Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Permintaan Rana


__ADS_3

Tegar begitu bersemangat untuk mendatangi Adriana. Sepanjang jalan bibirnya tak henti hentinya bersiul ria dengan ditemani alunan lagu  cinta. Harapan hidupnya seperti bangkit kembali, hatinya yang sempat rapuh setelah melihat keberadaan Devin di ruangan Adriana, seketika hilang setelah mang Amin memberitahukan kedatangan Adriana.


Tegar sangat merindukan wajah ayu dan senyum manis nan anggun milik Rana. Baru membayangkannya saja sudah membuat bibirnya tanpa henti menyunggingkan sebuah senyuman. Perjalanan Jakarta Bandung seperti sudah biasa ia tempuh hanya demi wanita pujaan hatinya.


Tegar tak pernah menyangka bahwa harapan tentang cintanya akan tumbuh kembali setelah sekian lama Tegar ditinggalkan oleh kekasihnya dulu, jauh sebelum mengenal Adriana dan jauh sebelum sukses seperti sekarang ini.


Kekasih Tegar meninggalkannya di saat kondisi terpuruk, di saat ibunda Tegar meninggal dunia. Kekasihnya pergi menikahi lelaki yang jauh lebih sukses darinya kala itu, inilah alasan Tegar mengapa begitu gigih akan bisnisnya.


Tegar hanya ingin membuktikan pada semuanya bahwa ia akan baik baik saja dan bangkit di tengah keterpurukannya, namun sayangnya Tegar harus terhantam oleh rasa trauma akan kehidupan cintanya. Hanya Adriana yang membuatnya kembali melawan rasa takut akan masa lalu.


Sorot mata Adriana begitu terasa mendamaikan di hati Tegar, tatapan yang berbeda dari wanita manapun yang pernah Tegar temui.


"Jodohku... maunya ku dirimu... hingga mati..."


Tegar ikut bersenandung dengan lagu milik Anang Hermansyah, mewakili perasaan bahagia dalam lagu tersebut.


Tanpa terasa Tegar sudah sampai di bangunan bertuliskan Larasati's View. Perasaan dan suasana hati yang bagus membuat empat jam perjalanan tak terasa.


Tegar tak hentinya mengerlingkan pandangan saat baru memasuki area parkir hotel milik Adrian. Sebentar lagi Tegar akan bertemu dengan Rana tercintanya.


Dengan langkah yang penuh percaya diri Tegar segera menuju lantai empat, tempat dimana ruangan Adriana berada.


Sesampainya disana, ruangan Adriana terkunci rapat tidak ada siapa siapa. Tegar mulai panik segera ia menghampiri pelayan hotel yang kebetulan melewati ruangan Adriana.


"Permisi mas, ibu Adriana kemana ya?"


Pelayan hotel pun menghentikan langkahnya saat mendengar pertanyaan Tegar.


"Ibu Adriana ada pak, tapi sedang di taman belakang. Mari saya antar pak."


Pelayan itu menawarkan bantuannya pada Tegar.


"Gak usah mas, saya tahu kok. Biar saya sendiri yang kesana."


Tegar masih ingat betul taman saat dirinya berkenalan dengan Adriana.


Sesampainya di taman dilihatnya wanita dengan hijab pasmina hijau botol berbalut kemeja putih tulang dan celana chinos hitam yang membalut kaki jenjangnya, serta paduan stileto hijau botol senada dengan hijabnya semakin mempercantik penampilan Adriana yang kini tengah dinikmati oleh kedua bola mata Tegar.


Adriana tengah asyik mendiskusikan desainnya dengan penanggung jawab salah satu vendor yang akan menggarap perubahan hotel  berdasarkan desain yang Adriana inginkan.


Adriana terlihat begitu sibuk menjelaskan detail tatanan ruang interior dan eksterior yang ia inginkan, jari telunjuknya tak henti menunjukkan antara desain dan ruang yang akan ia rubah. Sungguh menampakkan pemandangan wanita cantik berbalut hijab dengan segala kecerdasan dan kesopanannya, semakin membuat pria yang berdiri sekitar sepuluh meter di hadapannya tersenyum bangga pada Adriana.


"Pilihanku memang tepat."

__ADS_1


Gumam Tegar seraya melangkahkan kaki menuju tempat Adriana berdiri setelah lawan bicara Adriana pamit meninggalkan Adriana sendirian. Sementara wanita itu masih sibum  berkhayal akan pembangunan hotelnya.


"Assalamualaikum jodoh."


Tegar menyapa Adriana dibalik punggungnya dengan menyodorkan bucket bunga mawar putih kesukaan Adriana. Entah dari mana Tegar tahu bahwa Adriana begitu menyukai mawar putih.


