Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Panggil aku Mas Tegar


__ADS_3

Satu bulan telah berlalu setelah pertemuan Adriana dengan Tegar. Kini Adriana tengah asyik menggambar desain interior di ruang kerja, jemarinya dengan pandai bergerak mengukir gambar di setiap sudut ruangan hotel yang akan ia rubah secara total.


Adriana benar benar ingin memulai hidup baru dengan desain hotel yang baru. Ia sudah mentargetkan dalam dua bulan ke depan hotelnya harus dalam kondisi tampilan baru yang lebih fresh, lebih nuansa anak muda agar pengunjung tidak merasa jenuh.


Bibir Adriana melengkungkan sebuah senyuman setelah ia pandangi lekat lekat hasil desainnya, tergambar dalam imajinasinya yang sudah tak sabar mengaplikasikan desain hotel tersebut.


Tiba-tiba terdengar dering pesawat telpon di meja Adriana.


"Selamat sore Bu Adriana, ada tamu dari team suplier, ingin menemui Ibu." suara lembut Nina membuyarkan daya khayal desain Adriana.


"Suplier dari vendor apa? Coba kamu tanyakan dulu Nina." sepertinya Adriana menginginkan informasi lebih detail lagi dari Nina.


"Sudah Bu, tapi beliau tidak ingin memberitahukan dulu nama perusahaannya. Tapi, bapak ini juga pernah ke sini Bu." ujar Nina berusaha menjelaskan.


Entah kenapa Adriana merasa ada yang aneh, ia mencoba menerka-nerka siapa yang ingin menemuinya. Batinnya seperti takut akan kedatangan orang orang di masa lalu.


"Antarkan saja ke ruangan saya Nina, minta tolong ditemani sama security juga ya." tidak ada pilihan lain lagi untuk Adriana, akhirnya ia meminta security untuk mengantar tamunya. Karena, Adriana takut sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.


•••


Tok Tok Tok. . .


"Masuk." sahut Adriana dari dalam ruangan.


"Ibu Adriana, ada tamu untuk Ibu." ternyata security hotel yang mengetuk pintu ruangan Adriana. Sementara tamunya masih berada di luar pintu.


"Siapa sih Pak? Aneh banget kayanya." Adriana semakin penasaran, lalu bangkit dari kursi kerjanya dengan pandangan menyelidik ke arah pintu ruangan.


"Tegar Prasetya." ucap pria tampan yang tiba-tiba saja memasuki ruangan Adriana.

__ADS_1


Laki-laki tampan dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi memasuki ruangan Adriana. Tegar dengan entengnya duduk di sofa warna abu-abu yang sudah tersedia di sudut ruangan.


Adriana sangat terkejut akan kedatangan Tegar yang tiba-tiba, lalu Adriana meminta security untuk meninggalkan mereka berdua dalam ruangan dengan kondisi pintu tertutup.


Adriana kembali terkejut akan sikap Tegar yang tak seasyik pertama bertemu di taman hotel, raut wajahnya tampak begitu serius dengan pandangan yang selalu terarah pada Adriana.


Dengan perasaan sedikit gugup Adriana melangkah menuju sofa yang terletak di sebelah meja kerjanya.


"Apa maksud dari kedatangan Bapak Tegar?" tanya Adriana yang mencoba memberanikan diri menanyakan maksud kedatangan Tegar.


Adriana tak sanggup akan tatapan tajam Tegar yang cukup mengerikan. Sementara Tegar masih terdiam, tangan kananya merogoh benda kotak berwarna putih yang ada di dalam saku celana, lalu ia letakkan di atas meja.


"Menikahlah denganku Rana." pinta Tegar setelah meletakkan kotak putih yang berisi cincin mutiara, dengan tegas Tegar mengutarakan maksud kedatangannya di depan Adriana.


"Saya tidak mengerti maksud Bapak Tegar barusan." Adriana masih tak percaya akan lamaran yang diajukan oleh Tegar. Secara tidak langsung Tegar sudah mau datang jauh jauh dari Jakarta hanya untuk melamar Adriana.


"Apa kamu masih mencintai Devin?" pertanyaan Tegar terasa menohok jantung Adriana.


Darimana Tegar tahu bahwa Adriana pernah menjalin hubungan pernikahan dengan Devin?


"Bapak Tegar, sebaiknya Bapak pikirkan kembali niatan Bapak barusan." nada bicara Adriana terdengar begitu lirih dengan wajah tertunduk.


"Aku tahu kamu mantan istri dari Devin Aditya Pratama. Aku tahu semua tentang dirimu Rana, karena permintaanku ini sungguh sungguh. Maaf kalau aku sudah lancang secara diam diam mencari informasi tentang kamu. Tapi, sungguh niatanku ini serius, sama sekali tidak main main."


Tegar menatap lekat wajah Adriana yang tiba-tiba berubah merah padam. Ada semburat kesedihan yang begitu lekat dari raut wajahnya.


"Apa Bapak Tegar belum pernah menikah?"


Tiba-tiba pertanyaan tersebut keluar dari bibir mungil Adriana, lalu Tegar  hanya membalas dengan satu anggukan kepala.

__ADS_1


"Saya sangat menghargai niatan tulus Bapak, tapi saya belum mengenal Bapak lebih jauh. Lagipula status kita berbeda Pak." tiba-tiba Adriana memberikan jeda kalimatnya.


"Jangan menikahi seorang janda, wanita single masih banyak di luar sana. Saya takut status saya akan menjadi beban sosial untuk seorang bapak Tegar Prasetya." ungkap Adriana, merasa tak sepadan untuk Tegar.


"Saya sudah pikirkan itu baik baik Rana." potong Tegar.


"Bapak Tegar bisa saja menerima status saya, tapi belum tentu dengan orang tua Bapak." kilah Adriana lagi, merasa rendah diri di hadapan Tegar.


"Orangtuaku sudah lama meninggal, sama halnya dengan kamu. Kita sama sama tidak memiliki orangtua. Aku mohon padamu Rana, pertimbangkan lagi niatan baikku ini. Jadikan aku yang terakhir di hidupmu."


Adriana hanya termangu dengan apa yang dituturkan oleh laki-laki yang sudah mengintainya dalam satu bulan ini.


"Berikan aku waktu untuk kita saling mengenal dulu satu sama lain. Kalau di tengah jalan Bapak tidak menyukaiku, biar nantinya bisa dengan mudah Bapak menarik kembali permintaan Bapak hari ini." sepertinya Adriana masih begitu takut untuk memulai hubungan baru.


"Baiklah kalau kamu butuh waktu kita boleh saling mengenal satu sama lain dulu, perlu kamu tahu bahwa aku bukan tipe laki-laki yang mudah menarik keputusan sendiri Rana."


Adriana masih tetap diam mendengarkan kalimat yang disampaikan Tegar, namun hatinya cukup lega kalau Tegar menerima usulan Adriana untuk saling mengenal terlebih dahulu.


"Aku sudah mengabulkan permintaanmu untuk saling mengenal terlebih dahulu, kini giliran aku yang meminta syarat padamu." ucap Tegar dengan aura tegasnya.


Sejenak Adriana berpikir akan syarat apa yang akan diajukan oleh Tegar.


"Apa itu?" tanya Adriana.


"Panggil aku Mas Tegar selama masa perkenalan kita." ungkap Tegar dengan nada begitu enteng.


••••


Sekeras mungkin aku menghindar, hingga takdir menyatukan, takdir pula yang mempermainkan.

__ADS_1


...Miss Viona...


__ADS_2