
Kembali ke Devin dulu ya...
Devin merasakan kegelisahan yang tak terkira sejak kepergian Jesi. Wanita itu telah meninggal dunia, akibat sakit asma yang dideritanya.
Gaya hidup Jesi yang tidak sewajarnya seperti merokok, dan konsumsi alkohol membuat sakit asmanya semakin parah.
Sudah satu bulan yang lalu Jesi meninggal, dan itu berhasil membuat Devin semakin dalam kondisi terpuruk. Devin mulai menyesali semua perbuatannya terhadap orang orang yang pernah ia cintai.
Setelah Kiran yang meregang nyawa akibat bunuh diri, kini giliran Jesi yang harus pergi dengan penyakitnya.
Hampir tiap malam Devin selalu dihantui oleh mimpi buruk, terkadang Devin sering terbangun di tengah malam.
Dalam mimpi Devin muncul semua wajah wanita yang pernah ia sakiti, diantaranya wajah Kiran, Jesi dan terakhir Adriana.
Hanya ada satu kesempatan bagi Devin, yaitu dengan meminta maaf pada Adriana. Karena, hanya Adriana yang masih hidup diantara mereka bertiga.
Agar Devin bisa terlepas dari rasa bersalahnya, Devin harus benar benar meminta maaf dengan tulus pada Adriana, tanpa harus berpikir bahwa Adriana akan kembali bersamanya.
Devin harus benar benar merelakan kebahagiaan Adriana bersama Tegar, bahkan Devin sudah berjanji pada dirinya sendiri akan meminta maaf pada Tegar dengan sungguh sungguh, atas apa yang telah Devin perbuat pada saudara sepupu Tegar.
Devin masih mengira kalau Tegar dan Adriana masih tinggal di apartemen, namun ternyata dugaan Devin salah, hingga akhirnya ia mengutus salah satu karyawannya untuk mencari alamat Adriana.
Sesuai informasi yang didapat, kini Devin mengetahui kalau Adriana sudah bahagia bersama Tegar, bahkan mantan istrinya itu tengah mengandung anak Tegar.
"Adriana, kamu memang pantas bahagia." gumam Devin setelah menerima pesan whatsapp yang berisi alamat Adriana, beserta foto Adriana yang tengah duduk di teras dengan perut buncit.
Senyum getir terpatri di wajah Devin. Andai ia dulu tidak menyiakan Adriana, tidak dibutakan oleh Jesi, mungkin kini Devin yang berada di posisi Tegar.
"Sekarang gue sadar Bang, lo memang pantas buat Adriana." ujar Devin mengakui kekalahannya dari Tegar.
Saat pertama kali Devin mengenal Tegar dalam satu organisasi senat mahasiswa, Devin memanggil Tegar dengan panggilan Bang.
Devin sudah menganggap Tegar seperti kakaknya sendiri, karena secara usia dan pengalaman Tegar lebih matang dari Devin.
"Sekarang aku sadar dengan kata-kata yang kamu ucapkan Adriana. Jodoh adalah cerminan diri, dan bang Tegar memang pantas buat kamu. Berbeda denganku, aku tidak lebih dari seorang laki-laki pengecut." ujar Devin sendirian di dalam ruang kerja, lalu ia melempar semua dokumen di meja.
Isak tangis Devin sampai terdengar oleh Lina.
Aggggghhhhrrrrrr!
Lina yang mendengar jeritan Devin langsung menelpon Hans, kebetulan Hans sedang berada di ruangannya. Walau Hans sudah tua, tapi sesekali Hans akan datang berkunjung ke perusahaan.
"Ada apa Lin?" sahut Hans dibalik gagang pesawat telpon.
__ADS_1
"Pak Devin Pak, sepertinya sedang ada masalah. Tolong Pak Hans datang ke ruangan pak Devin sekarang." ucap Lina dengan nada bicara yang terdengar panik.
Kemudian Hans segera berlari menuju ruangan Devin.
"Devin apa yang kamu lakukan?"
Hans merasa heran dengan kondisi ruang kerja Devin yang berantakan, dokumen berserakan di lantai, bahkan vas bunga sudah Devin pecahkan.
"Ayah, aku tak kuasa menanggung perasaan bersalah. Aku selalu dihantui oleh dosa dosaku di masa lalu." ucap Devin dengan tatapan seperti meminta pertolongan pada Hans.
Tak banyak bicara lagi untuk Hans, pria paruh baya itu langsung meraih Devin dalam dekapannya, mencoba menguatkan putra semata wayangnya.
Hans sangat mengerti kalau kehidupan Devin semakin terpuruk setelah mendapat kabar Jesi meninggal.
