
Tegar dan Adriana sudah sampai di rumah orang tuanya. Rumah yang begitu megah dan mewah yang hanya di huni oleh adik Tegar dengan satu orang tukang kebun dan asisten rumah tangga bi Ijah.
Bi Ijah menyambut hangat kedatangan Tegar dan Adriana dengan antusias. Berdasarkan cerita dari adik Tegar bi Ijah sudah sangat kepo akan wanita yang menjadi pujaan hati tuannya.
"Non Rana ya?"
Adriana kebingungan menatap bi Ijah yang sudah mengetahui namanya.
"Mas Tegar udah cerita apa ajah sama bi ijah?"
Kini Adriana yang berani menggoda laki laki di sampingnya dan berhasil membuat Tegar mengacak rambutnya merasakan sedikit salah tingkah. Dalam hati Tegar pasti kelakuan adik nakalnya yang sudah menceritakan pada bi ijah.
Tegar sudah menganggap bi Ijah seperti orang tua sendir, karena bi ijah sudah mengasuh mereka sejak kecil.
"Cantik ya tuan."
Bi Ijah memuji paras ayu yang dimiliki Adriana.
"Cantik juga bi ijah waktu muda."
Suara itu datang dari ruang tengah, menampilkan wajah yang sedikit mirip dengan Tegar, hanya saja rambut laki laki tersebut sedikit ikal, berbeda dengan gaya rambut barbershop si tampan Tegar Prasetya.
Mata Adriana terbelalak melihat laki laki tersebut seakan tak percaya. Adriana merasakan bahwa dunia begitu sempit.
"Pras!"
Seru Adriana yang sudah lama tak bertemu dengan Gilang Prasetya. Tegar pun merasa heran akan sikap Adriana terhadap adiknya yang ternyata sudah saling kenal.
"Jadi kalian saling kenal? Jangan jangan mantan pacar lagi."
Tegar melipatkan kedua tangan di dadanya dengan raut wajah yang dipasang sedikit cemburu.
Gilang dan Adriana tertawa melihat ekspresi wajah Tegar.
"Tahu gak sih abang gue nih mohon mohon ama gue suruh cuti kerja cuman buat ngenalin lo doang Adriana. Tahu orangnya lo mending gue berangkat kerja."
Tegar hanya tersenyum simpul mendengarkan ocehan Gilang.
__ADS_1
"Kalian saling kenal ternyata. Emangnya temen dimana sih bisa kenal?"
Pertanyaan yang sudah ingin sekali Tegar ajukan sejak pertemuan pertama antara Gilang dan Adriana.
"Gue kirain bukan Adriana bang, dulu dia gak pake kerudung."
Adriana tersenyum malu mendengar ocehan Gilang.
"Kita dulu sering main band bareng waktu kuliah."
Adriana memberitahukan masa masa pertemanannya dengan Gilang.
"Dulu dia sexy geboy bang. Gue ajah ditolak sama dia."
Tegar semakin antusias mendengar cerita di masa masa kuliah Adriana, terlebih lagi Gilang yang suka menambah nambahkan gurauan, membuat suasana rumah semakin ramai dengan tawa. Rumah ini tak seperti biasanya yang selalu sepi hanya ada bi Ijah dan Mang Amin.
"Adriana kalau lo nikah sama abang gue memdingan lo tinggal disini ajah, biar rumah gak sepi."
"Ogah"
•••
Situasi yang berbeda dengan kondisi rumah Tegar, mbok Yum dengan penuh kasih menjaga Rania yang selalu kesepian tidak ada ibunya yang menemani.
Jesi selalu sibuk dengan dunianya sendiri, jarang ada di rumah. Sementara Devin sibuk dengan pekerjaannya mengurus kantor Frans, tidak ada Marisa ataupun Hans yang datang berkunjung ke rumah Devin, tak seperti saat Devin masih bersama Adriana. Marisa selalu datang menyempatkan waktunya untuk menengok anak dan menantunya.
Terkadang mbok Yum merindukan masa masa bersama nyonya mudanya dulu, tapi keadaan sudah berbeda, waktu yang telah hilang tidak akan pernah kembali lagi.
Mbok Yum tak pernah habis pikir akan tuannya yang lebih memilih Jesi, padahal kelakuan Jesi di belakang Devin tidak pernah berperan seperti layaknya seorang ibu rumah tangga. Sering terbesit rasa kasihan akan putri kecil Rania yang tidak mendapatkan perhatian sepenuhnya dari ibunya sendiri.
"Non kecil makan ya non."
Rania hanya menggeleng gelengkan kepalanya, menolak makanan yang mbok Yum tawarkan. Rania masih asyik dengan mainan bonekanya.
"Non kecil mbok buatin susu ya, mau?"
Mbok Yum masih berusaha membujuk Rania.
__ADS_1
"Boyeh, Lania mau."
(Boleh, Rania mau)
Mbok Yum sangat mengerti bahasa yang Rania sampaikan. Mbok Yum beranjak menuju dapur bergegas membuatkan susu untuk Rania, membiarkan Rania bermain sendirian.
Setelah mbok Yum pergi Rania melempar lemparkan boneka barbie ke arah anak tangga yang tidak jauh dari tempatnya bermain. Kemudian Rania kumpulkan kembali boneka boneka tersebut, entah apa maksud dari bocah ini? Hanya saja satu boneka barbie masih tersangkut di anak tangga ke enam, karena Rania melemparkannya begitu keras.
Langkah kaki kecil Rania berusaha menaiki anak tangga satu persatu, namun di tangga ke lima yang sedikit lagi bonekanya akan diraih oleh Rania, tiba tiba Rania terpeleset.
Braaaaakkkkkkkkkk!
Mbok Yum yang mendengar suara jatuh segera berlari menghampiri tempat Rania bermain, naaasnya Rania sudah bersimbah darah di bagian kepalanya. Tak bisa dibayangkan anak kecil yang usianya hampir menginjak empat tahun terjatuh dari tangga tak sadarkan diri.
Mbok Yum begitu panik mencoba menelpon Jesi, namun tak kunjung ada jawaban. Sudah sekitar sepuluh panggilan masih tetap tak ada jawaban dari mamahnya Rania.
Entah kemana perginya Jesi? Akhirnya mbok Yum menelpon Devin.
"Ada apa mbok?"
Sahut Devin setelah telpon terhubung.
"Non kecil tuan! Non kecil!"
Dengan nada gugup mbok Yum menyampaikan kondisi Rania.
"Rania kenapa mbok?"
Tanya Devin yang ikut panik.
"Maafkan mbok tuan. . . Non jatuh dari tangga, sekarang masih belum sadar."
Mbok Yum menangis begitu keras, membuat Devin semakin panik dan segera meninggalkan semua pekerjaan. Devin pun langsung menuju rumahnya untuk membawa Rania ke rumah sakit.
••••
Klik like ya 😉
__ADS_1