
Transfusi darah sudah dilakukan namun Rania masih dalam keadaan kritis. Devin sudah memaksa dokter untuk segera melakukan operasi malam ini juga, apapun akan Devin lakukan untuk keselamatan Rania.
Mbok Yum masih setia menemani Adriana menunggu hasil operasi, sementara Devin dan Jesi duduk di tempat lain yang jaraknya sekitar lima meter dari Adriana.
Tak henti hentinya Jesi menangis di pundak Devin mengkhawatirkan kondisi Rania. Dengan perasaan canggung Devin sesekali mengelus puncak kepala Jesi, mungkin karena disana ada Adriana yang membuat Devin sedikit canggung.
Harus Adriana akui sekilas rasa cemburu itu masih ada, tidak mudah bagi Adriana ketika dihadapkan dalam situasi seperti ini. Memang sudah sepantasnya Devin bersikap demikian pada Jesi untuk menguatkan Jesi.
"Mereka serasi ya mbok."
Ujar Adriana yang sesekali menatap ke arah Devin dan Jesi. Mata mbok Yum mengikuti arah tatapan Adriana, dapat mbok Yum lihat kalau majikan perempuannya sedang jatuh dalam pelukan Devin.
Mbok Yum mengelus elus punggung tangan Adriana untuk menguatkan.
"Apa non masih mencintai tuan?"
Mendengar pertanyaan mbok Yum Adriana hanya tersenyum getir dengan tatapan kosong.
"Entahlah mbok. Saat ini yang ada hanya perasaan kasihan untuk Devin, begitupun untuk Jesi. Aku sudah pernah ehilangan anak yang kita cintai. Walau masih dalam kandungan, rasanya masih terbayang perihnya. Apa lagi dengan Rania yang sudah tumbuh menggemaskan."
Betapa kuatnya hati Adriana yang masih memiliki rasa belas kasih terhadap orang yang sudah menyakiti hatinya.
"Mbok yakin suatu saat Allah akan berikan jodoh non yang sebenar benarnya jodoh. Jodoh yang mencintai non sepenuh hati, dan lebih dari segalanya dari tuan."
Ucap mbok Yum yang masih mengelus punggung tangan Adriana.
"Aamiin mbok."
Adriana merasakan lelah yang luar biasa, ia tidak sanggup untuk pulang menyetir mobilnya sendiri, padahal hatinya sudah ingin pergi dari rumah sakit, namun hati kecilnya mengatakan masih ingin memastikan keadaan Rania pasca operasi nanti.
Adriana terpaksa meminta bantuan pada lelaki yang selalu berusaha ada untuknya dengan mengirimkan pesan whatsapp.
:: Mas Tegar, sekarang aku berada di rumah sakit (. . .)
Aku butuh bantuanmu mas. ::
•••
__ADS_1
Beruntung di apartemen Tegar masih belum tidur, ia sibuk dengan pekerjaannya yang sudah ditinggalkan cuti dua hari demi menemani Adriana.
Saat notifikasi whatsapp berdering, Tegar segera meraih ponsel tersebut, lalu dilihatnya isi pesan Adriana.
Tegar langsung melepaskan laptop di hadapannya, lalu meraih jaket dan kunci mobil menuju keberadaan Adriana.
Tegar nampak begitu panik, ia takut sesuatu yang tak diinginkan terjadi pada wanita pujaan hatinya. Tegar tanpa ragu membawa mobilnya melesat jauh menuju rumah sakit.
•••
Operasi sudah berjalan sekitar dua jam, dokter pun keluar dari ruangan operasi. Devin segera menghampiri dokter, ia ingin mengetahui kondisi Rania.
"Gimana dok? Apa operasinya berjalan dengan lancar?"
Pertanyaan Devin membuat dokter menghela nafasnya berat.
"Pak Devin, saya harus sampaikan ini. Segala cara sudah kami lakukan, tapi takdir berkata lain akan putri bapak."
Devin begitu panik dengan penuturan dokter barusan. Membuat Jesi, mbok Yum dan juga Adriana ikut menghampiri dokter tersebut.
Kembali Devin memastikan.
"Putri bapak sudah tidak kuat menjalani masa operasi. Tingkat kesadarannya semakin drop. Riwayat penyakit asma yang diderita putri bapak semakin memperparah kondisinya. Kami team dokter meminta maaf yang sebesar besarnya, Rania sudah tidak bisa diselamatkan."
Kalimat terakhir membuat Devin menjerit.
"Tidak dok. Tidak mungkin!"
"Memang sulit diterima pak Devin, tapi kehendak Tuhan berbeda. Bapak harus sabar menghadapi kenyataan ini. Mohon maaf pak Devin, saya permisi."
Dokter pun berlalu meninggalkan Devin yang masih termangu dan tak percaya menerima kenyataan pahit yang harus ia terima.
Plaaaakkkk!
"Semua ini gara gara kamu pembantu gak tahu diri! Puas kamu udah buat mati Rania!"
Jesi menampar dan memaki mbok Yum setelah mengetahui kondisi anaknya yang sudah tak tertolong lagi.
__ADS_1
"Jesi kamu keterlaluan!"
Adriana meraih tubuh mbok Yum yang hampir jatuh akibat tamparan Jesi yang begitu keras.
"Kamu tidak tahu bagaimana rasanya kehilangan seorang anak Adriana, puas kamu!"
Jesi kini mencaci Adriana, seakan lupa bahwa Adriana yang telah membantu mendonorkan darah untuk Rania.
"Aku tahu betul rasanya Jess. Aku bahkan sangat mengerti kehilangan anak sekaligus kehilangan ayahnya. Aku sudah merasakannya lebih dulu sebelum kamu, bagaimana rasanya sekarang Jes?"
Jesi semakin geram akan ucapan Adriana yang semakin berani memutar balikan ucapannya.
Jesi yang merasa tersudut akan ucapan Adriana segera mengangkat tangannya berusaha melesatkan tamparan yang keras seperti yang sudah dilakukannya pada mbok Yum. Sayangnya tangan kekar sudah menahan lengan Jesi kuat kuat.
"Jangan coba coba menyakiti Adriana lagi."
Sorot mata Tegar begitu mengancam, ia datang di saat yang tepat, seakan seperti dewa penolong untuk Adriana.
"Rana ayo aku antar kamu pulang. Gak ada gunanya kita disini."
Tegar segera meraih lengan Rana dengan erat.
"Tunggu."
Devin menahan kepergian Rana dan Tegar.
"Adriana maafkan aku dan Jesi. Terimakasih atas bantuanmu yang sudah ikhlas mendonorkan darah untuk Rania, walau usaha kita tetap sia sia."
Devin menundukkan pandangannya di hadapan Tegar dan Adriana.
"Sama sama Devin. Urus saja istrimu, jangan pernah berbuat kasar lagi terhadap Rana."
Tegar yang menjawab ucapan Devin sembari menepuk bahu Devin, kemudian keduanya berlalu meninggalkan Devin yang masih termangu dirundung kesedihan.
••••
Pendukung Tegar dan Devin mana suaranya? 😉😆
__ADS_1