
Tinggalkan jejak kalian dengan klik like 😉
Suasana begitu tegang di depan pintu ruang persalinan. Devin, Hans dan bi Ijah turut gelisah menunggu proses persalinan Adriana. Sementara Tegar masih setia mendampingi sang istri yang tengah berjuang melahirkan benih cintanya.
Wajah Rana pucat bercampur keringat dingin akibat menahan sakit di perutnya, hatinya selalu mengucap dzikir kepada Illahi untuk meminta dimudahkan melalui proses ini. Rana berharap bayi dalam kandungannya lahir dengan selamat.
Tegar tak hentinya membisikkan ayat-ayat suci alqur'an di telinga Rana dengan begitu lirih.
"Yang kuat sayang.. Mas yakin kamu bisa melalui ini, ada aku yang selalu di sampingmu sayang."
Tegar semakin mengeratkan genggaman tangannya di jemari Rana, berusaha memberikan kekuatan untuk sang istri.
"Ibu Adriana dorong lagi yang kuat Bu, kepala dede bayinya sudah terlihat."
Asisten bidan yang menangani Rana mencoba memberikan intruksi, karena sebentar lagi buah hati Rana akan lahi.
Adriana menggenggam erat jemari Tegar dengan penuh kekuatan, mencoba mengumpulkan tenaga, dan seketika itu tangisan bayi terdengar.
Rana sangat terharu, dan menangis bahagia. Begitupun dengan Tegar yang langsung mencium puncak kepala sang istri, merasakan bahagia yang tak terkira. Kini, Tegar resmi menyandang status seorang ayah.
"Alhamdulillah ya Allah... Engkau mudahkan jalannya." bisik Tegar sambil bersujud syukur di dalam ruang persalinan.
"Bayinya seorang jagoan, Bu Adriana." ujar ibu bidan memberitahukan jenis kelamin buah hati Rana.
Betapa bahagianya hati Rana saat mendengar informasi dari ibu bidan, karena Rana memang menginginkan seorang anak laki-laki. Kemudian asisten bidan bergegas membersihkan Tegar junior.
"Bayinya sehat Pak Tegar, beratnya 3.7 kg dan panjang 50cm." ujar perawat menginformasikan tubuh mungil Tegar junior.
Kemudian Tegar mendekat untuk melihat putranya yang masih menangis kencang dalam gendongan perawat.
"Assalamualaikum Nak, ini Papah. Selamat datang di dunia ya sayang." bisik Tegar dengan kedua bola mata berkaca-kaca. Lalu Tegar membisikkan adzan di telinga putra tercintanya.
Pemandangan yang sangat menyentuh hati Adriana saat melihat Tegar yang telah resmi menjadi seorang ayah. Seutas senyum merekah dari bibir Adriana, menyiratkan kebahagiaan tak terkira.
"Sus, apa boleh saya menggendongnya?" Tegar meminta suster untuk memberikan putranya.
"Boleh Pak, tapi hati-hati ya." suster mengangkat tubuh mungil yang masih menangis, lalu diberikan ke dalam gendongan Tegar.
"Sayang, ini Mamah." ucap Tegar mendekatkan putranya pada Rana.
__ADS_1
Pria itu ingin mengenalkan buah hatinya dengan sang mamah yang masih belum mampu mengangkat tubuhnya untuk bersandar di kepala ranjang.
"Mas, aku bahagia." ungkap Rana sambil menatap wajah anaknya.
Rana mencoba menyelidik raut wajah putranya untuk mencari tingkat kemiripan putranya. Apakah lebih dominan pada Tegar? Atau justru lebih dominan dirinya.
"Mukanya kok kamu banget ya Mas."
Rana sedikit kecewa, harapannya lebih banyak mirip dirinya, dan pernyataan Rana barusan membuat Tegar terkekeh.
"Nggak ah, tuh lihat keningnya agak jenong kaya kamu." Tegar mengelak, mencoba mencairkan suasana.
"Iya giliran jenong kaya aku, tapi semuanya kamu banget Mas." protes Rana, masih meggerutu akan kemiripan putranya dengan papahnya.
"Itu tandanya cinta Mas tuh gede banget buat kamu, jadi bayinya mirip banget kaya aku." Pernyataan Tegar membuat Rana terkekeh.
"Ngaco banget sih kamu Mas." timpal Rana dengan sedikit tawa.
Kemudian suster meminta putra Tegar untuk diberikan perawatan lebih, lalu Tegar menyerahkan putra kesayangannya pada suster.
•••
Tegar membuka pintu ruang persalinan, lalu Devin dan bi Ijah segera menghampiri Tegar.
"Alhamdulillah Bi semuanya selamat, dan bibi punya cucu laki-laki." ujar Tegar yang sudah menganggap bi Ijah seperti orangtuanya sendiri.
"Syukurlah Tuan, Bibi senang sekali mendengarnya. Apa boleh bibi masuk Tuan?"
