
Seorang anak lelaki tengah bersimpuh di hadapan ayahnya menyesali semua perbuatan dan keputusan bodoh yang telah dilakukanny.
Tamparan keras dari Hans masih terasa begitu panas di pipi Devin, namun tak menyurutkan permintaan maafnya pada Hans. Devin masih tetap memohon.
Devin kini bersimpuh memeluk kaki Hans memohon pada Hans untuk memaafkan semua tindakan bodohnya. Devin kini pulang ke rumah orang tuanya, namun tak disambut hangat oleh Hans dan Marisa.
Terlalu banyak kesalahan yang sudah Devin buat. Sejak dulu putra semata wayangnya tidak lebih dari seorang pembangkang, apa lagi sejak Devin mengenal Jesi.
Jesi hanyalah pengaruh buruk untuk Devin, dan kini Devin datang kembali pada orang tuanya setelah dicurangi oleh istrinya sendiri.
"Kamu itu anak tidak tahu diuntung Devin! Ayah ini membesarkanmu dari kecil hingga dewasa. Semua kebutuhanmu ayah penuhi, tapi apa susahnya sih sekali saja ayah minta kamu nurut. Kalau saja kamu menuruti keinginan ayah, hidup kamu gak akan berantakan seperti ini!"
Hans sudah terlalu kecewa akan sikap Devin. Sebelum Devin memutuskan menikahi Jesi diam diam kondisi perusahaan Pratama Group sempat drop akibat management bisnisnya sudah tak terstruktur dan lepas kendali. Rupanya Jesi hanya mengeruk uang Devin untuk gaya hidupnya, dan ironisnya uang yang dipakai Jesi itu uang perusahaan.
"Sekarang kondisi perusahaan sudah mulai stabil lagi, seenaknya kamu mohon mohon datang kesini. Nikmati saja hidup kamu bersama wanita kebanggaanmu Vin."
Emosi Hans sudah tak terbendung lagi. Sementara Marisa sang ibunda hanya bisa diam tanpa kata, memang posisi putranya sendiri yang salah.
"Devin sudah menceraikan Jesi, dan Devin kesini bukan untuk memohon kembali ke perusahaan ayah."
Hans terkejut akan pernyataan bahwa putranya sudah menceraikan menantu yang tak pernah Hans inginkan.
"Maksud kamu?"
Hans meminta penjelasan lebih pada Devin.
"Rania bukan anak Devin."
Marisa dan Hans tercengang akan pengakuan Devin. Mereka tak menyangka Jesi sejauh itu menipu Devin.
"Dari mana kamu tahu Rania bukan anak mu?"
Devin berusaha mengumpulkan kekuatannya untuk menceritakan kejadian pahit yang menimpa Rania, hingga Rania tak tertolong.
"Rania meninggal, Rania jatuh dari tangga kehilangan banyak darah, dan saat itu Devin baru tahu golongan darah Rania dengan Devin berbeda."
Hans masih diam menuntut Devin untuk menceritakan lebih.
"Apa ayah tahu siapa yang mendonorkan darahnya untuk Rania? Adriana yah, Devin kesini ingin meminta bantuan ayah agar Adriana kembali bersama Devin."
Di kalimat terakhir tangis Devin pecah di hadapan kedua orang tuanya, membuat Marisa merasa tak tega menyaksikan putra semata wayangnya menangis menjerit, lalu diraihnya tubuh Devin untuk duduk berdampingan bersama sang ibunda.
__ADS_1
"Devin, kamu anggap Adriana itu apa? Seenaknya kamu buang dan kamu ingin mengambilnya lagi. Gak punya malu kamu."
Nada bicara Hans mulai mereda tak seemosi tadi.
"Devin tahu ayah, tapi Devin tak kuasa melepas Adriana. Devin baru menyadari betapa baiknya Adriana sebagai istri, Devin menyesal telah menjadi faktor utama pemicu gugurnya kandungan Adriana."
Marisa hanya mengelus elus punggung putranya, mencoba memberikan ketenangan.
