
Tidak terasa hari hari berganti terasa begitu cepat bagi Adriana. Setelah Tegar hadir dalam kehidupannya, rasanya sangat berbeda jauh saat Adriana baru saja bercerai dengan Devin. Dalam waktu enam bulan lamanya Adriana harus melawan rasa sakit yang Devin torehkan, Adriana harus berjuang sekuat tenaga dan tekadnya untuk tetap melanjutkan hidup.
Hari hari penuh kesedihan, kekecewaan dan luka sudah Adriana lalui sendiri. Adriana yang tak pernah lelah berjuang untuk hidup dan karirnya, ia tidak ingin terus menerus larut dalam masa lalu, sampai akhirnya ia dipertemukan dengan sosok Tegar yang sudah membuatnya kembali mempercayai cinta.
Tanpa terasa pernikahan Adriana akan berlangsung dua hari lagi. Entah mengapa Adriana begitu gugup menghadapai pernikahan keduanya. Padahal pernikahan kali ini tidak semewah saat pernikahannya bersama Devin, tapi rasa gugup yang Adriana rasakan melebihi rasa gugup saat bersama Devin.
Masih terbesit rasa minder dalam diri Adriana, wanita itu masih beranggapan kalau dirinya hanya seorang janda. Adriana tidak pernah mengungkapkannya lagi pada Tegar, karena ia tahu Tegar akan marah jika masih mengungkit tentang status, namun hal ini yang menjadi pemicu besar kegugupan Adriana saat menghadapi ijab qobul nanti.
"Mas rasanya aku gugup banget menghadapi pernikahan kita."
Ujar Adriana yang duduk berdampingan dengan Tegar di sebuah caffe untuk menikmati suasana sore berdua.
"Tenang sayang, kita berdoa semoga acara pernikahan kita akan berjalan lancar."
Tegar selalu berusaha mendamaikan hati Adriana dengan sikap kedewasaannya. Walaupun Tegar belum pernah menikah, berbeda pengalaman dengan Adriana, namun tidak menyurutkan wibawanya di mata Adriana.
"Itu pasti mas."
"Oh iya semalam mas gak bisa tidur, tiba tiba mikirin nanti kita pengen punya anak berapa?"
Tegar terkekeh dengan ucapannya sendiri. Apa yang diungkapkan Tegar memang benar adanya, semalaman dia pun tidak berhenti memikirkan masa depannya bersama Adriana.
"Udah kejauhan kamu mas mikirnya."
Adriana tersenyum geli mendengar pembicaraan tentang anak. Hati Adriana juga merindukan kandungannya saat bersama Devin. Andai saja tragedi keguguran itu tidak terjadi, mungkin Adriana sudah bisa merasakan bahagianya menjadi seorang ibu.
__ADS_1
"Pandangan hidup aku menerawang begitu jauh saat bersamamu Rana. Kamulah penyemangatku dan alasan utama untuk aku menjadi Tegar yang harus semakin Tegar menghadapi kehidupan."
Adriana merasa tersentuh akan kesungguhan Tegar.
"Mas, apa boleh aku bertanya?"
Pertanyaan yang telah lama ingin Adriana tanyakan mengenai masa lalu Tegar, namun Adriana tak pernah memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa sih yang gak boleh buat calon istri kesayangan mas."
Tegar mencubit hidung Adriana dengan gemas.
"Aku ingin tahu tentang masa lalu mas Tegar sebelum bersamaku."
Begitu lirih nada bicara yang Adriana sampaikan, menurutnya Tegar sudah tahu tentang kehidupan masa lalu Rana, tapi untuk Rana sendiri sama sekali tidak pernah mengetahui kisah cinta Tegar sebelum bersamanya.
Tegar begitu enggan membuka cerita di masa lalu.
"Penting mas."
Adriana semakin memaksa.
"Aku tidak ingin seperti kehidupan rumah tanggaku dulu, aku tidak ingin kamu menikahiku dengan masa lalu yang belum usai mas. Aku takut jika masa lalumu datang kembali seperti..."
Adriana tertunduk tidak berani melanjutkan kalimatnya untuk menyebutkan nama Devin di hadapan Tegar.
__ADS_1
Wajar saja jika Adriana menanyakan kehidupan masa lalu Tegar, karena ia tidak ingin masalah yang dideritanya saat bersama Devin terjadi kembali. Adriana pun masih berpikir realistis bahwa laki laki setampan dan semapan Tegar tidak mungkin tidak ada cerita di masa lalu.
"Adriana, coba tatap aku."
Tegar meraih kedua telapak tangan Adriana dengan tatapan yang serius, membuat Adriana terpaksa membalas tatapan Tegar.
"Aku akui aku pernah memiliki masa lalu jauh sebelum mengenalmu, hanya saja aku tidak ingin menceritakan lebih banyak lagi padamu Rana, karena yang aku inginkan saat ini dan selamanya kita akan bersama saling melepaskan masa lalu. Kita tutup lembaran lama kita, hanya bersamamu semua semangatku kembali lagi, berbeda dengan wanita sebelum kamu, dan satu hal yang harus kamu tahu Rana, jangan pernah ragukan cintaku untukmu. Apapun nanti ujian dan cobaan rumah tangga kita, jangan pernah lepaskan ikatan pernikahan kita Rana."
Tegar begitu serius akan perkataannya, menatap mata Adriana begitu lekat. Andai saja mereka sudah syah pastinya Tegar akan membawa Adriana dalam dekapannya.
"Maafkan aku mas yang sudah meragukan cintamu."
Adriana menyesali pertanyaan yang ia ajukan untuk Tegar, namun hatinya merasakan ketenangan setelah apa yang diucapkan oleh Tegar.
"Wajar kalau kamu nanya seperti itu, karena luka di masa lalumu belum sepenuhnya sembuh, dan biarkan lelaki di hadapanmu ini yang akan mengobati semua luka yang kamu rasakan."
"Iya mas. Terimakasih mas Tegar selalu berusaha mengertikan aku."
Adriana menggenggam erat jemari kekar milik Tegar dengan senyuman yang begitu tulus.
"Tahu gak? Mas jadi gak sabar nunggu dua hari lagi."
Tegar mengedipkan matanya di depan Adriana dengan seringai nakal yang menggoda calon istrinya. Entah kenapa Adriana justru menikmati godaan Tegar yang begitu usil saat bersamanya.
••••
__ADS_1
Like and comment yah my lovely reader 😘😘