Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Mantan kekasihku


__ADS_3

Sesampainya di rumah, Adriana hanya menyandarkan tubuhnya di sofa depan TV. Tempat yang sering menjadi ruangan favoritnya bersama Devin untuk quality time bersama sang suami.


Namun ruangan itu kini senyap tanpa canda tawa seperti biasanya. Pandangan Adriana kosong walau jemarinya terus menekan-nekan remote TV yang entah program apa yang ia cari.


Devin merebut remote TV dari tangan Adriana lalu mematikan TV tersebut.


Adriana memalingkan pandangannya, segera ia berdiri melangkah menuju kamar, sama sekali tak ingin melihat wajah Devin untuk saat ini.


Dada Adriana masih sesak mengingat pelukan dan ciuman yang Jesi berikan untuk Devin.


"Aku bilang aku mau bicara."


Devin menarik lengan Adriana, mencoba menahan langkah kaki istrinya.


"Mau bicara apa lagi mas? Semuanya sudah jelas terlihat di depan mata aku."


Jawab Adriana tanpa memandang ke arah Devin.


"Apa yang kamu lihat tadi siang tidak seperti yang kamu pikirkan. Jesi tiba-tiba menciumku dengan sengaja."


Devin mulai mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ouh. . . Jesi namanya."


Dengan nada bicara yang begitu enteng Adriana menimpali ucapan suaminya. Walau sebenarnya hati Adriana terasa nyeri untuk membahas masalah ini.

__ADS_1


"Kalau ciuman itu memang Jesi yang memulai, kenapa kamu begitu menikmati pelukannya?"


Adriana semakin menuntut penjelasan Devin.


Harus Devin akui perasaan iba akan Jesi membuat Devin semakin mengeratkan pelukannya pada sang mantan kekasih.


"Jesi mantan kekasihku. . ."


Pengakuan yang baru saja terlepas dari bibir Devin terasa sangat menusuk hati Adriana.


Membuat Adriana merasa menjadi orang ketiga diantara mereka. Apa lagi proses pernikahannya bersama Devin tanpa melalui masa pacaran.


"Aku mau tanya sama kamu mas, dan aku mohon jawab dengan jujur."


Devin pun menganggukkan kepalanya pelan.


Sesaat Devin terbayang kejadian Hans yang memaksanya untuk memutuskan Jesi.


"Entahlah. . . karena ayah yang memaksa kita berpisah."


Jawab Devin dengan helaan nafas panjangnya.


Jawaban Devin barusan semakin menggoreskan nyeri di hati Adriana. Artinya cinta diantara keduanya masih ada, hanya faktor dari luar lah yang membuat hubungan mereka berakhir.


"Tinggalkan aku mas."

__ADS_1


Pinta Adriana lirih walau dengan nada suara yang begitu berat, seberat hatinya yang sebenarnya tak rela melepaskan Devin.


Soal kandungannya biarkan Adriana besarkan seorang diri jika kelak anaknya lahir.


Kini Adriana justru semakin merasa menjadi pihak ketiga diantara mereka.


Segera Devin meraih tubuh ringkih istrinya yang mulai tergugu akan derai air mata.


"Adriana tatap mataku."


Kedua tangan Devin meraih wajah sang istri, namun Adriana tetap tak bergeming.


"Sampai kapanpun pernikahan kita tak akan terpisahkan. Jesi hanya bagian dari masa laluku, aku akui cintaku dulu begitu dalam untuknya, tapi untuk saat ini dan seterusnya aku hanya ingin bersamamu, mencintaimu dengan penuh kedamaian bersama restu ayah dan ibuku. Hal itu yang tak bisa aku dapatkan dari Jesi."


Adriana hanya tertunduk diam tak mampu menjawab penuturan Devin. Hatinya masih penuh dilema entah harus percaya atau hanya bentuk bujukan Devin untuknya.


"Tolong jangan tinggalkan aku seorang diri, terlebih lagi ada anak kita dalam kandunganmu sayang. Aku mohon maafkan aku, aku janji semua ini tidak akan terjadi lagi."


Devin semakin berusaha meyakinkan Adriana untuk memaafkannya.


"Entahlah mas. Saat ini aku ingin sendiri, biarkan waktu dan takdir berjalan dengan keinginannya."


Adriana melepaskan genggaman tangan Devin perlahan. Kakinya melangkah menaiki anak tangga meninggalkan Devin yang masih termenung seorang diri di ruang TV.


Kejadian itu masih tak sanggup Adriana lupakan. Butuh waktu untuk mengembalikan suasana hatinya untuk normal kembali.

__ADS_1


Rasa sesak dan nyeri masih Adriana rasakan di hatinya, sehingga ia memutuskan untuk melamun menikmati angin sore di tepi balkon tanpa menghiraukan keberadaan Devin.


••••


__ADS_2