
"Adriana Larasati."
Adriana mencoba memperkenalkan dirinya pada Jesika Fransiska, rasanya sudah persis seperti permainan sandiwara di hadapan Frans.
"Pak Frans saya rasa pembahasan projek kita kali ini sudah cukup. Saya mohon pamit pak."
Tangan Adriana nampak tergesa-gesa mengemasi dokumen dan tas tangan miliknya. Jauh dalam lubuk hatinya ia ingin segera meninggalkan kediaman Frans.
Adriana sudah tak kuasa menahan perasaan serta rasa perih yang masih menghantui pikiran dan hatinya.
"Iya nak Adriana, hati-hati di jalan ya."
Ujar Frans setelah berjabat tangan dengan Adriana untuk mengakhiri aktivitas diskusi perihal projek.
Adriana melangkah dengan cepat menuju mobil miliknya yang terparkir di halaman rumah Frans. Adriana ingin cepat-cepat meninggalkan Jesi, Frans dan Rania.
"Tunggu!"
Suara itu menghentikan langkah kaki Adriana. Pandangan Adriana berbalik arah ke sumber suara, lalu dilihatnya Jesi yang berdiri di teras tanpa Rania, padahal tadi Rania masih berada dalam gendongan Jesi.
Langkah Jesi pun kini semakin mendekat ke arah Adriana.
"Boleh kita bicara?"
Dengan nada yang begitu angkuh Jesi meminta pada Adriana untuk bicara empat mata. Adriana pun hanya mampu membalas ajakan Jesi dengan satu anggukan kepala.
__ADS_1
Entah terbuat dari apa hati Adriana yang memiliki kesabaran sebesar ini menghadapi Jesi.
Jesi mengajak Adriana berbicara di taman belakang rumahnya. Suasana yang cukup tenang, meja bundar dan kursi kayu nuansa caffe begitu terasa nyaman.
Angin sejuk sangat terasa di teras belakang rumah, hingga menerpa hijab warna mocca yang Adriana kenakan.
"Tinggalkan Devin."
Jesi begitu sarkas dan to the point.
Adriana tak pernah mengira akan ada wanita yang seperti Jesi, menurut Adriana rasanya Jesi seperti tidak tahu malu meminta pada seorang istri untuk meninggalkan suaminya. Kedua bola mata Adriana membelalak tak percaya akan permintaan Jesi.
"Kita berdua masih saling mencintai. Hanya saja Devin terikat dalam status pernikahan denganmu Adriana."
Baru saja semalam Devin bilang Jesi hanyalah kehidupan di masa lalunya, tapi kenapa Jesi sekarang mengatakan bahwa mereka saling mencintai.
"Aku dan Devin menjalin hubungan sudah begitu lama dari masa kuliah, sampai dalam hubungan yang terlalu bebas, dan Rania adalah darah daging Devin. Andai saja kamu tidak hadir dalam kehidupan Devin tentunya kini kita akan bahagia bersama keluarga kecil kita."
Hati Adriana terasa semakin sesak mendengar pengakuan Jesi bahwa Rania adalah anak Devin. Air matanya sebisa mungkin ia tahan, tak ingin Adriana perlihatkan pada Jesi. Adriana tidak ingin terlihat lemah di hadapan Jesi.
"Kamu tahu Adriana, Devin menikahimu hanya demi harta yang akan Hans wariskan untuknya jika dia menikahimu. Cepat atau lambat Devin akan menceraikanmu dan kembali dalam pelukanku."
Kalimat-kalimat yang Jesi ucapkan begitu mengintimidasi emosi Adriana. Sebisa mungkin Adriana berusaha tenang walau beberapa pengakuan Jesi terasa menyayat hatinya.
Devin memang tak pernah bercerita akan kehidupan di masa lalunya begitupun dengan Adriana. Mereka sudah sama-sama berjanji untuk tidak akan mengungkit masa lalu satu sama lain.
__ADS_1
"Sebelumnya saya minta maaf pada mba Jesika. Jika anggapan mba tentang saya adalah perebut kekasih orang itu salah. Sungguh saya tidak pernah tahu kalau mas Devin memiliki kekasih. Kalaupun mba mau menyalahkan saya silahkan itu hak mba Jesi, tapi satu hal yang harus mba tahu dan terima bahwa hubungan dan kisah cinta mba bersama mas Devin yang sudah bertahun-tahun lamanya terjalin tidak menjamin akan hidup bersama selamanya."
Sesaat Adriana terdiam untuk mengumpulkan kekuatan menghadapi Jesika.
"Mba memang lebih dulu mengenal mas Devin. Bahkan jauh sebelum saya bertemu dengannya, tapi ada satu hal yang harus mba Jesi tahu bahwa garis tangan saya tak mampu saya lawan mba. Tuhan yang sudah menakdirkan saya untuk bersama mas Devin."
Dengan tenang Adriana menuturkan semuanya. Hatinya tak mampu menerima tuduhan bahwa ia telah merebut Devin dari Jesi.
Penuturan Adriana barusan sungguh menohok hati Jesi. Wanita itu bahkan tak mampu lagi menimpali kata-kata yang Adriana ucapkan.
"Maaf mba saya masih banyak urusan. Saya mohon pamit, tapi kalau mba masih ingin mas Devin bertanggung jawab akan Rania saya akan mencoba bicara dengannya. Kalaupun mba Jesi mengharapkan saya bercerai dengan mas Devin, memohonlah pada mas Devin untuk segera menceraikan saya."
"Assalamualaikum."
Adriana segera bangkit dari duduknya meninggalkan Jesi yang masih termangu tanpa kata. Jesi tak pernah menyangka wanita di hadapannya tak tersulut emosi sedikitpun, walau secara usia Adriana lebih muda darinya, namun kemampuan Adriana mengontrol emosi dan kesabarannya begitu luar biasa.
Tidak ada wanita yang hatinya sekuat baja, yang ada hanyalah berpura
-pura kuat agar tak terlihat lemah.
Dengan langkah kaki yang tergesa gesa menuju mobil, air mata Adriana berderai tak kuasa menahan ucapan yang baru saja ia dengar dari bibir Jesika.
Sesaat Adriana termangu di dalam mobil, kemudian mobil Adriana pun melesat jauh meninggalkan kediaman Frans.
••••
__ADS_1