Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Tak ingin menjadi wanita bodoh


__ADS_3

Larasati`s View kini semakin berkembang dibawah kendali Adriana. Banyak perusahaan wisata dan kantor yang ingin bekerja sama menggunakan fasilitas hotel milik Adriana.


Adriana sangat bersyukur dan berterimakasih pada orang tua Devin yang telah berbaik hati dan bijaksana memberikan aset hotelnya untuk sang mantan menantu, tanpa mereka Adriana tidak akan mungkin bisa menjadi seorang owner hotel seperti saat ini. Jasa yang tidak akan pernah Adriana lupakan dari Hans dan Marisa.


Hari ini Adriana disibukkan dengan kedatangan tamu yang tak henti datang silih berganti. Ada yang meminta kontrak kerja sama dengan hotel dan ada juga yang mempromosikan semua kebutuhan hotel dari property sampai pasokan dapur.


Baru saja tamu dari suplier sembako yang biasa memasok kebutuhan hotel meninggalkan ruangan, kini terdengar suara pintu ruangan Adriana diketuk kembali.


"Hadeuhhhh siapa lagi? Hari ini ruangan gue berasa dukun, banyak tamu."


Gumam Adriana pelan dan setengah kesal dengan kondisi jadwal yang begitu padat. Target Adriana ingin segera menyelesaikan perubahan desain yang terinspirasi dari pameran desain beberapa waktu lalu yang sudah dilihatnya bersama Tegar.


"Masuk."


Sahut Adriana, kemudian pintu ruangan pun terbuka, menampilkan sosok pelayan hotel yang mengantarkan tamu untuk Adriana.


"Ibu Adriana ada tamu?"


"Suruh masuk saja."


Adriana pikir tamunya kali ini orang yang berkaitan dengan bisnis, sayangnya sama sekali tidak ada urusan bisnis dengan pria satu ini.


Pria berjambang tipis dengan panampilan yang cukup lusuh tak serapi biasanya. Bulu bulu di kumis dan janggutnya mulai tumbuh tak terurus, badannya sedikit kurus, membuat Adriana tercengang melihat pria di hadapannya.


"Mas tinggalin kita berdua. Silahkan mas kembali bekerja."


Adriana menyuruh karyawannya pamit dan menutup pintu ruangan Adriana.


Sebelum Devin memasuki ruangan Adriana di lantai dasar sudah heboh akan kedatangan Devin yang merupakan sosok mantan suami dari pemilik hotel.

__ADS_1


Formasi karyawan di hotel Adriana masih sama dengan formasi karyawan di bawah kepemimpinan Devin dan Hans, sehingga mereka mengetahui perceraian Adriana dan Devin saat Hans mengucapkan pamit pada hotel dan memberitahukan kalau hotel akan berganti kepemilikan menjadi milik Adriana.


Adriana masih menganga tak percaya kalau Devin akan mendatanginya seorang diri.


"Silahkan duduk pak Devin."


Adriana mempersilahkan Devin duduk di depan mejanya. Wanita itu tak ingin terkesan akrab dengan Devin sehingga memutuskan untuk memanggil Devin dengan sebutan 'Pak'.


"Jadi ada apa bapak Devin datang kesini?"


Sekuat tenaga Adriana berusaha tegar menghadapi Devin, walau hatinya merasakan sakit yang tak terkira.


Adriana tak ingin melihat raut wajah Devin lagi, tak ingin bertemu lagi, bagi Adriana rasanya akan semakin menyesakkan luka lama.


"Adriana ada yang ingin aku bicarakan."


"Soal?"


Nada bicara Adriana terdengar begitu asing.


"Soal apa yang telah terjadi di rumah tangga kita."


Adriana menghela nafasnya dalam.


"Devin, sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan. Sekarang anggap saja semua yang terjadi diantara kita tidak pernah terjadi. Aku sudah melupakan semuanya."


Tutur Adriana.


"Aku tahu aku salah Adriana, wajar kalau kamu mau marah sama aku, aku terima. Aku mohon maafkan semua kebodohanku di masa lalu yang udah menyiakan kamu."

__ADS_1


Adriana merasa sedikit tersentuh dengan permintaan maaf Devinm


"Sudahlah Devin, semakin kamu berusaha meminta maaf dan datang padaku, semakin luka itu terkoyak kembali. Aku tak kuasa untuk mengingat kenangan pahit bersama kamu dulu."


Devin segera meraih tangan Adriana.


"Aku mohon Adriana maafkan aku, maafkan atas semua kesalahan yang telah terjadi. Kita perbaiki lagi pernikahan kita dari awal."


Tanpa diketahui oleh Adriana dan Devin sosok pria tinggi berlesung pipit dan tampan mendengarkan obrolan mereka di balik pintu ruangan. Pria itu ternyata Tegar yang datang ingin menemui Adriana, namun niatnya Tegar urungkan setelah mengetahui Devin berada disana dengan menggenggam tangan wanita pujaan hatinya.


Tegar Prasetya merasakan kekecewaan yang begitu dalam dibalik pintu. Apa yang ia khawatirkan akhirnya terjadi.


Tegar selalu takut memikirkan kalau Devin pasti akan datang kembali, pasti akan ada masa dimana Devin menyesali perbuatannya, dan ingin kembali bersama Adriana.


Tegar berbalik arah meninggalkan ruangan Adriana dengan perasaan yang tak menentu, hatinya sudah terjatuh begitu dalam pada Adriana.


Apa yang dilihatnya di balik pintu membuat Tegar merasakan sesak tak terkira saat melihat Devin yang sedang berusaha meminta Adriana kembali.


"Tidak bisa Devin!"


Adriana segera menarik genggaman tangan Devin.


"Untuk permintaan maaf aku terima, tapi bukan berarti mengizinkan kamu bergerak bebas memasuki kehidupanku kembali. Memang saat ini aku belum bersanding dengan laki laki lain, tapi bukan berarti aku akan menunggu kamu untuk meminta kembali padaku. Sekarang lebih baik jalani hidup kita masing masing. Jalani takdirmu bersama Jesi."


Devin sangat merasa kecewa akan keputusan Adriana, Devin kira wanita selembut Adriana akan dengan mudahnya mau menerima kembali. Sayangnya logika Adriana lebih kuat dari pada hatinya. Adriana tidak ingin menjadi wanita bodoh yang mau disakiti lagi lalu memaafkan lagi.


••••


Gak kebayang sakitnya babang Tegar 😢😭

__ADS_1


__ADS_2