
Sesampainya di kamar, Devin menghancurkan semua foto pernikahannya bersama Adriana. Emosi sudah menguasai hati dan pikirannya. Niat awal ia datang ke rumah Adriana untuk memohonnya tetap kembali menjalani rumah tangga bersamanya, namun kenyataan yang ia lihat membuatnya mengurungkan niat baiknya untuk mempertahankan rumah tangganya.
Masih tergambar jelas dalam ingatan Devin ketika Chandra memeluk Adriana, hati kecilnya merasakan rasa cemburu yang luar biasa. Wanitanya kini sudah disentuh laki-laki lain. Jangankan berpelukan, bahkan berjabat tangan dengan lawan jenis pun jarang Adriana lakukan selain situasi urusan kantor.
"Agggghrrrrrrrr!!!!"
Devin berteriak penuh amarah, kemudian cermin di kamarnya ia hantam dengan keras, berusaha mengeluarkan emosi yang sudah menguasai.
Dari lantai bawah mbok Yum yang sedang menyiapkan makan malam untuk Devin tiba-tiba terkejut akan teriakan Devin. Suara barang-barang yang Devin hancurkan membuat mbok Yum sangat panik.
Mbok Yum menaiki anak tangga menuju kamar Devin, ia khawatir akan kondisi tuannya yang tak pernah semurka ini.
•••
Di ruangan rumah sakit Adriana masih tak sadarkan diri pasca operasi pengangkatan janin yang berlangsung sekitar dua jam.
Efek obat bius masih belum menyadarkan Adriana saat ini. Chandra dengan setia menemani pasiennya yang terbaring lemah. Ingin sekali Chandra menghubungi Devin, namun niatnya ia urungkan, mengingat kondisi emosi Devin yang saat ini masih belum stabil.
Chandra masih memikirkan cara bagaimana ia menyampaikan kondisi Adriana yang sudah kehilangan bayi dalam kandungannya di usia kandungan yang akan menginjak empat bulan. Pendarahan yang Adriana alami setelah kejadian pertengkaran hebat bersama Devin membuat janinnya luruh tak mampu dipertahankan lagi.
"Dokter Chandra jaga baik-baik pasiennya, dokter juga berhutang cerita pada saya."
__ADS_1
Ucap dokter Nisa sambil terkekeh menggoda teman satu profesinya.
Dokter Nisa merupakan salah satu dokter yang membantu Adriana operasi. Dokter Nisa seperti mengerti kalau Chandra tertarik dengan pasiennya. Menurut Nisa perhatian yang diberikan oleh Chandra pada Adriana bukanlah perhatian antara dokter dan pasien pada umumnya. Apa lagi status Chandra yang masih setia membujang di usianya yang menginjak tiga puluh tahun. Entah Chandra yang terlalu selektif memilih jodohnya atau ada faktor lain yang membuatnya masih betah dengan status single.
Pelan-pelan Adriana mulai membuka matanya, Adriana berusaha mengumpulkan energinya untuk menyadari dimana ia berada.
Chandra yang merasa kelelahan menemani Adriana tertidur dalam posisi duduk di samping ranjang Adriana.
Tangan kanan Adriana menepuk-nepuk bahu kokoh milik Chandra, berusaha membangunkan Chandra untuk menjelaskan apa yang telah terjadi padanya.
"Dokter. . ."
Panggil Adriana pelan.
"Adriana kamu sudah sadar."
Tidak ada panggilan ibu Adriana lagi dari bibir tipis Chandra. Sejak kejadian di rumah Adriana membuat hati Chandra merasakan nyeri menyaksikan wanita yang diam-diam ia kagumi diperlakukan kasar oleh suaminya sendiri.
Chandra tidak habis pikir melihat emosi Devin yang sulit dikendalikan. Seorang istri cantik seperti Adriana sudah disiakan oleh Devin. Jauh dalam lubuk hati Chandra ingin sekali menjaga Adriana, namun ia sadar akan status Adriana yang masih terikat dalam pernikahan bersama Devin.
"Dokter Chandra apa yang telah terjadi?"
__ADS_1
Pasca pendarahan Adriana sudah tak sadarkan diri, bahkan Adriana tidak menyadari bahwa Chandra yang membawa tubuh lemahnya dalam gendongan saat memasuki mobil milik Chandra menuju perjalanan rumah sakit.
Chandra berusaha mengumpulkan keberanian untuk memberitahukan bahwa kandungan Adriana sudah tidak bisa diselamatkan. Chandra mencoba memberanikan diri untuk menggenggam erat jemari Adriana sebelum menuturkan apa yang telah terjadi padanya.
"Adriana kamu harus kuat dengan apa yang akan aku ceritakan padamu pasca operasi."
Adriana sempat ingin melepaskan genggaman tangan Chandra, namun Chandra semakin mengeratkan tangannya dengan tujuan memberikan kekuatan untuk Adriana.
"Kandungan kamu sudah tak mampu diselamatkan lagi. Pendarahan yang kamu alami meluruhkan sebagian janin dalam kandungan kamu. Kita sebagai team dokter sudah berusaha semampunya, sayangnya Tuhan berkata lain."
Adriana memalingkan pandangannya dari dokter tampan bermata sipit itu, lalu memejamkan matanya sesaat.
"Adriana izinkan aku menjadi temanmu, aku mohon."
Chandra begitu merasa iba mengingat Adriana yang sudah tidak memiliki orang tua, bahkan suaminya pun sudah menjatuhkan talaknya.
"Jangan mau menjadi teman seorang janda dok."
Gumam Adriana tanpa menatap ke arah Chandra.
"Aku mohon Adriana izinkan aku menjagamu dalam kondisi sulit seperti sekarang ini, tidak usah kamu pedulikan status kamu saat ini, niatku tulus."
__ADS_1
Adriana hanya diam tak menanggapi ucapan Chandra, matanya menerawang menatap langit-langit ruang rawat inap. Batin Adriana mengatakan bahwa dirinya kini telah kehilangan suami, dan yang paling pedih adalah kehilangan bayi dalam kandungannya yang begitu ia harapkan kehadirannya.
••••