Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Mimpi buruk itu hadir kembali


__ADS_3

Sudah sekitar satu minggu Tegar mendiamkan Rana, bahkan mereka sudah tidak tidur satu kamar lagi. Tegar lebih memilih tidur di kamar tamu yang terletak di lantai bawah. Walau di lantai dua masih ada kamar, Tegar tidak ingin menggunakan kamar yang berada di samping kamar utama.


Ego Tegar lebih menguasai dibanding hatinya, walau Adriana sering mencoba berlaku seperti biasa, namun Tegar tetap dingin. Tak jarang mereka menghabiskan waktu sarapan dan makan malam dalam kesunyian, bahkan Tegar semakin tega, tidak sekali dua kali tak menyentuh masakan yang sudah Rana siapkan. Itu sangat membuat hati Rana semakin hancur, bahkan terbesit dalam hatinya ingin mengakhiri pernikahan bersama Tegar.


Mengakhiri bukan semata mata untuk kembali bersama Devin, sama sekali bukan. Bagi Rana mungkin cinta sudah tiada lagi di hati Tegar, berkali kali Rana mencoba minta maaf, namun tetap tidak mampu menembus ego suaminya.


Perlakuan Tegar terhadap Rana sangat berubah drastis, tidak lagi peduli dan tidak lagi sehangat dulu. Ingin sekali Rana mengutarakan isi hatinya, jika Tegar masih tetap dingin ia tidak ingin lagi tinggal bersama selama masa ini. Niatan itu Adriana urungkan, membuatnya berpikir kembali bahwa itu hanya akan membuat kecurigaan Tegar semakin berlarut larut. Bisa saja Tegar berpikir bahwa Adriana sedang mencari cari alasan untuk berpisah dengannya, dan kembali bersama Devin.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Tegar masih tak kunjung pulang sejak satu minggu terakhir ini.


Hampir tiap malam Tegar pulang larut, dan Adriana masih setia menunggu seperti tak terjadi apapun. Walau kedatangan Tegar sangat cuek dan langsung melenggang menuju kamar tamu, seperti tidak menganggap Adriana ada, namun Adriana tetap setia menunggu kepulangan suaminya.


Sambil menunggu, Adriana masih berkutat dengan laporan keuangan dan progres renovasi hotel. Adriana sangat bersemangat menggambar desain dan membuat list kebutuhan property.


Lelah sudah dirasakan oleh Rana, namun egonya masih ingin tetap menyelesaikan target pekerjaan, karena saat ini Rana butuh aktivitas lebih untuk melupakan masalahnya bersama Tegar. Walau terkadang rasa takut dan cemas itu sering datang.


Adriana sering bertanya tanya kemana Tegar pergi? Sampai membuatnya pulang malam di tiap harinya.


Terlalu benci kah Tegar pada Adriana?

__ADS_1


Sehingga membuatnya tak sudi lagi melihat Rana berada di rumahnya.


Pikiran Rana mengambang jauh menerka nerka segala kemungkinan pahit yang akan terjadi dalam rumah tangganya.


"Tuhan... Apa mungkin sudah takdirku untuk hidup sendiri?"


Sesaat Adriana bergumam mengangkat pensil dari kertas gambarnya. Terlintas wajah Tegar yang dulu hangat padanya, namun sekarang begitu terasa perih. Untuk menatapnya saja tak mampu Adriana lakukan.


"Ayo Rana kerja kerja jangan dipikirkan."


Adriana menggelengkan kepalanya berusaha menepiskan beban pikiran, kemudian ia melanjutkan kembali aktivitasnya sampai kantuk yang Adriana rasakan tak tertahankan.


Tubuh ringkih Adriana kini tergolek separuh badan di atas meja dan terlelap disana.


Ceklekkkk


Terdengar suara pintu utama terbuka, menampilkan wajah Tegar yang begitu lusuh. Pukul sebelas malam Tegar baru pulang, dan Tegar pikir Adriana pasti sudah tidur lelap di kamar. Namun ada yang janggal saat Tegar melihat lampu ruang TV yang masih menyala, itu artinya Adriana belum tidur.


Tegar melangkah menuju ruang TV, tiba tiba langkahnya terhenti saat melihat Rana sudah terlelap tidur. Lipatan tangan Adriana digunakan sebagai bantal, sementara alat tulis dan laptop masih berserakan di meja.

__ADS_1


Tegar pun sudah mengerti kalau istrinya sangat merasakan lelah yang tak terkira. Lelah aktivitas, dan lelah hati, akibat sudah didiamkan dalam satu minggu ini.


Tegar menghela nafas saat melihat tubuh Rana yang sudah tergolek di meja, lalu diraihnya tubuh sang istri dalam gendongan bridal style. Kemudian Tegar membawa Adriana ke kamar utama dengan sirat wajah yang tidak tega melihat Rana yang sudah lelah.


Sesampainya di kamar, Tegar menatap wajah ayu yang penuh kesedihan, bahkan air mata pun menitik di ujung mata Rana yang masih terpejam.


Entah apa yang dialami Adriana di alam bawah sadarnya? Yang pasti rasa trauma yang dulu Adriana rasakan bersama Devin, seperti terulang kembali.


Mimpi buruk itu menghantui lagi selama satu minggu terakhir, hanya saja Tegar tidak mengetahuinya. Bahkan saat Adriana mengigau pun Tegar tidak mendengarnya, karena posisi kamar yang ia tempati berada di lantai bawah.


"Tidak... Tidak..."


Kepala Adriana menggeleng di atas bantal dengan raut wajah penuh ketakutan. Tegar yang melihat Adriana yang tersiksa akan mimpinya, merasa tidak tega, lalu digenggamnya jemari Rana dengan erat, dan ikut berbaring di samping Adriana untuk memberikan pelukan yang sedikit mengurangi rasa trauma Rana dalam mimpi buruknya.


Sekitar lima belas menit Adriana sudah tenang kembali dengan tidurnya. Tegar pun beranjak dari tempat tidur, kemudian mengganti lampu kamar dengan lampu tidur yang meremang.


Tegar akhirnya keluar kamar, langkahnya menuju kamar bawah dengan hati yang masih ragu setelah menyaksikan Adriana mengalami mimpi buruk.


Sayangnya rasa kasihan Tegar lebih dikalahkan oleh egonya, sehingga membuatnya tetap berlaku dingin pada Adriana.

__ADS_1


••••


Klik like ya 😉


__ADS_2