Bi Ijah sudah tidak sabar ingin melihat wajah Tegar junior
"Masuk ajah Bi, tapi sepertinya Rana sedang istirahat. Kasihan dia kelelahan." Tegar sangat tidak tega akan kondisi istrinya yang masih terbaring lemas di ranjang.
"Iya tuan Bibi masuk dulu ya, soalnya udah gak sabar pengen ketemu cucu Bibi." raut wajah Bi ijah nampak begitu antusias ingin menemui buah hati majikannya.
"Selamat ya Bang." Devin menyodorkan tangannya untuk memberikan selamat pada Tegar. Namun, ekspresi Tegar sangat merasa heran akan panggilan Bang terhadap dirinya.
"Gue mau ngobrol sama lo Bang." tandas Devin.
Sikap Devin yang sekarang mengingatkan pada masa persahabatannya dulu, saat pertama mengenal Devin, jauh sebelum tragedi kematian Kiran.
__ADS_1
"Baiklah kita cari tempat dulu, biar nanti bi Ijah yang mendampingi Rana." respon Tegar terdengar santai.
Akhirnya Tegar melenggangkan langkahnya, mencari suasana hening di area rumah sakit. Pandangannya menemukan kursi kosong di area taman, walau penerangan di taman tersebut sedikit remang, tapi tak apa.
Mereka duduk berdua disana, dua laki-laki tampan dan mapan kini tengah membahas satu wanita yang sama-sama mereka cintai.
"Kedatangan gue ke rumah lo awalnya ingin meminta maaf atas semua masalah yang telah terjadi." Devin mulai buka suara, membuat dahi Tegar mengernyit tak percaya.
"Terlalu banyak kesalahan gue di masa lalu terhadap lo Bang, terhadap Kiran, dan juga Adriana." hati Tegar berusaha untuk santai saat mendengar pengakuan Devin.
"Lalu?" hanya itu respon Tegar. Ia menatap Devin yang tengah tertunduk malu.
"Sekarang gue sadar, mengapa Tuhan lebih milih lo untuk bersanding dengan Adriana. Karena, lo lebih pantas menjaganya. Berbeda dengan gue yang sudah banyak menyiakan hidupnya." ada perasaan sesal mendalam dari lubuj hati Devin, terlihat dari kedua bola matanya yang mulai berkaca-kaca.
Melihat Devin yang mulai menahan nafasnya, membuat Tegar menyentuh pundak kekar Devin.
"Dengerin gue Vin, mungkin Adriana sengaja Tuhan pilihkan untuk gue, dan cintanya harus berbelok ke lo dulu." bisik Tegar sambil mengelus pundak Devin.
"Mungkin ini skenario Tuhan Vin. Hadirnya Rana diantara gue dan lo, agar kita sadar bahwa kita ini masih sahabat seperti dulu. Hanya saja caranya yang terlalu kejam, tapi gue tidak menyalahkan itu semua setelah gue saksikan pengorbanan lo buat rumah tangga gue yang terancam oleh Lena. Gue sudah memaafkan semuanya Vin." ungkap Tegar dengan mata yang tertuju pada balutan luka Devin.
"Makasih Bang. Setidaknya gue bisa sedikit tenang sekarang, setelah Jesi meninggal gue selalu dihantui banyak rasa bersalah. Mulai dari almarhum Kiran, Jesi, sampai Adriana." Tegar langsung terkejut mendengar Jesi meninggal.
"Serius Vin, Jesi meninggal?" Devin hanya menganggukkan kepala.
"Innalillahiwainailayhirojiun, gue turut berduka Vin." ucap Tegar dengan kepala sedikit tertunduk.
"Iya Bang, akibat sakit asma yang dideritanya."
"Sabar Vin, gue yakin rencana Tuhan maha indah buat lo." Tegar menepuk bahu Devin, mencoba menenangkan hati Devin.
"Thanks ya Bang, dari dulu lo memang abang gue yang terbaik."
Tegar hanya tersenyum, lalu muncul Hans di belakang Tegar, dan meraih bahu kekar milik Tegar.
"Maafkan Om juga Nak Tegar, atas segala dosa Om di masa lalu tentang Kiran. Om masih merasa bersalah sampai detik ini, maafkan kami semua Nak." rupanya Hans juga selalu dihantui oleh perbuatannya di masa lalu.
"Iya Om, kami semua sudah ikhlas menerima suratan takdir kalau Kiran harus pergi. Hanya saja caranya yang harus tragis, tapi Rana sudah menyadarkanku bahwa kebencian hanya akan merusak hati." sepertinya Tegar masih mengingat nasehat Rana saat Tegar menceritakan tentang Kiran.
"Jaga dia baik baik Nak, Rana adalah sosok wanita yang nyaris sempurna. Hanya putra Om saja yang bodoh, sudah menyiakannya." Devin hanya mampu tersenyum masam mendengar ucapan ayahnya.
__ADS_1
"Justru Tegar yang bersyukur akan kebodohan putra Om Hans." ungkap Tegar sambil terkekeh sendiri akan ucapannya, lalu mereka tertawa dengan akrab, menikmati angin malam di tepi taman.
•••