"Kalau itu permintaan kamu ayah gak sanggup Vin, ayah tahu persis sikap Adriana sejak ayah mengenalnya dalam urusan pekerjaan. Adriana itu tidak sama dengan wanita pada umumnya, dari cara dia berpikir dan bertindak sudah dipastikan dia tidak akan pernah mau kembali sama kamu."
Hans seakan paham betul sifat mantan menantunya, menurut Hans Adriana adalah sosok wanita yang bwrprinsip, tidak akan mudah bagi Devin untuk membuat Adriana kembali.
"Apa kamu sudah coba minta rujuk sama Adriana?"
Giliran Marisa yang bertanya.
"Udah bu."
Dengan pandangan kosong Devin menjawab pertanyaan Marisa.
"Lalu bagaimana respon Adriana?"
Devin hanya menggelengkan kepalanya, sudah mampu Marisa terka dari jawaban Devin.
Mendengar penuturan sang ibu membuat Devin terperanjat. Masih ada setitik harapan untuknya dapat kembali bersama Adriana.
•••
Sebuah mobil mewah terparkir di halaman rumah Gilang, menampakkan sosok tampan yang turun dari mobil dengan balutan celana kain abu tua slimfit dan kemeja hitam yang sudah digulung sampai siku. Pergelangan tangan kanannya berhias arloji coklat tua, senada dengan sepatu kulit dengan harga selangit.
Tegar berjalan tergesa gesa memasuki rumah megah peninggalan orang tuanya.
"Eleuhhh eleuh ada tuan besar kasep datang."
sapa mang Amin dengan gaya bahasa sundanya yang kental.
"Mang Amin, Gilang kemana?"
Tegar langsung menanyakan keberadaan adiknya.
"Tuan kecil mah atuh lagi asyik pacaran."
__ADS_1
Mang Amin asal jawab, tapi jawaban yang jujur. Gilang sengaja cuti kerja hanya demi mengantar pacarnya ke singapur, karena pacar Gilang diterima kerja disana.
"Serius mang?"
Tegar yang buru buru ingin mengambil laptop yang dipinjam oleh adiknya sudah tak sabar mendengar jawaban yang sebenarnya dari mang Amin.
"Ih, si tuan mah dikasih tahu gak percayaan pisan. Selepas subuh tuan kecil udah pamit sama mamang sama bi Ijah, katanya kalau ada tuan besar nyariin laptop ada di kamar."
Tegar segera melangkah masuk menuju kamar Gilang.
"Eh tuan sebentar."
Teguran mang Amin kembali menghentikan langkah Tegar.
"Ada apa mang? Buruan."
Tegar yang terburu buru ingin mengambil laptop yang dipinjam Gilang sedikit kesal akan mang Amin.
"Beberapa waktu lalu ada neng Rana kesini nyari tuan besar."
Sesaat Tegar terhentak mendengar informasi yang diberikan oleh mang Amin.
"Serius mang?"
Mata Tegar langsung berbinar.
"Serius atuh tuan. Kasihan si neng Rana kesini sendirian nyariin tuan, sepertinya ada hal penting yang ingin disampaikan sama tuan besar."
Tegar segera menepuk bahu mang Amin kemudian berlalu meninggalkan rumah.
"Gak jadi ambil laptop mang, lain kali ajah."
"Yeh... Si tuan besar mah ya, ganteng ganteng juga gak jelas "
Celetuk mang Amin yang keheranan melihat sikap Tegar yang awalnya buru buru nyari laptop sekarang justru berbalik arah meninggalkan mang Amin.
Dengan langkah setengah berlari Tegar segera memasuki mobil, tatapan Tegar berbinar, hati Tegar bahagia saat mendengar kabar dari mang Amin kalau Adriana datang mencarinya.
"Adriana... I'm coming."
Bisik Tegar yang kemudian langsung menyalakan mesin mobil menuju perjalanan kota Bandung.
__ADS_1
••••
Happy reading 😉