Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Ceraikan aku


__ADS_3

Devin sudah duduk santai di ruang TV dengan celana jeans selutut dan kaos oblong hitam yang membalut tubuh atletisnya.


Penampilannya nampak segar seusai mandi, namun tidak dengan pikirannya yang begitu kalut memikirkan Adriana yang masih belum pulang. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Ponsel yang Devin genggam tak hentinya memanggil kontak Adriana, namun masih tetap saja tak ada jawaban disana.


Baru kali ini Adriana sediam ini mengabaikan Devin tanpa ampun.


Devin sudah mencoba mencari Adriana ke kantornya, namun penjelasan dari security Permata Gallery menyatakan bahwa Adriana sudah pulang sekitar jam lima sore.


Lalu kemana Adriana pergi?


Batin Devin bertanya-tanya.


"Jangan perlakukan aku seperti ini Adriana."


Gumam Devin sambil mengacak rambutnya yang setengah kering seusai mandi. Devin segera meraih kunci mobil untuk mencari keberadaan istrinya.


Walaupun Adriana sudah berpesan akan pulang malam tetap dalam lubuk hati Devin masih mengkhawatirkan Adriana. Devin bergegas menuju halaman rumah untuk memasuki mobil.


Baru saja Devin membuka pintu mobil, seketika itu juga Devin urungkan ketika mobilio putih datang memasuki halaman rumahnya.


Hati Devin merasa lega saat melihat mobil Adriana. Devin tak sabar menunggu istrinya turun dari mobil.


"Sayang kamu ngantor semalem ini?"


Adriana tidak mempedulikan pertanyaan Devin. Ia tetap melangkahkan kakinya menuju kamar, tak ingin berbicara dengan Devin, seolah di rumahnya tidak ada siapa-siapa.


Devin membiarkan Adriana berlalu dari pandangannya, mencoba memberikan kesempatan pada Adriana untuk mandi dan shollat isya. Devin akan menunggu Adriana untuk makan malam bersama.


Sudah sekitar setengah jam Adriana tak kunjung turun dari kamar, membuat Devin beranjak dari sofa menuju kamarnya di lantai dua.

__ADS_1


Saat memasuki kamar, Devin tak menemukan keberadaan Adriana, langkahnya kini menuju jendela kamar, matanya menangkap sosok sang istri yang sudah segar dalam balutan dress kaos merah maroon yang membuat Adriana tampak sexy dengan rambut berkuncir kuda.


Devin membuka pintu yang menghadap balkom,  langkahnya mendekat pada sosok wanita sexy nan imut di hadapannya. Lengan Devin sudah melingkar di perut Adriana, sementara dagunya ia tempelkan di ceruk leher sang istri.


"Sayang aku mohon jangan perlakukan aku seperti ini."


Pinta Devin dengan tatapan yang menerawang menatap taman di halaman. Sementara Adriana masih tetap diam tak bersuara.


"Apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengembalikan hubungan kita seperti kemarin lagi?"


Rupanya Devin sudah sangat tak tahan didiamkan oleh istrinya.


"Ceraikan aku mas."


Gumam Adriana lirih, dan masih dalam posisi membelakangi Devin.


Ucapan Adriana barusan sontak membuat Devin terkesiap, segera ia membalikkan tubuh Adriana untuk berhadapan dengannya.


Nada bicara Devin mulai meninggi.


"Aku juga tidak main-main mas."


Kini Adriana menundukkan kepalanya, mencoba menepiskan hatinya yang masih sangat mencintai Devin. Namun Adriana juga tak kuasa melihat Jesi dan Rania yang jauh lebih membutuhkan Devin daripada dirinya.


"Apa atas dasar Jesi kamu minta mengakhiri pernikahan kita?"


Devin semakin emosi. Cintanya kini hanya untuk Adriana seorang, tapi Adriana justru meragukan cintanya.


"Bukan cuma Jesi mas, tapi ini tentang masa lalu kamu yang belum kamu selesaikan."


Tatapan Adriana berpaling dari Devin.

__ADS_1


"Rania butuh sosok seorang ayah di masa tumbuh kembangnya."


Kembali Adriana menegaskan maksud ucapannya.


"Lalu bagaimana dengan kandungan kamu Adriana? Dia juga darah dagingku."


Devin semakin menuntut Adriana.


"Tanpamu aku bisa mas, insyaallah."


Hati Adriana begitu perih mengatakan kalimat tersebut. Rasanya tak ingin lagi ia memandang Devin, tak ingin lagi melanjutkan pembicaraannya dengan Devin.


Adriana segera melangkah memasuki kamar, mencoba meninggalkan Devin yang masih berdiri di tepi balkon.


Tangan kekar Devin segera meraih lengan Adriana, lalu memeluknya erat, bahkan sangat erat. Seperti tak ingin kehilangan pujaan hatinya.


Devin menangis tergugu di bahu Adriana.


"Tolong Adriana jangan biarkan aku melepaskanmu, melepaskan tanggung jawabku sebagai laki-laki. Sungguh aku tak ingin hal itu terjadi terulang kembali. Itu sangat menyiksaku."


Tuturan Devin membuat hati Adriana sedikit melemah. Adriana merasa tak tega akan lelaki yang begitu mencintainya kini.


"Apapun keadaannya kita lalui sama-sama."


Pinta Devin lagi.


Kedua bola mata Devin menatap lekat Adriana, membuat hati Adriana tersentuh.


Pelukan Devin yang semula tak dibalas oleh Adriana, kini Adriana telah erat memeluk punggung bidang Devin. Hatinya tak kuasa menyaksikan Devin yang begitu memohon padanya. Harus Adriana akui kalau hatinya pun masih sangat mencintai Devin.


••••

__ADS_1


__ADS_2