"Ikhlaskan semuanya Devin, jadilah anak baik untuk Ayah."
Hans menangkup wajah putranya, berharap sirat kebaikan masih terpancar di mata Devin.
"Devin malu Yah, malu. Malu sama Tegar, malu sama Adriana. Tapi, hanya mereka satu satunya kesempatan yang akan membuat Devin lepas dari rasa bersalah Devin."
Sejenak Hans terdiam tanpa kata, teringat perilaku pengecut Devin terhadap Kiran.
Sedangkan Hans sudah ikut andil dengan mengancam Devin untuk tidak mempertanggungjawabkan perbuatannya, mengingat usia Devin yang masih belia kala itu.
"Tapi Yah, Devin takut kalau Tegar tidak menerima permintaan maaf kita, begitupun dengan Adriana." ujar Devin memotong ajakkan Hans.
Ayah Devin segera menggenggam jemari putranya erat, ia berusaha meyakinkan niatan baiknya pada Devin.
"Ayah yakin Adriana dan Tegar bukanlah tipe orang pendendam, percayalah."
Mata Hans menatap Devin penuh keyakinan akan hati Adriana, karena Hans juga selalu dihantui rasa bersalah akan peristiwa bunuh diri yang dilakukan Kiran.
•••
Seusai sholat maghrib, terdengar ketukan pintu di rumah Tegar, membuat suasana hangat di ruang TV bersama bi Ijah sedikit terganggu.
"Udah Bibi ajah yang bukain pintunya Non." ucap bi Ijah menawarkan bantuan untuk majikannya.
Bi Ijah melangkahkan kakinya menuju pintu utama, sesampainya di depan pintu, mata bi Ijah terbelalak melihat sosok wanita yang bi Ijah kenal. Apalagi wanita itu datang dengan raut wajah muram frustasi.
"Neng Lena." sapa bi Ijah pada Lena.
Bi Ijah menyebutkan nama Lena sambil menutup mulut, ia sedikit ketakutan saat melihat sorot mata Lena yang sudah berkecamuk emosi.
__ADS_1
"Apa boleh saya duduk?" tanya Lena masih berdiri di depan pintu, wanita itu meminta masuk ke rumah Tegar.
"Tapi Neng, tuan besar sedang tidak ada di rumah." rupanya bi Ijah mencoba menghalau Lena, mungkin saja dengan memberitahukan Tegar tidak ada di rumah, Lena akan pergi.
"Saya ingin bicara dengan Adriana." ucap Lena pelan, namun masih dengan raut penuh misteri.
"Sebentar ya Neng, silahkan duduk dulu. Sepertinya Non Rana sedang istirahat." ujar bi Ijah dengan degub jantung tak menentu.
Wanita paruh baya itu merasakan ada aura jahat dari sirat wajah Lena.
Sementara Lena tidak menjawab ucapan bi Ijah, ia hanya membiarkan bi Ijah masuk ke dalam untuk kembali menemui Adriana.
"Non, Bibi takut."
Pengakuan bi Ijah membuat Adriana bingung, apalagi bi Ijah nampak tergopoh-gopoh saat kembali ke ruang TV.
"Kenapa Bi?"
"Neng Lena ke sini." bisik bi Ijah sambil menggenggam tangan Adriana erat.
"Ya sudah aku temuin ajah Bi."
"Tapi Non, neng Lena terlihat tidak seperti biasanya Non. Dia terlihat menyeramkan, Bibi takut kalau nantinya Non diapa-apain." ungkap bi Ijah yang mencoba memberitahukan situasi Lena sekarang.
Setelah mendengar pengakuan bi Ijah barusan, tiba-tiba Adriana merasa sedikit gugup, ia juga ikut merasakan ketakutan seperti bi Ijah.
"Ya sudah Bibi temenin aku bicara sama Lena, tapi aku mau kasih tahu mas Tegar dulu ya Bi."
Adriana langsung mengirimkan pesan whatsapp untuk Tegar.
Kini langkah Adriana melaju menuju ruang tamu bersama bi Ijah yang setia menuntun Adriana, mengingat usia kandungannya yang sudah tua, sehingga Adriana mulai kesulitan untuk bergerak.
Masih dengan perasaan gelisah, namun Adriana berusaha tetap tenang, lalu ia duduk di sofa ruang tamu, dan menyapa Lena.
"Ada apa Lena datang ke rumah?"
"Mas Tegar sedang tidak ada di rumah." ucap Adriana lagi.
Lena tidak menjawab, ia hanya menatap wajah Adriana dengan tatapan tajam menyeramkan. Apalagi raut wajah Lena terlihat berantakan tak terurus, dan misterius.
•••
Jangan lupa klik like 😉
__ADS_1