggubris pertanyaan sahabatnya. Kala itu Devin juga merasa sudah menikmati tubuh Jesi selama masa pacaran. Hubungan intim layaknya suami istri tidak satu dua kali mereka lakukan, hal ini yang membuat Devin merasa bahwa kehamilan Jesi adalah sepenuhnya darah dagingnya.
Tanpa berpikir panjang Devin segera meraih kunci mobil, langkahnya setengah berlari, tak sabar ingin menemui Ricky.
"Tuan mau kemana?"
Tanya mbok Yum yang keheranan melihat majikannya terburu buru.
"Ada urusan mbok. Kalau Jesi pulang bilang ajah masih di kantor."
Devin tak ingin penyelidikannya diketahui oleh Jesi.
__ADS_1
•••
"Wihhh kemana ajah lo? Masuk masuk."
Ricky merasa terkejut akan kedatangan Devin di rumahnya. Sudah lama Devin tidak berkunjung ke rumah Ricky.
"Jawab jujur Ky, gue mohon. Ada yang lo sembunyikan tentang Jesi dari gue kan?"
Ricky terdiam sesaat akan pertanyaan Devin. Hatinya terkejut, entah kenapa Devin tiba tiba menanyakan tentang Jesi padanya.
Untuk menghindari tatapan penuh selidik dari Devin, Ricky menyulutkan sebatang rokok di bibirnya.
"Jawab!"
Devin tak sabar mendengar jawaban Ricky yang justru malah bersikap santai.
"Lo kenapa sih dateng dateng kaya reporter infotainment tahu gak."
"Rania bukan anak gue."
Kalimat itu terlontar dari bibir Devin yang sudah geram melihat gerak gerik Ricky yang bersikap tidak tahu apa apa.
"Terus anak siapa?"
Ricky balik bertanya dengan santainya.
"Makanya gue kesini gob**k!"
Ricky hanya tersenyum miris akan makian sahabatnya.
"Gue kan pernah saranin ke lo waktu lo dikenalin sama Adriana. Jangan pikirin Jesi, belum tentu dia mengandung anak lo. Giliran kaya gini lo nuntut ke gue. Lo terlalu dibutakan akan pesona Jesi Vin."
__ADS_1
Dengan begitu santainya Ricky menanggapi pertanyaan Devin.
"Apa lo pernah ngegap-in Jesi ama cowok lain?"
Ricky menggoyangkan abu rokoknya di asbak, sudah lama ia ingin memberitahu Devin, sayangnya dari dulu selalu Ricky tepiska. Mungkin karena Devin yang terlalu mempercayai Jesi.
"Sekarang apa dulu nih?"
Karena sampai sekarang pun Ricky masih melihat Jesi pergi dengan laki laki lain, Ricky tak ingin ikut campur akan rumah tangga sahabatnya.
"Udah gini ajah deh, gue gak mau ribet sama urusan rumah tangga lo Vin. Dulu saat masih kuliah gue liat Jesi di club sama cowok bule, gandengan mesra banget. Waktu itu status Jesi masih jadian sama lo. Sorry bro kalo gue gak cerita sama lo, karena gue tahu respon lo seperti apa nantinya, yang ada lo musuhin gue, lo akan lebih percaya sama Jesi ketimbang gue Vin. Gue gak mau persahabatan gue ama lo rusak cuma karena terlalu ngorek ngorek masalah pribadi lo."
Hati Devin mencelos setelah mendengar penjelasan dari Ricky.
"Kadang cinta dan pembodohan itu bedanya tipis, dan itu lo manusianya Vin."
Devin tak mampu melawan cacian Ricky, karena memang kenyataan yang ada seperti itu.
"Bokap lo udah ngasih barang bagus, cewek sebaik Adriana malah lo buang, milih cewek sampah modelan Jesi. Sorry nih kalo bahasa gue terlalu arogan, tapi itu faktanya Vin, Jesi cuma manfaatin kekayaan lo doang, kekayaan orang tua lo."
Devin semakin bungkam tanpa kata.
"Tapi kalau Jesi mau berubah, mending gue saranin pertahanin rumah tangga lo. Malu bro lo udah nikah dua kali masa iya mau gagal lagi. Gue ajah belum, lo udah mau tiga kali gitu kalo lo cerain Jesi."
Ricky terkekeh akan kata kata yang diucapkannta sendiri.
"Gue pengen balik sama Adriana Ky, tapi gue malu sudah terlalu banyak luka yang gue buat."
Pandangan Devin menggambarkan masa lalunya bersama Adriana, wanita yang sudah Devin siakan.
••••
__ADS_1
Jangan lupa klik like ya 😉