
Setelah kepergian Jesi dari ruangan Adriana membuat suasana hati Adriana memburuk. Untuk melakukan aktivitas pekerjaannya pun Adriana merasa malas, karena hatinya tak menentu.
Adriana memutuskan untuk turun ke lantai dasar, dan keluar dari bangunan hotel menuju taman yang ada di bagian belakang hotel, kebetulan di hotel yang baru sudah tersedia taman dan caffe, tujuannya untuk membuat nyaman para pengunjung hotel.
Adriana duduk menikmati angin segar dengan secangkir coklat panas untuk menenangkan pikirannya. Pikiran Adriana mengambang jauh memikirkan sulitnya ia untuk mengandung, dan lagi kedatangan Jesi yang sangat mengusik luka lama yang selalu berusaha Adriana tutup rapat.
Tiba tiba notifikasi whatsapp berdering dan nama Tegar terpampang dibalik layar ponsel milik Rana.
Sayang.. Mas kangen banget sama kamu
Love you. . .
😘
Disaat suasana hati yang tak menentu Tegar selalu bisa membuat hati Rana merasa lebih baik senyum pun merekah dari bibir tipisnya setelah membaca pesan whatsapp yang dikirim oleh suaminya.
Love you too Tegar ku. . .
Mas pulang jam berapa?
Adriana membalas pesan Tegar, dan menanyakan Tegar pulang jam berapa, mungkin karen suasana hatinya sedang dirundung kesedihan.
Adriana ingin cepat cepat pulang dengan harapan Tegar segera menyelesaikan pekerjaanya, dan segera menjemput Adriana di hotel. Sejak kepindahan Adriana dari Bandung membuat suaminy punya kebiasaan baru, yaitu sering antar jemput Adriana. Sikap Tegar memang terlalu protektif terhadap istrinya.
Baru sekitar lima menit membalas pesan suaminya, notifikasi whatsapp berdering kembali dan Adriana kira itu pesan dari Tegar.
Kamu manis banget dengan hijab kuning.
Adriana terkejut dengan pesan asing tersebut, matanya mencari cari sekeliling, berharap menemukan orang yang sudah menerornya akhir akhir ini.
__ADS_1
Memang beberapa waktu lalu nomor tersebut sudah diblokir oleh Tegar, dan kini masuk nomor baru lagi. Adriana langsung menekan tombol panggilan, tekadnya sudah bulat untuk menemui pemuja rahasianya. Walau itu sangat berbahaya bagi Adriana.
Sambungan telpon dari Adriana tidak ada jawaban membuat Adriana mau tidak mau membalas pesan tersebut.
Siapa kamu?
Selang sekitar lima belas menit pesan itu mendapat balasan dari pria misterius tersebut.
Masih ingatkah kamu denganku Adriana?
Arka Hendrawan.
Deggggg
Seketika hati Adriana mencelos ingat betul akan nama tersebut, dan masih ingatkah bahwa Adriana pernah memiliki mantan kekasih di masa kuliah yang tidak disetujui oleh orang tua kekasihnya, dan itu Arka.
Entah apa maksudnya Arka mengusik kembali kehidupan Adriana, setelah sekian lama Adriana melupakannya, dan Adriana terpaksa harus melupakannya, mengingat kedua orang tua Arka yang memandang sebelah mata dirinya. Salah satu pemicu semangat Adriana dengan pencapaiannya sampai detik ini adalah berkat dari sikap orang tua Arka yang selalu memandang rendah dirinya.
Dulu penampilan Adriana belum berbalut hijab, membuat Adriana tampak sexy dan modis, semakin membuat mata laki laki tertuju padanya.
Tiba tiba sebuah ciuman di pipi Rana mendarat, dan itu membuat Rana terkejut setengah mati.
"Astagfirullahaladzim, mas bikin aku jantungan."
Tegar terkekeh melihat ekspresi istrinya. Entah kenapa Tegar suka sekali mengejutkan Rana dengan tindakan tindakan mesranya.
"Ngelamunin apa sih sayang? Sampe serius gitu."
Saat Tegar datang Adriana masih termenung di taman belakang hotel.
__ADS_1
"Aku lagi kepikiran Jesi mas."
Adriana memalingkan wajahnya dari pandangan Tegar, ingin sekali hatinya menyampaikan tentang orang yang sudah menerornya, tapi Adriana mengurungkan niat. Cukuplah masalah Jesi saja yang ia sampaikan pada Tegar.
"Jesi?"
Tegar mengernyitkan dahinya meminta penjelasan lebih pada Rana.
"Iya mas tadi siang Jesi datang nemuin aku kesini, datang untuk meminta maaf padaku."
"Sadar juga dia."
Tegar langsung memotong kalimat Rana.
"Iya mas, dan itu membuatku teringat lagi akan luka lama yang selama ini sudah susah payah aku tutup."
Adriana tertunduk lemah mengutarakan isi hatinya di hadapan Tegar yang sedang dalam posisi setengah jongkok di hadapan Adriana. Tatapan Tegar penuh kerinduan, akibat seharian ini ia baru bertemu dengan wanitanya lagi.
"Jangan dipikirkan lagi sayang, berdamailah dengan masa lalu, karena aku akan selalu ada untukmu menghapus semua luka lama yang mereka goreskan."
Tegar menepuk nepuk punggung tangan Rana.
"Iya mas aku selalu berusaha berdamai dengan masa lalu, namun bukan berarti harus bertatap muka dengan mereka. Itu butuh waktu mas."
Tegar sangat mengerti perasaan istrinya, ia pun bangkit duduk di samping sang istri, lalu membawanya dalam dekapan, menempelkan kepala Adriana di pundaknya, dan dielusnya pundak sang istri oleh Tegar.
"Jadikan aku sandaran hatimu selalu Rana. Apapun perasaanmu saat ini, cukuplah seperti ini bersamaku, setidaknya itu akan membuatmu merasa lebih baik."
Tegar tidak mampu lagi memberikan kalimat yang menenangkan untuk istrinya, yang ia tahu cukup membawanya dalam dekapan sudah membuat rasa sedih Adriana sedikit berkurang.
__ADS_1
••••
Like and comment ya 😘