Adriana membalikkan tubuhnya seakan tak percaya melihat laki laki yang ia cari cari kini berdiri tepat di hadapannya.


"Mas Tegar."


Adriana menyebutkan nama Tegar dengan tatapan yang tak percaya.


"Yes, it's me sweety."


Adriana tertunduk tak mengerti akan kedatangan Tegar. Ingin sekali ia bertanya kemana Tegar pergi? Namun niatnya ia urungkan, karena Adriana merasa belum punya hak untuk menanyakan itu pada Tegar.


"Maaf Rana dua minggu ini aku sibuk meeting di Jepang."


Adriana hanya tersenyum canggung, ternyata Tegar mengetahui kalau dirinya sudah mencari ke Jakarta.


"Ambil dong bunganya. Aku sengaja beliin spesial buat kamu."


Adriana meraih bucket bunga yang Tegar sodorkan, lalu mengajaknya duduk di teras taman.


Tegar berusaha menggoda.


"Nggak, siapa juga yang nyariin mas."


Adriana terlalu gengsi untuk mengakuinya.


"Mang Amin yang bilang, masih gak ngaku?"


Tegar semakin menyudutkan Adriana.


"Iya mas, aku nyari mas Tegar ke Jakarta."


Akhirnya Adriana mengakuinya dengan wajah tertunduk dan sedikit sedih akan usahanya yang sia sia. Selama dua minggu ini Adriana sudah bertekad untuk melupakan Tegar.


"Loh kok Rana sedih gitu?"


Tegar merasa aneh akan perubahan sikap Rana.


"Mas, apa aku boleh tanya sama mas Tegar?"

__ADS_1


"Tentu Rana."


Sahut Tegar dengan senyuman yang begitu bersemangat.


"Apa lamaran beberapa waktu lalu dari mas Tegar masih berlaku?"


Pertanyaan Adriana membuat Tegar terperanjat dan tertawa kecil.


"Rana, jangan kamu pikir aku ini laki laki yang gak punya pendirian, meninggalkan ucapan sendiri tanpa kepastian. Aku selalu menunggumu Rana, aku selalu menunggu saat dimana kamu akan menanyakan ini."


Adriana menatap mata Tegar dengan lekat, memang tak ada gurat kebohongan dalam sorot matanya, lalu Adriana meraih tas di sampingnya dan mengambil kotak putih berhiaskan berlian mewah yang ia sodorkan pada Tegar tanpa kata.


Entah Tegar harus senang atau kecewa, karena Adriana masih tetap diam. Terbesit dalam hati Tegar, bukan tidak mungkin Adriana akan mengembalikan cincin itu padanya, dalam artian menolaknya.


Mata Tegar sudah berkaca kaca tak kuasa memegang kotak cincin tersebut.


"Pakaikan di jariku mas."


Pinta Adriana dengan begitu lirih di hadapan Tegar, membuat hati Tegar kembali merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Penantian dan pengorbanannya tidak sia sia. Adriana sudah memutuskan untuk menerima lamaran Tegar.


"Tentu sayang."


Kini Tegar berani memanggil Adriana dengan panggilan sayang. Kemudian disematkannya cincin berlian itu di jari manis Adriana. Dengan erat Tegar memegang tangan Adriana yang kini resmi menjadi calon istrinya.


"Terimakasih Rana sudah mau menerimaku. Suka duka kita jalani bersama sampai maut memisahkan, jadikan aku yang terakhir di hidupmu Rana. Cintaku tulus, setulus tulusnya di atas ketulusan. Apapun rintangannya kita hadapi bersama sayang."


Adriana begitu tersentuh akan kalimat kalimat yang Tegar sampaikan.


"Insyaallah mas, tapi apa boleh aku meminta satu permintaan padamu?"


"Bilang saja sayang, insyaallah selagi aku bisa aku akan mewujudkannya."


"Rana ingin acara pernikahan kita tidak mau dengan pesta yang berlebihan mas. Cukup hadirkan beberapa rukun nikah dan saksi, serta keluarga dan teman akrab saja mas, tanpa harus menggelar pesta mewah. Hanya itu permintaan Rana."


Tegar semakin merasa bangga akan wanita yang begitu ia cintai. Hati Rana begitu sederhana, berbeda dengan wanita wanita manapun yang menginginkan pesta pernikahan yang mewah dan berlebihan.


"Iya sayang kalau itu maumu, yang terpenting selamanya kita bersama, bahkan kelak di akhirat nanti."


"Aamiin mas."


•••


Cieee Rana sama babang Tegar 😍😉

__ADS_1


__ADS_2