
Sayup sayup adzan subuh terdengar di telinga Rana, membuatnya mengerjapkan mata untuk segera bangun dan berniat mengambil air wudhu.
Rana sempat terkejut mendapati dirinya terbangun di dalam kamar, seingat Rana semalam ia tertidur di meja ruang TV, lalu siapa yang membawanya ke kamar?
Apa mungkin itu Tegar?
Tapi kalau bukan Tegar, siapa lagi?
Memang tidak ada orang lain selain mereka berdua di rumah yang cukup megah itu.
Hati Adriana sedikit senang atas perlakuan Tegar yang sudah membawanya tidur di kamar, langkahnya segera beranjak dari tempat tidur untuk mengambil air wudhu. kemudian ia berjalan menuju lantai bawah, karena musholla di rumah mereka terletak berdampingan di samping kamar Tegar.
Hati Adriana sangat ragu untuk membangunkan suaminya untuk mengajaknya shollat berjamaah seperti biasa.
Sudah dalam satu minggu ini kebiasaan itu sudah hilang.
Adriana yang merasa mendapat perlakuan manis dari Tegar semalam, mencoba memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Tegar.
"Mas... Bangun... Kita subuh berjamaah mas."
Nada suara Rana begitu lembut dan hati hati saat mengetuk pintu kamar.
Rana takut kalau suaminya masih bersikap angkuh seperti biasanya, tapi rasa takutnya ia kesampingkan dulu demi mengajak Tegar untuk memenuhi kewajiban kepada Tuhan.
Adriana frustasi karena katukan pintunya tidak mendapatkan jawaban apapun dari dalam kamar, lalu ia meninggalkan kamar tersebut, lalu melangkah menuju tempat shollat.
Kemudian Adriana menggelar sajadahnya seorang diri, rasanya lebih terasa menyakitkan. Kebencian Tegar terhadap dirinya, sudah membuat Tegar benci juga terhadap penciptanya.
Bukan sakit akan perlakuan Tegar terhadapnya yang Rana rasakan, akan tetapi rasa sakit yang Rana rasakan saat Tegar melupakan kewajibannya pada Tuhan.
Adriana masih menyelesaikan dzikirnya lalu mengutarakan semua isi hati. Hanya pada yang maha kuasa atas segala takdir Adriana meminta.
Ya Allah...
Mohon ampuni dosa dosa hamba mu ini Ya Rabb, ampuni dosa hamba di masa lalu.
Ampuni dosa hamba atas perceraian yang terjadi di masa lalu,
__ADS_1
hamba tahu perceraian itu tidak diharamkan,
tapi hamba juga sangat mengerti bahwa perceraian adalah salah satu perbuatan tercela yang Engkau benci.
Ya Allah. . .
Jika takdirku harus sendiri,
aku akan berusaha ikhlas menerima yang Engkau gariskan.
Jika kesendirian itu akan membuat hamba menjadi insan yang lebih baik,
aku rela. . .
Apapun yang terjadi kelak di rumah tanggaku dengan mas Tegar,
aku hanya memohon satu kata 'Ikhlas' di hati hamba.
Aamiin Aamiin ya robbalalamin.
•••
Akhirnya Tegar terbangun, dan membuka pintu kamar untuk bersiap melaksanakan shollat subuh yang sedikit terlambat.
Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi, mungkin karena ia terlalu lelah, sampai tidurnya sangat lelap, hingga tidak ia hiraukan ketukan pintu dari Adriana yang mengajaknya shollat berjamaah.
Atau Tegar hanya berpura pura saja tidak mendengar ajakan Rana?
Entahlah laki laki itu terasa sangat berbeda, tidak lagi seperti Tegar yang biasanya. Tidak lagi seperti Tegar yang dulu.
•••
Tegar sudah duduk di teras rumah menikmati suasana pagi bersama lamunannya.
"Mas ini kopinya."
Adriana menyodorkan kopi buatannya yang biasa Tegar minum di pagi hari untuk menemaninya menikmati sang surya terbit.
__ADS_1
"Iya terimakasih."
Hanya itu jawaban dari Tegar tanpa memalingkan wajahnya sedikitpun pada Rana.
Mendapati respon Tegar yang seperti itu Adriana segera beranjak meninggalkan Tegar, hatinya tak kuasa mendapat perlakuan yang masih sama seperti hari hari sebelumnya.
Tekadnya hari ini Adriana akan bergegas pergi ke hotel, mungkin disanalah hatinya akan sedikit terhibur dengan beberapa kesibukan.
Walau hari ini hari libur tidak akan membuat Rana berdiam diri di rumah dengan suasana yang mencekam bersama Tegar. Itu terasa sangat menyakitkan bagi Rana.
Selang satu jam Adriana kembali dengan pakaian yang sudah rapi mengenakan baju tunik warna hitam polos yang panjang sebetis, dipadukan dengan balutan celana jeans abu muda yang membuat penampilannya nampak sangat anggun.
"Mas aku mau berangkat ke Larasati`s View. Kalau mas lapar aku sudah buatkan mas sarapan dan puding kesukaan mas."
Dengan nada bicara takut takut Adriana mohon pamit pada suaminya. Dadanya merasakan sesak, tapi Rana masih ingat bahwa statusnya saat ini masih istri Tegar, dan suaminya berhak tahu kemana ia akan pergi.
Rana pun tak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, pergi menemui Arka tanpa pamit karena terlalu panik memikirkan ancaman Arka akan keselamatan Tegar.
"Kamu hari berangkat? Apa sengaja mau menghindari aku?"
Kalimat Tegar barusan membuat langkah Adriana terhenti dan membalikkan tubuhnya.
"Aku bingung mas berada disini, dengan sikap kamu yang terus begini."
Adriana memberanikan diri angkat bicara, berusaha mengutarakan semua yang dirasakannya.
Adriana berkata tanpa menatap wajah Tegar, baginya hanya akan membuat hatinya semakin nyeri.
"Nanti siang sahabat kecilku akan berkunjung ke rumah Gilang. Aku minta sama kamu jangan pergi kemana mana, karena kita akan bertemu disana, dan aku akan mengenalkanmu."
Sahabat kecil?
Setahu Rana tidak pernah Tegar bercerita tentang sahabat kecil, tapi tidak mengapa, setidaknya hati Rana sedikit lebih baik melihat Tegar yang mencoba mengajaknya bicara, walau dengan nada bicara seperti orang asing, tapi setidaknya itu sudah lebih baik.
••••
Klik like ya 😉
__ADS_1