
Proses perceraian Devin dengan Adriana berjalan dengan lancar. Gugatan yang Devin ajukan berjalan sangat cepat, dalam waktu satu minggu saja akta cerai sudah Devin dapatkan dari pihak pengadilan agama, lalu Devin pun mendapatkan buku nikah yang baru bersama Jesika Fransiska.
Jesika dan Rania kini tinggal bersama di rumah Devin, rumah yang dulu Adriana tempati bersama Devin. Mbok Yum masih setia bekerja sebagai asisten rumah tangga disana. Sejak kehadiran Jesi di rumah itu mbok Yum semakin merasa merindukan Adriana.
Perlakuan Jesi pada mbok Yum begitu kasar dalam memerintah, terlebih lagi sikap sombong Jesi yang semakin membuat mbok Yum merasa heran pada tuannya yang lebih memilih wanita seperti Jesi.
"Masakan si mbok gak enak sayang. Ayo kita makan di luar ajah."
Jesi mengajak Devin untuk makan di luar, tapi Devin menolak ajakan Jesi. Menurut Devin masakan nbok Yum masih pas dengan lidahnya.
"Jangan mencela hasil masakan orang, kaya kamu pinter masak ajah."
Celetukan Devin kali ini membuat geram Jesi, dan berhasil mengubah suasana menjadi mencekam di meja makan. Pantas saja kalau Devin mengatakan demikian, karena Jesi sama sekali tidak memiliki kemampuan memasak.
"Enak, enak papa. "
Rania ikut membela pernyataan papahnya yang duduk di samping Devin.
"Tuh Rania ajah bilang enak."
Kembali Devin menegaskan pendapatnya.
"Terserah kamu. Aku mau makan di luar sendiri, masakan kampung aku gak suka."
Jesika bergegas pergi ke kamar mengambil tas tangan untuk makan di luar bersama temannya. Jesi pergi meninggalkan anak dan suaminya yang tengah menikmati makan malam.
Baru saja Jesi membuka pintu utama rumah Devin, tiba-tiba wajahnya terkejut saat melihat wanita paruh baya yang masih tetap cantik dalam balutan hijab syar'i. Mata Jesi terbelalak melihat sosok wanita di hadapannya.
"Kamu. . . !"
Marisa terkejut melihat wanita yang sangat ia benci baru saja keluar dari rumah putranya.
"Sedang apa kamu disini? Mengganggu rumah tangga anak saya?"
"Devinnnnnnnnn!!!"
__ADS_1
Teriak Jesi meminta Devin segera mendatanginya. Jesi tidak ingin menjelaskan apapun pada Marisa, sudah pasti Marisa akan menolak pernikahannya bersama Devin.
"Bu, Devin bisa jelaskan ini semua bu."
Devin memohon setelah menemui Marisa di teras rumah.
"Dimana Adriana? Mana menantu ibu?"
Mata Marisa mencari menantu kesayangannya. Niat awal Marisa datang ke rumah Devin sekalian mampir memberikan oleh-oleh untuk Adriana setelah kepulangan ibadah umroh.
Devin dan Jesi hanya terdiam menyaksikan Marisa yang mencari Adriana di semua ruangan, bahkan Marisa lebih terkejut lagi saat melihat Rania yang asyik menikmati makanannya dan disuapi oleh mbok Yum.
"Itu anak siapa mbok?"
Kini Marisa lebih memilih bertanya pada mbok yum.
"Jawab dengan jujur mbok apa yang sebenarnya terjadi dengan rumah tangga Devin?"
Sesaat mbok Yum terdiam, ia takut akan tuannya dan majikan barunya.
"Anu nyah, anu. . "
Marisa semakin memaksa mbok Yum.
"Non Adriana meninggalkan rumah ini setelah mengetahui kenyataan bahwa tuan Devin diam-diam menikahi non Jesi."
Mendengar penjelasan mbok Yum membuat hati Marisa sesak.
"Dan ini Rania anak tuan Devin dengan non Jesi nyah. "
Marisa ingat betul bahwa hubungan Devin dan Jesi sudah dipaksa putus oleh suaminya saat Jesi mengandung anak Devin. Kenyataan yang sungguh membuat Marisa sakit kepala setelah mendengar penjelasan mbok Yum.
Marisa menghela nafasnya dalam. Tak bisa dibayangkan rasa kecewa yang Adriana rasakan saat ini.
Devin dan Jesika kini menghampiri Marisa dengan wajah tertunduk. Melihat Jesi dengan Devin membuat Marisa semakin geram, lalu ditamparnya dengan keras wajah putranya.
__ADS_1
"Anak tidak tahu diuntung!"
Marisa menghardik Devin penuh emosi dan kekecewaan.
"Ayah dan ibu sudah memberikanmu istri yang berkelas, tapi kamu lebih memilih wanita sampah!"
Telunjuk Marisa lurus terarah pada Jesi. Kalimat Marisa barusan membuat Jesi tersentak dan tersulut emosi.
"Ibu tidak mau menyadari bahwa dari dulu kita saling mencintai. Jangan pisahkan kami lagi bu. Aku mohon."
Jesi mengeratkan lengannya di lengan Devin.
"Jangan panggil aku ibu. Aku tidak sudi punya menantu dari keturunan Frans."
"Bu tolong terima kenyataan ini, sekarang Rania butuh aku yang harus ada di sampingnya."
Kini Devin yang angkat bicara.
"Sekarang jawab pertanyaan ibu dengan jujur, atas dasar apa kamu menceraikan Adriana?"
Mbok Yum sudah menceritakan bahwa yang menggugat cerai adalah putranya sendiri.
"Adriana diam-diam selingkuh dengan dokter Chandra!"
Devin merasa benar akan tuduhannya pada Adriana, begitu entengnya Devin memberitahukan alasan tersebut pada Marisa.
"Tidak mungkin Vin Adriana berbuat serendah itu?"
Marisa masih membela menantunya yang dulu, menantu yang sudah mengubah hidup Devin menjadi lebih baik. Baik dari segi karir dan tanggung jawab terhadap ibadah, namun semua perubahan Devin hilang sekembalinya Jesi.
"Terserah ibu mau percaya aku atau nggak. Kenyataannya seperti itu, dan aku mohon bu biarkan kami hidup bersama bu. Aku mohon."
Devin berlutut di kaki Marisa, membuat hati seorang ibu tetap tak tega, namun Marisa juga tetap tak ingin menerima Jesi sebagai menantunya.
"Terserah kamu Vin. Hidup kamu di tanganmu sendiri, biarkan ayahmu yang mengambil tindakan atas persoalan ini."
__ADS_1
Marisa melepaskan tangan Devin dengan paksa dari kakinya. Wanita paruh baya itu segera pergi dari rumah Devin. Rasa pusing di kepala Marisa semakin terasa, apa lagi penyakit hipertensi yang sudah lama diderita Marisa membuatnya semakin sakit memikirkan perilaku putra semata wayangya.
••••