Takdir Kedua Adriana

Takdir Kedua Adriana
Hanya bentuk perhatian dokter


__ADS_3

Adriana memasuki gedung kantor berlantai tiga. Tujuannya untuk menemui Frans. Klien yang pernah Adriana temui bersama Vian.


Kedatangan Adriana ke kantor Frans  untuk melanjutkan perihal projek pembangunan wisata yang akan dibangun di kawasan kota Bogor.


Kedua bola mata Adriana tampak menikmati suasana ruangan Frans dengan desain minimalis dengan sentuhan warna nuansa mocca.


Tiba-tiba kedua bola mata Adriana tersentak pada foto yang diletakkan di samping komputer milik Frans. Foto wanita cantik yang tengah menggendong bayi perempuan yang sangat lucu, mungkin usia bayi dalam gendongannya kisaran sepuluh bulan.


Yang membuat kedua bola mata Adriana tersentak adalah wajah wanita dalam foto rersebut. Foto itu menampilkan wajah wanita yang pernah Adriana temui seusai pertemuan pertamanya dengan Frans.


Begitu banyak pertanyaan yang terlintas di kepala Adriana saat ini. Wajah dalam foto itu tidak lain adalah wanita yang pernah bergelayut manja di lengan suaminya.


Tiba-tiba suara pintu terbuka membuyarkan lamunan Adriana.


"Maaf nak Adriana sudah membuatmu menunggu."


Ujar Frans lalu keduanya berjabat tangan. Mereka mulai membahas pola desain yang diinginkan, namun mata Adriana masih fokus pada foto yang terpampang di atas meja kerja Frans.


"Apa itu anak bapak Frans?"


Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, akhirnya Adriana memberanikan diri untuk bertanya. Rasa ingin tahunya semakin menguasai pikiran Adriana.


Bayangkan saja, wanita mana yang tidak ingin tahu akan wanita yang sudah berani bermanja dengan suaminya.


"Itu putri saya satu-satunya nak Adriana."


Frans menjawab pertanyaan Adriana dengan jujur.


"Apa bayi yang digendong itu cucu bapak Frans?"


Adriana semakin ingin tahu lebih dalam.


"Iya nak."


Frans hanya tersenyum datar dengan tatapan seolah penuh luka.


"Cantik ya pak."


Harus Adriana akui kalau kecantikan Jesi memang luar biasa.


"Sayang nasibnya tak seindah parasnya."


Ujar Frans sambil tersenyum masam di hadapan Adriana.


"Maaf pak Frans, saya tidak bermaksud menyinggung perasaan bapak."


Adriana merasa bersalah akan pertanyaan yang telah dia lontarkan pada pria paruh baya tersebut.


"Apa nak Adriana sudah menikah?"

__ADS_1


Kini giliran Frans yang balik bertanya tentang pribadi Adriana.


"Alhamdulillah sudah pak."


Dengan jujur Adriana menjawab pertanyaan Frans diiringi senyum simpul dari wajah manisnya.


"Maaf ya Adriana kalau tempo hari saya mengira kamu istrinya Vian."


Rupanya Frans masih merasa tidak enak akan sikap lancangnya saat pertama bertemu dengan Adriana.


"Ah lupakan saja pak Frans. Namanya juga orang tidak tahu. Wajar kan?"


Adriana seolah tidak terjadi apapun dengan hatinya. Sebenarnya hati desainer handal itu sudah remuk redam ketika dilihatnya wajah Jesi disana. Meski hanya dalam foto, tapi entah kenapa memori Adriana seperti memutar kembali bagaimana Jesi bermanja di samping Devin.


Tuhan. . .


Mengapa harus seperti ini?


Siapa dia sebenarnya?


Hati Adriana semakin bertanya-tanya. Namun semua tanya itu harus Adriana kesampingkan terlebih dahulu, karena ini bukan saatnya untuk menyelesaikan urusan hatinya.


"Ayo pak kita mulai saja pembahasan skema desain projek bapak Frans."


Ajak Adriana sambil membuka monitor laptop miliknya. Kemudian mereka mulai membicarakan projek yang akan Frans percayakan pada Permata Gallery.


•••


Kenapa Semua ini terasa seperti lingkaran setan?


Batin Adriana tak hentinya meracau, menerka-nerka atas semua yang telah terjadi akan hubungannya bersama Devin.


Wanita yang bersanding dengan Devin tidak lain putri semata wayang Frans. Sedangkan Frans adalah teman baik dari orang tua Vian, dan Vian satu angkatan dengan Devin saat kuliah dulu.


