
Mobil Tegar melaju dengan kencang, hatinya sudah tak kuasa menahan api cemburu yang harus dipadamkan oleh penjelasan istrinya. Tegar masih tidak habis pikir kenapa Rana selalu menutupi masalahnya, tapi mengapa justru Devin hadir bagai pahlawan untuk Rana.
"Tidak Rana , tidak mungkin kamu kembali pada Devin. Apa mungkin kamu masih mencintainya?"
Tegar menggumam sendirian ketika mobilnya sudah memasuki area perumahan miliknya.
Tegar segera berlari meninggalkan mobil di halaman rumah, berharap segera menemukan sosok Rana, lalu menuntut penjelasan atas apa yang telah terjadi pada Rana.
Tegar memasuki rumah tanpa mengucap salam. Hatinya sudah terlalu kesal akan postingan yang Bryan tunjukkan padanya.
"Rana... Rana..."
Tegar menyisir semua ruangan rumahnya, biasanya Adriana sedang menonton TV, namun di ruang TV tidak Tegar temukan.
Tegar beralih ke dapur, mungkin saja Rana ada disana, namun tidak juga ia temukan. Harapan terakhirnya adalah sofa balkon yang terletak di lantai dua di depan kamar.
Ceklekkk...
Pintu kamar pun terbuka namun Adriana tidak ada, di toilet kamar pun tidak ada orang. Kemudian Tegar membuka pintu kamar yang menghadap balkon, dan benar saja Adriana ada disana sedang menikmati lamunan.
Adriana masih masih teringat akan kejadian tadi siang di caffe, matanya menerawang dengan pandangan kosong, sampai sampai Tegar datang pun ia tidak menyadarinya. Akhirnya Tegar berdiri tepat di hadapan Rana yang masih duduk di sofa.
"Mas udah pulang?"
Adriana segera bangkit dari duduknya, lalu meraih tangan Tegar untuk mencium punggung tangan suaminya.
"Rana, aku mau kamu jawab jujur."
__ADS_1
Tegar mengepalkan kedua tangannya menahan rasa kesal. Adriana pun merasa aneh akan raut wajah Tegar yang tak pernah semarah ini, andai saja Devin ada disana mungkin wajahnya sudah habis babak belur oleh kepalan tangan Tegar, sayangnya rasa kesal itu bercampur dengan rasa cintanya untuk Rana sehingga membuat Tegar harus sebisa mungkin menahan amarahnya.
"Mas kenapa? Ada masalah apa?"
Adriana masih tak mengerti akan sikap Tegar. Ia mengira Tegar masih tidak tahu akan kejadian tadi siang.
Tegar meraih lengan Adriana untuk membawanya duduk kembali di sofa, matanya menatap tajam Adriana, berusaha menyelidik apakah netra istrinya menyiratkan kebohongan atau tidak.
"Apa kamu masih mencintai Devin?"
Benar dugaan Rana bahwa suaminya pasti akan mengetahui kejadian tersebut. Pertanyaan Tegar membuat Rana tertunduk tidak berani menatapnya, bukan karena Adriana berbohong dan mencintai Devin, hanya saja Adriana tidak sanggup melihat gurat emosi di wajah Tegar yang nampak mengerikan. Apalagi Adriana merasa sangat bersalah sudah tidak terbuka pada suaminya.
"Nggak mas."
Adriana menggelengkan kepalanya dan masih dalam posisi tertunduk. Tegar meraih dagu Adriana, memaksa matanya saling menatap.
Dengan perasaan takut Adriana memberanikan diri untuk menatap Tegar.
"Apa aku terlalu bodoh hingga membuatmu tidak percaya bahwa aku mampu melindungi mu?"
"Tidak mas, bukan maksudku seperti itu."
"Lalu apa maksudmu menghadirkan Devin layaknya dewa penolong bagimu? Atau jangan jangan kalian sedang berselingkuh di belakangku, lalu muncul pengganggu seperti Arka."
Belum sempat Adriana menjelaskan kalimatnya sudah dipotong oleh Tegar tanpa ampun.
"Bukan mas, sama sekali bukan seperti itu kejadiannya. Aku berusaha menemui Arka sendirian dan tiba tiba Devin datang diluar sepengetahuanku."
__ADS_1
"Oh.. Selain Devin kamu rupanya janjian dengan laki laki lain lagi Rana, hebat kamu."
Tegar semakin menyudutkan Adriana dengan berbagai asumsinya.
"Mas jangan merendahkan aku seperti itu!"
Nada bicara Rana mulai meninggi, tak terima akan tuduhan Tegar bahwa dirinya berusaha berselingkuh dengan Devin ataupun Arka.
"Aku panik menerima pesan Arka yang akan mencelakai kamu. Kalau aku tidak menemuinya aku akui aku salah, aku tidak terbuka padamu mas tapi aku hanya tidak ingin terlalu banyak membebankan padamu. Kamu sudah cukup banyak berkorban untukku mas."
Adriana menangis meluapkan emosinya, memang sebelum Tegar datang pun suasana hatinya sudah tak menentu.
"Aku kecewa padamu Rana. Setidaknya anggap aku suamimu yang berhak tahu semua kesulitanmu. Kalau seperti ini berarti tidak ada artinya kehadiranku di hidupmu."
Adriana kembali tertunduk setelah melihat raut wajah Tegar yang penuh kekecewaan, padahal yang diinginkan Tegar hanyalah menjadi orang pertama yang akan diminta bantuan oleh istrinya. Namun keadaan berbeda, Adriana yang masih mengalami trauma di masa lalu membuatnya harus menjadi wanita yang tetap mandiri walau Tegar sudah siap segalanya untuknya.
Adriana masih merasakan sesak saat tangannya hendak meraih jemari Tegar, namun Tegar menghindar darinya, dan itu membuat hati Adriana semakin nyeri.
"Aku mohon mas maafkan aku. Sungguh tidak ada sedikitpun niatku untuk menduakanmu mas, apalagi dengan Devin, bahkan laki laki manapun."
Adriana masih berusaha menenangkan Tegar, walau usahanya sia sia. Sedikitpun Tegar tidak merespon penjelasan Adriana, hatinya teramat kecewa akan ketidak jujuran Adriana.
Akhirnya Tegar beranjak dari sofa tanpa sepatah katapun, lalu meninggalkan Adriana yang masih duduk disana.
Tangis Adriana sama sekali tidak mampu meluluhkan kekecewaan Tegar, entah apa yang harus Adriana perbuat untuk menebus kesalahannya serta meyakinkan kembali hati Tegar.
••••
__ADS_1
Yang suka vote yah😘