
Devin masih berdiri di hadapan Adriana dengan situasi yang canggung, lidahnya kelu hendak mengatakan apa. Namun yang pasti Adriana akan bertanya tanya mengapa Devin tiba tiba muncul di hadapannya?
Banyak orang yang merekam kejadian mereka, sudah dipastikan Tegar akan marah besar akan sikap Adriana yang tidak terbuka padanya.
"Kamu sengaja kan Devin mengikuti ku?"
Adriana masih tidak habis pikir akan kemunculan Devin.
"Maafkan aku Adriana. Aku hanya cemas melihatmu berada disini sendirian menemui laki laki yang sakit kejiwaannya."
Adriana mendengus kesal, lalu melipatkan kedua tangan di dadanya.
"Kamu pikir orang orang tidak akan memposting kejadian barusan, dan Tegar pasti akan kecewa berat Devin. Seneng kamu!"
Luapan emosi Adriana tak tertahankan. Pikirannya mengambang.
Jika Tegar tahu keributan ini melibatkan Devin, Adriana tahu persis pada siapa suaminya akan cemburu berat, dan bukan pada Arka tentunya, melainkan Devin lah orang yang selalu Tegar waspadai.
"Adriana aku hanya panik melihatmu dalam kondisi terancam, dan kamu lihat sendiri kan apa yang sudah dilakukan oleh laki laki tadi terhadapmu?"
Penjelasan Devin kali ini membuat Adriana sesaat tertegun. Hati kecil Adriana mengakui jika tidak ada Devin yang datang menolongnya, entah apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Adriana aku akui, sudah terlalu banyak salahku padamu di masa lalu, tapi setidaknya bisa kah kita lupakan apa yang terjadi di masa lalu kita? Anggaplah aku ini seorang teman untukmu, karena dengan melihatmu saja aku sudah cukup merasa bahagia."
Nada bicara Devin begitu lembut di hadapan Adriana. Tangan Devin pun berniat menyentuh jemari Adriana, namun sayangnya Adriana sedikit mundur satu langkah menghindari jangkauan Devin.
"Cukup Devin, tidak ada orang yang mampu berteman dengan masa lalunya. Jangan muncul lagi di hadapanku, aku mohon Devin. Itu hanya akan membuat hatiku sesak."
Permintaan Adriana cukup menusuk hati Devin. Sebegitu bencinya Adriana akan dirinya? Sampai sampai tak sudi lagi melihat wajahnya.
__ADS_1
Adriana bergegas meraih tas tangan warna hitam yang ia letakkan di kursi caffe. Baru saja melangkah tangan Devin sudah meraih lengannya.
"Adriana apa terlalu benci kah padaku? Masih adakah aku di hatimu Adriana?"
Kembali Adriana mendengus kesal, menghela nafasnya, berharap kesabarannya tidak habis menghadapi laki laki tampan berjambang tipis di hadapannya.
"Devin harus berapa kali aku bilang? Namamu sudah tidak ada lagi di hatiku, dan kamu tahu saat ini aku sudah bersuami. Tentunya cintaku sepenuhnya untuk suamiku."
Ujar Adriana dengan tegas di hadapan Devin.
"We start again Adriana."
Ucapan Devin barusan membuat Adriana tidak habis pikir.
"Gila kamu! Ngajak balikan sama istri orang."
Adriana memalingkan pandangannya dengan begitu angkuh, sementara Devin masih menghalangi jalan Adriana.
Gurat kesedihan terbias dari netra Devin, membuat Adriana sedikit tidak tega.
"Perbaiki hidupmu Devin. Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan wanita yang jauh lebih baik dariku, dan terimakasih atas pertolonganmu. Assalamualaikum."
Melihat Devin yang mulai melemah Adriana langsung memanfaatkan situasi untuk segera beranjak pergi meninggalkan Devin sendirian dengan penyesalannya.
•••
Sudah jam delapan malam Tegar masih berkutat dengan laptopnya, hanya saja ia sudah kembali ke kantor pusat setelah menilik keadaan kantor cabang di Bogor. Tegar masih melakukan beberapa review achievment cabang.
Tegar merasa lelah, lalu membuatnya mundur dari layar monitor untuk menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Tangannya memijat kedua pelipisnya pelan.
__ADS_1
Rasa pening yang Tegar rasakan sangat menyiksa, belum lagi hatinya yang sudah merindukan Adriana.
Akibat kesibukan yang padat seharian ini, Tegar belum sempat menghubungi Adriana via chatt seperti biasanya.
Tiba tiba Bryan datang memasuki ruangan Tegar tanpa mengetuk pintu
"Tegar lo harus liat ini."
Kedatangan Bryan yang tergesa gesa membuat Tegar mengesampingkan sakit kepalanya, lalu diraihnya ponsel milik Bryan yang memutar video dalam salah satu akun media sosial.
"Itu bini lo kan?"
Bryan memastikan saat Tegar melihat kejadian Arka meraih paksa tubuh Adriana, dan tak lama Devin muncul menyerang Arka. Sungguh pemandangan yang sangat menusuk hati Tegar, kenapa harus Devin yang menolong Adriana? Kenapa Adriana sama sekali tidak bercerita padanya?
Pikiran Tegar semakin mengambang dan siapa Arka?
"Sorry bro gue telat ngasih informasi penyelidikan soal teror itu."
Awalnya Bryan ingin memberitahukan hari ini, namun pekerjaan yang padat membuat Bryan lupa memberitahukan pada Tegar.
"Arka yang sudah meneror istri lo, dia mengalami depresi berat setelah dipaksa putus dengan Adriana oleh mamahnya. Kini Arka mengalami gangguan jiwa, dan asumsinya Adriana masih menjadi kekasihnya, makanya dia terus terusan menghubungi Adriana."
Penjelasan Bryan memang tidak ada yang salah, namun yang jadi pertanyaan besar mengapa harus Devin yang ada disana?
Hati Tegar tak kuasa menahan cemburu, jemarinya segera menutup monitor laptop dan meraih jas serta kunci mobil untuk segera pulang menuntut penjelasan pada Adriana.
"Gue balik Yan, soal review beberapa cabang besok kita bahas lagi."
Tegar menepuk bahu Bryan dan berlalu dengan cepat, meninggalkan sahabatnya seorang diri di ruang kerjanya.
__ADS_1
••••
Klik like 😉