"Sebenarnya ada hubungan apa mas kamu dengan perempuan itu?"


Gumam Adriana sambil mengemudikan honda mobilio putih  kesayangannya.


Lalu siapa ayah dari bayi yang digendong wanita itu?


Adriana semakin dirundung rasa gelisah. Pikirannya semakin tak menentu.


Apa mungkin ada kisah diantara mereka yang Devin tutupi dari Adriana?


Apapun kisah diantara mereka seolah Adriana ingin menjadi perempuan yang sedikit egois. Seolah Adriana tidak ingin tahu akan kisah Devin bersama Jesi.


Adriana hanya menginginkan Devin tetap di sampingnya selama masa sulit di tengah kehamilannya.


"Sayang kita harus kuat. Walau kelak nanti kamu tidak akan hidup bersama papahmu nak."

__ADS_1


Adriana mengusap perutnya yang masih terlihat rata. Sesaat terlintas gambaran nasib pernikahannya.


Sering terbesit kata cerai di pikiran Adriana, namun selalu Adriana coba tepiskan sebelum semuanya jelas.


Adriana tahu perceraian adalah tindakan yang tidak diharamkan agama. Namun dia juga tahu kalau perceraian adalah salah satu tindakan tercela di mata Tuhan.


Semakin Adriana berpikir keras kepalanya semakin merasakan pening yang tak terkira. Mobil yang Adriana kendarai menepi ke sisi jalan untuk mencari obat pereda mual dan pusing yang telah diberikan oleh dokter Chandra.


Terdengar ketukan dibalik jendela mobil milik Adriana, membuat sang pemilik mobil terkejut. Tangan kekar berhias jam tangan branded membuat mata Adriana terbelalak, lalu Adriana menurunkan kaca mobil.


"Dokter!"


"Hampir aku jantungan tahu dok."


Sosok Chandra masih berdiri di samping kiri mobil Adriana.


"Saya kaget melihat mobil ibu Adriana terparkir di tempat sepi seperti ini."


Adriana membukakan pintu sebelah kiri mobilnya, seakan menyuruh dokter tampan bermata sipit itu masuk ke dalam mobil Adriana.


"Tiba-tiba saya merasa mual dan pusing dok."


Keluh Adriana sambil mengatur nafasnya.


"Harusnya ibu Adriana tidak usah menyetir mobil dulu. Saya sudah pernah sarankan pada ibu untuk istrahat, jangan terlalu banyak aktivitas. Kasihan kondisi janin ibu."


Chandra kembali mengingatkan kandungan Adriana.


"Iya dok, tapi saya tidak bisa menunda pekerjaan. Projek beberapa perusahaan yang sudah  dipercayakan pada saya harus segera saya garap. Mengingat masih banyak mandor dan tukang yang sudah menunggu proses pembangunan. Setidaknya dari situ mereka akan mendapatkan rupiah untuk menghidupi keluarga mereka."


Sesaat Chandra tertegun akan penuturan Adriana. Jawaban Adriana sungguh di luar dugaan. Chandra pikir Adriana begitu antusias dalam karirnya semata hanya untuk mencari uang untuk gaya hidupnya, ternyata dia sudah salah menilai.


Wanita di sampingnya sungguh memiliki hati yang begitu mulia dibalik wajah ayu berbalut hijab. Sesaat Chandra semakin merasa iri akan status Devin yang telah menjadi suami wanita sebaik Adriana.


"Bagaimana kalau saya antar pulang ibu Adriana? Biar mobil saya nanti saya titipkan saja."


Chandra yang tidak tega melihat kondisi Adriana berusaha menawarkan bantuan.


"Tidak usah pak Chandra, bentar lagi juga enakan kok. Saya masih kuat nyetir sendiri."


Adriana masih bersikukuh untuk menyetir sendiri. Sementara Chandra masih tidak tega melihat wajah pasiennya pucat dengan keringat dingin di dahinya.


"Saya mohon pak dokter. Kalau saya pulang bersama bapak rasanya tidak baik bagi saya yang sudah berstatus menikah."


Adriana memohon dengan wajah memelas pada Chandra.


"Baiklah, tapi sebagai dokter izinkan saya menjaga keselamatan pasiennya. Saya akan mengikuti mobil ibu Adriana dari belakang. Saya mohon."


Chandra menangkupkan kedua telapak tangannya di hadapan Adriana. Wanita itu pun kemudian menganggukkan kepalanya. Chandra segera keluar dari mobil Adriana kemudian bergegas menuju mobil miliknya untuk memastikan Adriana pulang selamat.

__ADS_1


••••


__ADS_2